RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kawasan eks lokalisasi Kalisari kembali menarik perhatian. Menurut laporan warga dan pengamatan dari channel youtube: rifat_channel yang diunggaj pada Agustus tahun lalu, masih ada beberapa warung di kawasan tersebut diduga dimanfaatkan untuk aktivitas prostitusi terselubung. Bahkan operasinya tidak hanya malam hari, tetapi juga siang hari. Warung-warung tersebut menawarkan jasa perempuan berusia 30 tahun ke atas dengan tarif mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu.
Sejarah Lokalisasi Kalisari
Eks lokalisasi Kalisari memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan prostitusi besar di Jawa Timur kala itu. Mulai dikenal pada era 1980-an, lokalisasi ini menjadi tempat tujuan bagi pekerja seks komersial (PSK) dari berbagai daerah. Berdekatan dengan Jembatan Kaliketek yang menjadi penghubung strategis, Kalisari dengan cepat berkembang menjadi kawasan yang ramai.
Pada masa kejayaannya, Kalisari bukan hanya tempat lokalisasi, tetapi juga menjadi pusat ekonomi kecil, dengan warung, kafe, dan tempat hiburan yang beroperasi 24 jam. Namun, di balik keramaian itu, kawasan ini menyimpan berbagai masalah sosial, mulai dari tindak kriminal, penyebaran penyakit, hingga konflik sosial dengan masyarakat sekitar.
Kawasan lokalisasi tersebut resmi ditutup oleh Pemkab Bojonegoro pada 22 April 2020, yang juga ditandai dengan pernyataan bersama pemerintah desa beserta tokoh masyarat di desa setempat.
Kembali Munculnya Aktivitas Terselubung
Meski telah ditutup lebih dari satu dekade, laporan terbaru menunjukkan bahwa aktivitas serupa kembali terjadi di kawasan Kalisari. Warung-warung yang awalnya difungsikan sebagai tempat makan atau usaha kecil, kini diduga menyediakan jasa esek-esek secara terselubung.
Menurut pengamatan, rifat_channel aktivitas ini bahkan terjadi di siang hari. Dengan beberapa perempuan terlihat menawarkan jasa kepada pengendara yang melintas di depan warungnya.
Menurut Sekretaris Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bojonegoro, Beny Subiakto, saat ini aktivitas di eks lokalisasi tersebut berkurang. Hanya warung-warung setempat yang masih bertahan setelah ditutup 2020 yang lalu, menjajakan makanan dan minuman. Sementara tempat kamar-kamar yang dulu untuk aktivitas prostitusinya telah ditutup.
“Hingga saat ini kami masih mengadakan patroli rutin. Umumnya patroli dilaksanakan malam hari, karena laporan warga juga diterima pada malam hari,” ujar Beny pada Kamis (23/1).
Beberapa razia juga dilakukan sejak lokalisasi tersebut dinyatakan ditutup. “Kami melakukan razia beberapa kali, rerata yang kami periksa dan tangkap merupakan warga dengan KTP setempat. Namun belum tentu mereka merupakan PSK. Kecuali ada barang bukti konkrit di lokasi, baru kami tangkap tangan,” jelas Beny.
Tentu, aktivitas di eks lokalisasi tersebut serta warga menjadi perhatian tersendiri bagi kami Satpol PP Bojonegoro. “Lokasinya di tengah pemukiman warga, sehingga ada potensi warga memberi tahu yang lain tentang patroli atau razia,” ungkap Beny.
Saat ini dari hasil patroli yang nampak, geliat kegiatan di eks lokalisasi baru sebatas pada warung-warung usaha jualan makanan dan minuman di lokasi tersebut. “Sejak razia pada Oktober 2024 temuan kami nihil, tidak ada hal-hal mencurigakan,” ujar Beny.
“Saat patroli kadang kami berhenti, kadang kami jalan terus. Sejauh ini tidak ada hal-hal yang bersifat mencurigakan. Warga setempat hanya ngopi layaknya di warung-warung pada umumnya. Selain itu, kamar prostitusi juga ditutup,” tambahnya. (feb/edo/cho)
Editor : Yuan Edo Ramadhana