RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hingga awal Maret (1/3), banjir luapan Bengawan Solo belum menunjukkan tanda-tanda surut signifikan sejak Rabu (26/2) lalu. Akibatnya, lima desa di Kecamatan Baureno tergenang banjir.
Sesuai indikasi papan ukur tinggi muka air (TMA) milik Perum Jasa Tirta 1 Wilayah Sungai Bengawan Solo, serta sistem peringatan dini milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim yang berada di Mojo dan Kare, status TMA sungai Bengawan Solo kembali siaga merah pada hari ini Sabtu (1/3).
“Luapan sungai disebabkan oleh curah hujan tinggi di wilayah hulu Bengawan Solo dan adanya hujan lokal di Bojonegoro. Dampak paling terasa di area hilir, yakni di sekitaran Baureno,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi.
Di Baureno sendiri terdapat lima desa terdampak banjir, yakni Desa Kalisari, Kadungrejo, Lebaksari, Trojalu dan Tanggungan. Dari lima desa tersebut, Desa Tanggungan tercatat telah sepenuhnya surut, sementara Desa Kadungrejo menyisakan dua RT, yakni RT 29 dan 30.
Kalisari justru mengalami tren naik dikarenakan desa ini paling ujung timur (hilir) wilayah Kabupaten Bojonegoro. Di desa ini dalam rentan waktu level siaga merah terjadi korban jiwa seorang bocah yang terseret arus sungai.
“Di Desa Kadungrejo, Lebaksari dan Trojalu air sudah mulai surut, tinggal genangan yang ada di persawahan. Di Desa Tanggungan keadaannya sudah normal. Sementara di Desa Kalisari rerata genangan air naik hingga 10 sentimeter,” lanjut Heru.
Hingga Sabtu sore, total sebanyak 330 rumah terdampak banjir di seluruh desa kecuali Desa Trojalu. Dengan ketinggian muka air antara 30 sentimeter hingga paling tinggi 80 sentimeter di Desa Kalisari. Selain itu, total area persawahan yang terdampak di lima desa terdapat 825 hektar sawah terendam banjir.
Sarana prasarana ada total 18 fasilitas umum juga terdampak banjir. Rerata sekolah yang berada di desa-desa tersebut. Deaa Kalisari menjadi desa yang paling terdampak parah. Terdapat kantor desa, polindes, sebuah mushola, halaman masjid setempat, dan total delapan sekolah setempat turut terendam banjir.
“Untuk membantu masyarakat Desa Kalisari, kami membagikan 270 paket sembako melalui Pemdes setempat. Namun dari lima desa terdampak, mayoritas warga mengaku masih bisa memasak. Sehingga dapur umum yang kami dirikan untuk sementara belum digunakan,” papar Heru. (edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana