RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Hidup di lingkungan sekitar lapangan eksplorasi minyak dan gas bumi (migas) tak selalu dimaknai sebagai berkah. Ancaman menurunnya kualitas udara hingga air menjadi faktor penting. Salah satunya di Lapangan Migas Sukowati turut Pad A dan Pad B Pertamina EP Sukowati di Desa Campurejo, Kecamatan Kota dan Desa Ngampel, Kecamatan Kapas.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) dalam penelitiannya menemukan rencana pengembangan teknologi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) di Lapangan Migas Sukowati yang dipromosikan sebagai bagian dari dekarbonisasi justru berpotensi memperpanjang umur industri migas dan memperluas bebas risiko yang ditanggung masyarakat sekitar.
‘’Bojonegoro merupakan wilayah ekspansi industri migas telah megubah bentang ruang hidup masyarakat melalui alih fungsi lahan, pembangunan infrastruktur ekstraktif, serta meningkatnya keteragntungan ekonomi daerah terhadap sektor migas,” kata Koordinator Nasional Jatam Melky Nahar Senin (12/10).
Baca Juga: Desak Pertamina Cairkan Anggaran Pembebasan Lahan, Lapangan Sukowati Field Tambah 2 Hektare
Melky mengatakan, berdasar pemantauan kualitas lingkungan di Pad A dan B serta fasilitas central processing area (CPA) Mudi menunjukkan sejumlah indikator yang patut jadi perhatian. Pada pengujian kualiatas air, nilai total dissolved solid (TDS) di Pad A tercatat mencapai 740 ppm dan pada kran air sekitar Pad B mencapai 816 ppm. Angka ini melampaui batas TDS air minum sebesar 500 ppm sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023.
‘’Pemantauan kualitas udara juga menemukan keberadaan karbon monoksida atau CO di sejumlah titik operasi. Meski tidak menunjukkan paparan akut pada saat pengukuran dilakukan, temuan harus dibaca bersamaan dengan catatan panjang insiden kebocoran gas dan keluhan warga yang telah berlangsung bertahun-tahun,” tegas pria yang juga berdomisili Bojonegoro itu.
Dia melanjutkan, kasus sekitar Lapangan Migas Sukowati menunjukan masyarakat telah lama hidup berdampingan dengan berbagai industri migas.
Sejak 2006 hingga 2025 tercatat berulang kali kebocoran gas hidrogen sulfida (H2S), ledakan sumur, kebakaran, semburan lumpur, pencemaran minyak, hingga gangguan kesehatan massal yang menyebabkan warga mengalami mual, pusing, sesak napas, hingga harus menjalani perawatan medis.
‘’Aspek lain yang menjadi perhatian adalah minimnya keterbukaan kepada masyarakat. Warga dan pemerintan desa sekitar mengaku tidak pernah mendapat penjelasan yang memadai tentang cara kerja CCUS, risiko yang mungkin muncul, mekanisme perlindungan masyarakat, maupun prosedur tanggap darurat jika terjadi kegagalan sistem,” ujar Melky.
Sementara itu, Ahmad Nashir Falachuddin warga Desa Campurejo, Kecamatan Kota mengatakan, belum ada perubahan mencolok terkait kualitas air.
Namun, tetap ada kekhawatiran tentang kualitas lingkungan yang ada. ‘’Kekhawatiran pasti ada, khususnya ada urusan udara yang kita rasakan,” katanya terpisah. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah