BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Bangkai sapi mengapung kerap ditemukan di Sungai Bengawan Solo. Tepatnya di Kecamatan Padangan hingga Trucuk.
Sapi-sapi tersebut diduga sengaja dibuang, karena merebaknya wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di berbagai daerah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, telah menemukan 8 bangkai sapi pada Sabtu (12/1) dan Rabu (15/1) lalu, yang rerata tersangkut di Bendung Gerak, Desa Padang, Kecamatan Trucuk.
Sementara, warga di kawasan bendungan mengklaim jumlah sapi yang ditemukan warga jauh lebih banyak.
‘’Sebenarnya lebih banyak lagi (bangkai sapi) yang dilihat warga, tapi setelah pintu bendungan dibuka akhirnya hanyut,” ungkap Nurkholis, warga Desa Padang, Kecamatan Trucuk.
Menurutnya, sapi-sapi tersebut rerata mengambang dengan kondisi yang sudah membusuk. ‘’Kalau yang sudah dievakuasi itu baru sisa-sisa,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Warga yang tinggal berdekatan dengan Bendung Gerak itu menambahkan, bangkai sapi rerata dikubur langsung di barat Bengawan Solo, tepat di samping jembatan Bendung Gerak.
Terpisah, Kepala pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro Laela Noer Aeny menyampaikan, petugas BPBD telah mengevakuasi 8 sapi,. Menurutnya, rerata sapi hanya ada 4 yang sudah dievakuasi, sementara sisanya sudah dalam kondisi hancur.
‘’Ada dari Padangan, dan kebanyakan ditemukan di Bendung Gerak,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakkan Bojonegoro Luthfi Nurrahman menyampaikan, dokter hewan dari Disnakkan ikut mendamping evakuasi untuk mengambil sampel darah, karena adanya dugaan terjangkit PMK.
‘’Baru indikasi klinis (suspek) PMK, namun hasil Lab belum keluar,” bebernya. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana