Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Desa di Tengah Kota, Fakta Unik dari Bojonegoro

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 28 Mei 2025 | 20:44 WIB
DESA DI TENGAH KOTA: Kantor Pemkab Bojonegoro di tengah kota dikelilingi beberapa desa. (DOK. RADAR BOJONEGORO)
DESA DI TENGAH KOTA: Kantor Pemkab Bojonegoro di tengah kota dikelilingi beberapa desa. (DOK. RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika mendengar kata "ibukota kabupaten", bayangan kita biasanya melayang pada keramaian kota: gedung-gedung pemerintahan yang megah, lalu lintas padat, dan kawasan permukiman yang tertata urban.

Namun, Bojonegoro menghadirkan cerita yang berbeda—sebuah narasi unik tentang kota yang masih memelihara jiwanya sebagai desa.

Bojonegoro, kabupaten yang terletak di bagian barat Provinsi Jawa Timur, menyimpan potret administratif yang menarik. Ibukota kabupatennya berada di Kecamatan Bojonegoro, pusat segala aktivitas pemerintahan, ekonomi, dan sosial. Namun, siapa sangka, di tengah geliat kota ini, masih berdiri kokoh beberapa wilayah yang berstatus desa.

Ya, bukan kelurahan, tapi desa, meliputi Desa Kauman, Pacul, Sukorejo, Campurejo dan Kalirejo. Selain itu, wilayah ini juga membawahi kelurahan, di antaranya Jetak, Kepatihan, Kadipaten, Sumbang, Karangpacar, Ledok Kulon, Ledok Wetan.

Fakta ini menjadikan Kecamatan Bojonegoro sebagai kecamatan dengan wajah ganda. Di satu sisi sebagai pusat pemerintahan yang berkembang pesat, dan di sisi lain tetap mempertahankan identitas agrarisnya melalui eksistensi desa-desa tersebut.

Bayangkan saja, Desa Pacul dan Campurejo, yang hanya berjarak beberapa menit dari Alun-Alun Kota dan Kantor Pemkab Bojonegoro, masih memelihara struktur pemerintahan desa. Kepala desanya dipilih langsung oleh masyarakat, bukan ditunjuk pemerintah sebagaimana lurah. Suasana jalanan pun kerap memperlihatkan warga yang bertani, memelihara ternak, atau berkegiatan sosial khas pedesaan tapi di tengah pusat kota.

Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa ibukota Kabupaten Bojonegoro memang kota, namun tetap terasa desa. Ada harmoni yang menarik antara modernitas dan tradisi, antara beton dan sawah, antara struktur birokrasi modern dan nilai-nilai sosial yang khas pedesaan.

Dalam perspektif tata pemerintahan, hal ini mencerminkan bahwa transformasi status administratif tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan fisik kota. Mungkin karena alasan budaya, atau pertimbangan politik, atau mungkin warga masih nyaman dengan otonomi desa yang lebih akrab dan partisipatif.

Bojonegoro pun menjadi contoh menarik bagaimana pusat kota kabupaten bisa tetap “desa” dalam struktur administratifnya, tanpa kehilangan fungsi sebagai jantung pemerintahan dan aktivitas masyarakat.

Dan mungkin, di situlah keistimewaan Bojonegoro, sebuah kota yang tidak buru-buru meninggalkan akar pedesaannya. Sebuah kota yang masih setia pada wajah lamanya, bahkan saat ia perlahan menjadi wajah baru Jawa Timur bagian barat. (feb/msu)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Desa #kelurahan #pemkab bojonegoro #pemerintahan #harmoni #modernitas #bojonegoro #keramaian #Urban #kota