RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sering dijuluki sebagai salah satu "surganya jajanan pentol."
Mulai dari gang-gang sempit, depan sekolah, hingga pinggir jalan protokol, penjual pentol, sebutan untuk bakso aci atau bakso berbahan tepung kanji yang biasa dijual keliling atau menggunakan gerobak sederhana menjamur dalam jumlah yang luar biasa.
Fenomena menjamurnya penjual pentol di Bojonegoro bukan sekadar tren kuliner sesaat, melainkan mencerminkan perpaduan antara budaya jajanan, strategi ekonomi, dan peluang usaha yang sederhana namun menguntungkan.
1. Budaya Jajanan Lokal yang Mengakar Kuat
Salah satu faktor utama adalah tradisi. Pentol telah menjadi bagian integral dari kuliner khas Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, selama puluhan tahun.
Jajanan Merakyat Sejak Lama: Di Bojonegoro, pentol bukan barang baru. Terdapat kisah pedagang pentol legendaris yang sudah berjualan sejak era tahun 1980-an, menunjukkan bahwa pentol sudah lama mengakar sebagai jajanan favorit masyarakat, dari kalangan pelajar hingga pekerja.
Sifat Street Food yang Ideal: Pentol adalah makanan yang praktis, mudah dibawa, dan dapat dinikmati kapan saja. Karakteristik ini sangat cocok dengan mobilitas tinggi masyarakat.
2. Model Bisnis yang Sederhana dan Aksesibel
Menjual pentol menawarkan pintu masuk ke dunia usaha yang sangat rendah risikonya bagi banyak orang, menjadikannya pilihan utama sebagai mata pencaharian.
Modal Usaha Rendah: Dibandingkan dengan membuka restoran atau kafe, modal untuk memulai usaha pentol sangat kecil. Cukup dengan gerobak sederhana, kompor kecil, dan bahan baku yang relatif murah (tepung kanji dan sedikit daging), seseorang sudah bisa memulai usaha.
Margin Keuntungan Cepat: Meskipun harga jualnya murah (mulai dari Rp500 hingga Rp2.000 per butir), volume penjualan yang tinggi memungkinkan pedagang mendapatkan omzet harian yang cukup baik, bahkan ada penjual yang mampu meraih omzet jutaan rupiah per hari berkat antrean pembeli yang panjang.
Peluang Kerja Saat Sulit: Ketika sektor lain mengalami kesulitan (seperti saat pandemi COVID-19 atau kesulitan ekonomi), berdagang pentol menjadi alternatif pekerjaan yang cepat dan fleksibel, terutama bagi mereka yang kehilangan pekerjaan formal.
3. Inovasi Rasa dan Pemasaran yang Viral
Penjual pentol di Bojonegoro tidak hanya mengandalkan resep dasar, tetapi juga berinovasi untuk menarik pembeli, yang sering kali menjadi viral di media sosial dan kanal kuliner.
Keunikan Varian: Munculnya berbagai jenis pentol, seperti Pentol Konyol, Pentol Kriwil, hingga pentol dengan isian unik (puyuh, jamur, sawi gulung), menciptakan diferensiasi dan daya tarik tersendiri yang membuat konsumen rela mengantre.
Promosi dari Mulut ke Mulut (Word of Mouth): Kekuatan rasa yang khas dan pelayanan yang unik (misalnya teriakan khas penjual) telah membuat beberapa pedagang pentol di Bojonegoro menjadi ikon lokal, menarik pembeli dari dalam maupun luar kota.
Singkatnya, Bojonegoro memiliki banyak penjual pentol karena jajanan ini telah menjadi bagian dari budaya, menyediakan peluang bisnis yang mudah diakses dengan modal kecil dan potensi keuntungan yang menarik, serta didukung oleh inovasi dan promosi yang efektif di tengah masyarakat. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko