RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Asosiasi Perguruan Tinggi Bojonegoro (Aspertib) belum diajak bicara tentang rencana pembangunan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Brawijaya (UB) di Bojonegoro, belum dikomunikasikan dengan.
Meski, 13 perguruan tinggi swasta (PTS) di Bojonegoro telah berdiri dan berkontribuksi meningkatkan SDM warga lokal. Di sisi lain, PSDKU UB berpotensi memperluas akses pendidikan tinggi dan meningkatkan daya tarik daerah sebagai pusat pendidikan.
Ketua Aspertib Hasan Bisri mengatakan, kehadiran perguruan tinggi negeri (PTN) bereputasi nasional dapat membawa manfaat bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Namun, kebijakan memiliki konsekuensi serius khususnya bagi 13 PTS yang lebih dulu hadir dan berkontribusi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi di Bojonegoro.
Bagi Aspertib, persoalannya bukan menolak kehadiran PSDKU UB tersebut, melainkan memastikan pengembangan lembaga itu tidak mengabaikan keberlanjutan PTS sebagai bagian penting dari ekosistem pendidikan tinggi daerah.
Baca Juga: PSDKU UB Mengancam Eksistensi Kampus Lokal, Berharap Prodi Sesuai Minat Calon Mahasiswa
"Ada dampak nyata yang perlu diantisipasi oleh 13 PTS. Pertama, persaingan penerimaan mahasiswa baru akan semakin ketat," katanya kemarin (14/10).
Menurut dia, nama besar UB akan menjadi daya tarik tersendiri bagi lulusan SMA/SMK dan orang tua.
Terlebih, jika program studi (prodi) biaya, lokasi, dan fasilitas ditawarkan dianggap sesuai. "Risiko ini dapat terlihat pada penurunan jumlah pendaftar, registrasi ulang, maupun mahasiswa baru di PTS tertentu," ungkapnya.
Selanjutnya, tambah dia, PTS dengan prodi serupa atau berdekatan akan menghadapi tekanan persaingan besar. Apabila prodi dibuka UB bersinggungan dengan bidang sudah ditawarkan PTS, calon mahasiswa akan semakin membandingkan reputasi perguruan tinggi, akreditasi, kompetensi lulusan, fasilitas, jaringan kerja, dan biaya kuliah. "PTS dengan diferensiasi belum kuat perlu melakukan pembenahan lebih cepat," tegasnya.
Kemudian, tutur dia, keberlanjutan keuangan sebagian PTS berpotensi tertekan. Penurunan mahasiswa baru yang berlangsung beberapa tahun dapat mengurangi pendapatan pendidikan, sementara biaya dosen, tenaga kependidikan, laboratorium, pemeliharaan fasilitas, dan operasional kampus tetap harus ditanggung.
Besar risiko berbeda tiap institusi, bergantung pada jumlah mahasiswa, struktur pendapatan, dan kemampuan pengelolaannya.
"Selain itu, persaingan memperoleh dosen dan membangun reputasi dapat meningkat. PTS perlu memertahankan kualitas, memperbaiki layanan akademik, dan meningkatkan daya saing lulusan. Dampak tidak akan dirasakan secara merata oleh seluruh PTS. Perguruan tinggi yang prodinya beririsan langsung dengan PSDKU berpotensi menghadapi tekanan lebih besar," ujarnya.
Karena itu, lanjut dia, diperlukan pemetaan dampak berdasarkan prodi dan kondisi riil setiap kampus, bukan generalisasi bahwa seluruh PTS pasti akan mengalami penurunan.
Sehingga, tegas Hasan, pemerintah kabupaten (pemkab) jangan mengabaikan kontribusi 13 PTS. "Selama ini, 13 PTS telah menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan tinggi. Termasuk membuka akses bagi mahasiswa dengan kemampuan ekonomi berbeda, serta mengembangkan keahlian sesuai kebutuhan lokal," tutur dia.
Jika pengembangan PSDKU tidak disertai dialog dan perencanaan matang, kata Hasan, terdapat risiko persaingan lebih banyak pada perebutan calon mahasiswa daripada peningkatan mutu dan perluasan akses pendidikan. "Aspertib memandang perlu adanya langkah konkrit," ujar dia.
Baca Juga: Bakal Berdiri Kampus Universitas Brawijaya, Pemkab Bojonegoro Siapkan Lahan di Jl HOS. Cokroaminoto
Di antaranya dialog resmi antara pemkab, UB, dan Aspertib membahas prodi yang akan dibuka, daya tampung kebutuhan masyarakat, serta dampak terhadap peta pendidikan tinggi daerah; pemetaan terhadap 13 PTS di mana pemkab dan Aspertib mengidentifikasi prodi yang berpotensi terdampak, tren penerimaan mahasiswa, kebutuhan tenaga kerja, serta kondisi keberlanjutan insitusi; dan kolaborasi konkrit di mana PSDKU UB didorong untuk membuka peluang kerja sama dengan PTS dalam penelitian, pengabdian masyarakat, pengembangan dosen, pemanfaatan keahlian, dan inovasi sesuai kapasitas masing-masing institusi.
Aspertib mendorong setiap anggota meningkatkan mutu akademik, relevansi prodi, kompetensi lulusan, layanan mahasiswa, serta kemitraan dengan industri dan dunia kerja serta adanya perencanaan pendidikan tinggi daerah berkelanjutan.
"Kehadiran UB di Bojonegoro harus dilihat secara utuh, sebagai peluang meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus perubahan struktur persaingan yang memiliki konsekuensi bagi 13 PTS," katanya.
Hasan menambahkan, pihaknya tidak menghendaki pembangunan pendidikan tinggi yang mempertentangkan perguruan tinggi negeri dan swasta. Tetapi, juga tidak ingin potensi dampak terhadap mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan keberlanjutan PTS diabaikan atas nama pengembangan pendidikan daerah. Pendidikan tinggi Bojonegoro harus diukur bukan hanya dari hadirnya perguruan tinggi baru, tapi juga kemampuan daerah memperluas akses pendidikan.
"Aspertib mendorong agar PSDKU UB disertai komunikasi terbuka, pemetaan dampak terukur, dan komitmen kolaborasi yang nyata. Dengan demikian, Bojonegoro dapat berkembang sebagai kota pendidikan tanpa mengabaikan keberlanjutan 13 PTS yang menjadi bagian dari kekuatan pendidikan daerah," tandasnya. (yna/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah