BLORA, Radar Bojonegoro – Petani tebu di Blora resah lantaran harga beli tebu giling yang dilakukan PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) terlalu rendah. Tidak sesuai Surat Keputusan (SK) Dirjen Perkebunan. Sehingga, merugikan petani.
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Blora Anton Sudibyo menjelaskan, kondisi tersebut sudah berlangsung lima tahun terakhir. PT GMM, menurutnya, tidak fair.
Lantaran tak membeli tebu dari petani dengan harga standar. ’’PT GMM membeli rendemen tebu giling lokal dengan Rp 67.000 per kuintal,” jelasnya. Padahal berdasar Surat Keputusan (SK) Dirjen Perkebunan, harga beli tebu dari petani dipatok Rp 69.000 per kuintal.
Sehingga, petani tebu merasa ada kejanggalan. ’’Kami sudah bersurat ke PT GMM, tapi tak direspons. Kemarin, kita wadul ke Bupati. Dan, ini kami wadul ke DPRD agar bisa difasilitasi untuk audiensi dengan PT GMM,” tuturnya.
Menurutnya, penerapan harga PT GMM membuat petani merugi. Sehingga, selama lima tahun belakangan petani tebu di Blora nyaris tak pernah untung. ’’Harapannya, agar Pabrik Gula (PG) PT GMM Blora mengevaluasi kembali harga rendemen tebu giling. Sehingga, nantinya membeli dari pertani dengan harga sesuai SK Dirjen Perkebunan,” bebernya.
Pihaknya pun meminta agar Direktur Utama (Dirut) PT GMM Blora segera dipanggil dan memberikan penjelasan kepada masyarakat untuk klarifikasi.
Wakil Ketua DPRD Blora Siswanto saat menerima perwakilan para petani tebu menyampaikan, bahwa Bupati Blora Arief Rohman berjanji akan mengajak para petani tebu Blora ke Direksi Bulog di Jakarta, usai pelantikan APTRI Blora masa jabatan 2024-2029 beberapa hari lalu.
Pihaknya akan menugaskan anggota Komisi B dan dinas terkait agar nantinya dapat memfasilitasi adanya dialog antara petani, pabrik, pemerintah, dan staekholder terkait. ’’Segera (audiensi) dilaksanakan ke Bulog Jakarta,” terangnya usai audiensi dengan para petani tebu, Kamis (16/5). (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana