BLORA, Radar Bojonegoro - Warga terdampak proyek Bendungan Cabean keluhkan jalur proyek. Sebab, tak ada dalam rencana pembangunan. Dikhawatirkan jika proyek selesai, maka ada satu dusun jadi terisolasi.
Selain itu, warga juga berharap proses ganti rugi tanah warga yang terdampak bisa segera ada kepastian. Kepala Desa (Kades) Karanganyar, Kecamatan Todanan Imam Widodo mengungkapkan, jalan yang dilalui kendaraan pembangunan proyek bendungan dikeluhkan warga.
Sehingga kemarin (6/2), warga mengadu ke DPRD Blora dan melakukan audiensi dengan kontraktor proyek. ’’Khawatirnya dampaknya ke depan jika proyek selesai dan jadi potensi wisata, jika melalui jalan yang sudah ada warga Dusun Kalisoko akan terisolasi,” ungkapnya.
Sehingga, pihaknya mengusulkan pihak pemerintah dan kontraktor proyek bisa melakukan kajian ulang. Agar warga satu dusun tersebut tidak terpinggirkan dan perekonomian warga tidak terdampak.
’’Di perencanaan belum ada. Kami usulkan perubahan perencanaan di perencanan baru, ada angin segar, potensi dikabulkan usulan,” katanya. Selain itu, warga juga minta kejelasan ganti rugi yang bakal didapatkan.
Sebab, hingga saat ini belum ada tanda-tanda pasti nilai rupiah yang diterima warga. ’’Belum ada tanda-tanda turun, warga berharap segera ada kepastian,” ungkapnya.
Ketua DPRD Blora Mustopa mengungkapkan, keluhan warga telah ditampung dan akan segera ditindaklanjuti. Pihaknya telah menyarankan pihak rekanan yang mengerjakan proyek untuk membuat peta lokasi penghubung, warga Dusun Kalisoko.
Agar keinginan warga bisa terpenuhi. ’’Kami telah perintahkan juga agar jalan tersebut untuk sementara digrosok dulu, karena kondisinya rusak parah,” katanya. Terkait pembebasan lahan, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan BBWS Pamali Juwana, agar mempercepat proses appraisal.
Sehingga, warga merasa mendapat kepastian nilai ganti rugi yang bakal didapatkan. ’’Segera ke lapangan untuk mengukur kaitannya dengan ganti rugi tanah warga,” katanya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana