RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Universitas Gajah Mada (UGM) berduka mendalam setelah dua mahasiswanya, Septian Eka Rahmadi dan Bagus Adi Prayogo meninggal dunia dalam musibah kecelakaan laut di Maluku Tenggara Selasa sore (1/7).
Civitas Akademika UGM beserta Perhutani Jawa Timur dan KPH Bojonegoro hadir bertakziah ke rumah duka di RT 9 RW 2, Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro pada Rabu siang (2/7). Mereka juga dijadwalkan menghadiri pemakaman Bagus pada Rabu malam, usai jenazah tiba di rumah duka.
Sebagai kepala jurusan yang ditempuh Bagus semasa hidup, Kepala Departemen Silvikultur UGM, Ananto Triyogo akrab dengan tindak-tanduk dan keseharian Bagus di kampus. Meskipun tidak sering bertemu di luar kampus, sosok Bagus dekat dengan pekerjaan sehari-hari Ananto di kampus Yogyakarta tersebut.
“Tidak banyak mahasiswa silvikultur yang aktif berorganisasi selain Bagus. Dia dan saya biasanya rajin berkomunikasi mengenai proposal kegiatan. Banyak yang biasa kami perbincangkan,” ujar Ananto mengenang keseharian Bagus.
Tak jarang Bagus menjadi pemimpin kegiatan dan negosiator ketika berhadapan dengan dosen, termasuk Ananto. “Sering saya bertanya, ‘’mana temanmu yang lain?’’ Dia hanya menjawab, ‘’Tidak apa-apa, biar saya saja,’’. Selain aktif, Bagus juga sopan dalam berkomunikasi,” terang Ananto.
Sedianya sepulang dari Maluku, Bagus masih memiliki banyak rencana di hadapannya. Di Maluku, dia didapuk sebagai koordinator kegiatan penanaman mangrove di pesisir setempat. Sementara di kampus, dia ditunjuk sebagai koordinator acara dies natalis (ulang tahun) himpunan mahasiswa, selain itu mulai mengerjakan skripsi.
“Civitas Akademika UGM menyampaikan duka cita yang mendalam dan merasa kehilangan atas berpulangnya Bagus. Saya sendiri berani bersumpah bahwa semasa hidup, Bagus merupakan seorang mahasiswa yang pintar, aktif, sopan dan rajin,” ungkap Ananto.
Tidak hanya UGM, Perhutani KPH Bojonegoro juga merasa kehilangan Bagus sebagai seorang calon pelindung hutan Bojonegoro. Terlebih dengan latar belakang Bagus yang juga berasal dari daerah dan keluarga yang akrab dengan hutan, serta peluang untuk melakukan regenerasi dalam tubuh Perhutani.
“Secara teknis, kebetulan Bagus merupakan adik kelas saya. Selama ini kami mengenal Bagus sebagai mahasiswa yang aktif dan baik dalam kegiatan akademik. Selain itu dia berkontribusi dalam konservasi hutan sebagaimana yang lakukan di Maluku,” jelas Administrator KPH Perhutani Bojonegoro, Slamet Juwanto.
“Ayah almarhum merupakan petani hutan di wilayah Perhutani Bojonegoro. Sehingga ini akan menjadi harapan untuk regenerasi. Mas Bagus punya keinginan untuk melestarikan hutan, kami berharap kader-kader muda punya semangat serupa untuk memperjuangkan pelestarian hutan,” ujar Juwanto.
Keluarga berencana langsung memakamkan Bagus setelah jenazah tiba di rumah duka. Pihak UGM memperkirakan ambulans jenazah akan tiba pada malam hari, tergantung rute yang akan digunakan untuk mengantar kepulangannya. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana