Warga Terdampak Banjir Bengawan Solo di Baureno Curhat Kesulitan Akses Transportasi
Hakam Alghivari• Kamis, 22 Mei 2025 | 02:30 WIB
Salah satu rumah di Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno yang terendam banjir akibat luapoan Bengawan Solo.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tinggi Muka Air (TMA) Bengawan Solo kembali menunjukkan kondisi darurat. Setelah sempat turun ke level siaga hijau pada Senin (19/5), TMA kembali naik drastis pada Selasa pagi (20/5), dan mencapai puncaknya di angka 14,72 mdpl pada pukul 18.00 WIB—status siaga merah.
Kondisi ini menyebabkan banjir luapan di sejumlah kawasan, terutama di wilayah hilir Bengawan Solo seperti Kecamatan Baureno.
Budi Santoso, relawan dari Elang Bengawan Rescue (EBR) mengatakan, daerah hilir akan terkena dampak yang lebih parah jika dilihat dari angka dan level TMA.
“Dan di daerah hilir ini, khususnya di Baureno, bisa diperkirakan lebih lama terendamnya. Karena Baureno juga salah satu ujungnya sungai besar, yakni air dari Kali Semar masuk ke Bengawan Solo,” jelasnya.
Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo tersebut merendam dua desa di Kecamatan Baureno. Di antaranya Desa Lebaksari, air menggenangi sedikitnya 129 rumah, sementara jalan poros desa sepanjang 100 meter terputus total akibat tergenang banjir.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Kalisari, dengan 420 rumah warga terdampak banjir. Tak hanya permukiman, sejumlah fasilitas umum ikut terendam, seperti masjid, musala, sekolah dasar (SD dan MI), balai desa, serta polindes di kedua desa tersebut.
Sementara itu, Rizky Adi Saputra (19), salah satu warga Dusun Mranten, Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, menceritakan awal mula air mulai meluap di daerahnya sejak Minggu, 18 Mei 2025.
“ketinggian air pertama itu masih normal di zona kuning,” ujarnya.
Meski rumahnya belum terendam air, dampak banjir sangat dirasakan. Akses jalan warga terganggu, dan aktivitas harian menjadi sulit. Rizky, yang merupakan seorang mahasiswa, mengaku kesulitan mengakses transportasi darat menuju kampusnya.
“Setiap kali hujan deras turun dan sungai meluap, jalan utama ke kota ikut terendam. Transportasi lumpuh, jalan berlumpur, saya sering terlambat, bahkan beberapa kali tidak bisa hadir ke kampus karena akses tertutup total,” ungkapnya.
Meski kondisi belum sepenuhnya membaik, pemerintah daerah bersama tim BPBD telah bergerak memberikan bantuan. Bantuan logistik mulai disalurkan ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir, termasuk Desa Lebaksari dan sekitarnya.
Warga berharap air segera surut agar aktivitas masyarakat bisa kembali normal, khususnya akses pendidikan dan ekonomi yang sangat terdampak oleh banjir luapan ini. (kam)