BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Cuaca ekstrem yang berdampak pada banjir dan angin kencang, diprediksi masih terus berlangsung sepekan ke depan. Hal itu, menambah kewaspadaan masyarakat.
Terlebih, angin kencang di Bojonegoro sepekan terakhir, telah merusak bangunan rumah hingga fasilitas umum. ’’Sejak masuk pancaroba ini, sudah terjadi setidaknya lima kali kejadian angin kencang,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Laela Noer Aeny kemarin (10/11).
Menurutnya, meski angin kencang juga kerap terjadi, namun dampak terparah setidaknya terjadi lima hari. Menurutnya, kejadian tersebut tak hanya berdampak pada bangunan rumah warga, namun juga fasilitas umum seperti yang terjadi di Pasar Banjarejo, pada Jumat lalu (8/11).
Namun, pihaknya hingga kemarin, masih terus melakukan pendataan dampak cuaca ekstrem sejak peralihan musim. ’’Untuk dampak keseluruhan, masih proses pendataan,” imbuhnya.
Terpisah, dampak cuaca ekstrem juga dirasakan warga di Desa Bobol, Kecamatan Sekar kemarin (11/10). Berakibat pada akses lalu lintas Bojonegoro-Ngawi sempat terputus, akibat derasnya terjangan air bah dari Kali Klampok. ’’Sempat tidak bisa dilewati, karena Jembatan Dawe di sebelahnya juga masih dalam perbaikan,” ungkap Kepala Desa (Kades) Bobol Saimo.
Peneliti Cuaca dan Perubahan Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin menyampaikan, bahwa maraknya hujan badai yang terjadi di wilayah Jawa, tak terkecuali di Bojonegoro, dipengaruhi aktivitas pembentukan bibit siklon tropis di Samudra Hindia.
’’Sehingga, cuaca ekstrem menjadi masif,” ungkapnya. Alumni jurusan Sains Atmosfer di Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menambahkan, bahwa aktivitas tersebut diprediksi masih terjadi pada sepuluh hari kedua pada November.
’’Aktivitas vorteks di Samudra Hindia diprediksi akan terus membesar dan menguat, sehingga memengaruhi cuaca ekstrem yg kian intensif,” bebernya (dan/bgs)
Editor : Hakam Alghivari