Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Cabang Dinas ESDM: Tanah Ambles di Blora Terjadi karena Faktor Hujan

Rahul Oscarra Duta • Sabtu, 10 Januari 2026 | 07:15 WIB
AMBLES: Anggota Polres Blora saat meninjau tanah ambles di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo beberapa waktu lalu.
AMBLES: Anggota Polres Blora saat meninjau tanah ambles di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo beberapa waktu lalu.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Wilayah Kendeng Selatan, menilai fenomena tanah ambles di kabupaten Blora diakibatkan tingginya intensitas hujan yang memengaruhi aliran sungai, yang mengakibatkan tanah di sekitar sungai mengalami penurunan.

"Terkait amblesan atau gerakan tanah, dipicu karena peningkatan intensitas curah hujan yang tinggi," ujar Plt Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Hadi Susanto. Menurutnya, di wilayah kabupaten Blora tidak terdapat pertemuan lempeng yang mengakibatkan tanah ambles.

Lalu, terkait kondisi geologi sendiri ESDM menyebut kabupaten Blora memiliki beraneka ragam kontur tanah. "Untuk di Blora tidak ada pertemuan lempeng yang seperti dikhawatirkan, kebanyakan amblesan akibat zona jenuh, yang dipicu intensitas hujan dan aliran sungai," terangnya.

Selanjutnya, Hadi menilai, bahwa pada titik-titik yang dikabarkan mengalami fenomena tanah ambles, tidak memiliki catatan ada aliran sungai bawah tanah. Namun, hal itu perlu ada penelitian yang lebih mendalam.

"Untuk aliran sungai bawah tanah, tidak ada. Terkecuali pada KBAK penelitian (Kawasan bentang alam karst). Itu pun harus ada penelitian yang lebih detail dan komprehensif," katanya.

Di sisi lain, Hadi mengatakan, terkait ekploitasi pengeboran minyak di Kabupaten Blora, tidak dapat mengakibatkan penurunan tanah.

Pasalnya, penurunan tanah yang diakibatkan aktivitas pengeboran hanya terjadi saat ada ekploitasi secara berlebihan. "Untuk pengeboran tidak banyak dampak signifikan, namun yang berdampak tentunya apabila aktivitas eksploitasi air tanah atau minyak yang berlebihan. Untuk tingkat ekploitasi minyak itu harus ada kajian yang mendalam," terangnya.

Sementara itu, catatan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora menyebutkan, terdapat dua kecamatan yang mengalami fenomena tanah gerak. Yaitu, Kecamatan Tunjungan dan Kecamatan Banjarejo.

Pada Kecamatan Tunjungan, pergerakan tanah terjadi di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup. Peristiwa tersebut menyebabkan penurunan tanah sedalam 15 hingga 30 sentimeter dengan panjang rekahan sekitar 100 meter.

Sementara, untuk di Kecamatan Banjarejo, pergerakan tanah terjadi di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto. Penurunan tanah mencapai sekitar 50 sentimeter, dengan panjang rekahan sekitar 200 meter. (hul/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#esdm #curah hujan #pengeboran minyak #Sungai #Hujan #cabang dinas #tanah ambles #ambles #intensitas hujan #bpbd #kendeng #Dinas ESDM #blora #minyak