Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengapa Pelaku Judi Online Enggan Mengaku Berjudi? Ilusi, Pembenaran, dan Jerat Candu

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 30 Juli 2025 | 03:10 WIB
MENDEKAM DI TAHANAN: Kapolres melihatkan barang bukti judi online. Dua tersangka (tengah) judi togel online dan slot pragmatic play. (IRVAN RAMADAN/RDR.BJN)
MENDEKAM DI TAHANAN: Kapolres melihatkan barang bukti judi online. Dua tersangka (tengah) judi togel online dan slot pragmatic play. (IRVAN RAMADAN/RDR.BJN)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Fenomena judi online (judol) di Indonesia terus menjadi sorotan. Meskipun dampak buruknya sudah terkuak jelas — mulai dari kebangkrutan finansial hingga hancurnya rumah tangga — para pelakunya seringkali menunjukkan pola yang menarik: mereka memiliki segudang alasan dan enggan mengakui bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya adalah perjudian.

Mengapa demikian? Penolakan ini berakar dari kombinasi kompleks antara psikologi manusia, strategi adaptasi kognitif, dan jerat adiksi yang mendalam.

Ilusi Kontrol dan Keterampilan: Bukan Judi, tapi "Analisis"

Salah satu alasan paling umum mengapa pelaku judol menolak disebut berjudi adalah karena mereka membangun ilusi kontrol dan keterampilan atas aktivitas mereka. Mereka seringkali tidak melihatnya sebagai taruhan buta, melainkan sebagai sebuah "investasi," "analisis," atau bahkan "pekerjaan sampingan."

"Saya Punya Strategi Khusus": Pelaku sering meyakini bahwa mereka memiliki rumus, pola, atau metode tertentu untuk "memprediksi" hasil. Misalnya, dalam permainan slot, mereka mungkin percaya ada jam-jam tertentu yang "gacor" atau kombinasi tombol yang bisa memicu kemenangan. Padahal, sistem di balik judi online didasarkan pada algoritma Random Number Generator (RNG) yang memastikan setiap putaran adalah murni acak dan tidak bisa diprediksi.

"Ini Bukan Keberuntungan, Tapi Analisis Data": Terutama pada jenis judi seperti taruhan olahraga atau trading ilegal yang menyerupai trading saham, pelaku bisa merasa bahwa mereka sedang melakukan "analisis data" atau "riset" untuk membuat keputusan. Mereka mungkin membaca statistik tim atau grafik, padahal hasil akhirnya tetap bergantung pada faktor acak yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.

Merasa Lebih Pintar dari Sistem: Keyakinan bahwa mereka bisa "mengalahkan sistem" atau "mengakali" developer permainan adalah bentuk arogansi kognitif yang membuat mereka merasa superior dan bukan sekadar berjudi.

Pembenaran Diri dan Rasionalisasi: Menutup Mata dari Realita

Manusia memiliki mekanisme psikologis untuk melindungi diri dari realita yang menyakitkan atau bertentangan dengan self-image mereka. Dalam kasus judol, ini termanifestasi sebagai pembenaran diri (self-justification) dan rasionalisasi.

"Ini Cuma Hiburan / Buang Stres": Pada awalnya, banyak yang memulai dengan alasan "sekadar hiburan" atau "pelepas penat". Argumen ini digunakan untuk mengecilkan skala masalah dan menolak label "penjudi" yang berkonotasi negatif. Mereka mungkin membandingkannya dengan hobi lain yang juga mengeluarkan uang, padahal substansinya berbeda jauh.

"Saya Hanya Sedang Sial, Besok Pasti Balik Modal": Setelah mengalami kekalahan, alih-alih berhenti, mereka justru terjebak dalam 'chasing losses' atau berusaha mengejar kerugian. Mereka merasionalisasi bahwa kekalahan itu hanyalah "kesialan sesaat" dan kemenangan besar "pasti akan datang" untuk menutupi semua kerugian. Ini adalah siklus berbahaya yang kerap membuat mereka terjerat utang.

"Semua Orang Juga Melakukan Ini": Dalam beberapa lingkaran sosial, judi online bisa menjadi aktivitas yang umum. Pelaku mungkin membenarkan tindakan mereka dengan mengatakan bahwa "semua teman saya juga main" atau "ini sudah biasa," sehingga menormalisasi perilaku adiktif tersebut.

Menolak Stigma Sosial: Perjudian memiliki stigma negatif yang kuat di masyarakat, sering dikaitkan dengan kemiskinan, kehancuran moral, dan masalah hukum. Dengan menolak disebut "berjudi," pelaku berusaha menjaga citra diri mereka dan menghindari penilaian negatif dari keluarga, teman, atau masyarakat.

Jerat Adiksi dan Perubahan Kimia Otak

Di balik semua pembenaran tersebut, ada faktor paling krusial: adiksi. Judi, terutama judi online yang serba cepat, sangat adiktif.

Dopamin dan Reward Pathway: Setiap kali ada kemenangan (sekecil apa pun), otak melepaskan dopamin, zat kimia yang terkait dengan rasa senang dan reward. Ini menciptakan reward pathway yang kuat di otak, mendorong seseorang untuk terus mencari sensasi tersebut.

Kontrol Impuls yang Melemah: Seiring waktu, reward pathway yang aktif secara berlebihan dapat mengubah struktur otak, khususnya di area yang bertanggung jawab untuk kontrol impuls dan pengambilan keputusan rasional. Ini membuat pelaku semakin sulit berhenti, meskipun mereka tahu dampaknya merusak. "Adiksi judi adalah penyakit otak yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan dorongan berjudi, sama halnya dengan adiksi narkoba," jelas seorang ahli psikiatri adiksi.

Penolakan sebagai Mekanisme Koping: Penolakan terhadap fakta bahwa mereka berjudi adalah mekanisme koping (pertahanan diri) umum pada penderita adiksi. Mengakui bahwa mereka punya masalah berarti menghadapi realita yang menyakitkan dan mungkin memerlukan perubahan drastis dalam hidup.

Fenomena penolakan ini menunjukkan bahwa judi online bukan sekadar masalah hukum atau finansial, melainkan juga masalah kesehatan mental dan sosial yang kompleks. Memahami alasan di balik penolakan pelaku adalah langkah pertama untuk bisa memberikan edukasi yang lebih tepat sasaran dan intervensi yang lebih efektif, bukan hanya menghukum, tetapi juga membantu mereka keluar dari jeratan adiksi. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#judi #ilusi #judol #pelaku #Online