RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - DALAM penanganan anak tidak sekolah (ATS), dinas terkait dinilai berjalan sendiri-sendiri dalam melaksanakan program. Padahal diperlukan singkronisasi dalam penanganan ATS. Sehingga penanganan maksimal.
Selain itu, kemiskinan di Bojonegoro disebabkan permasalahan di bidang pendidikan. Sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat permasalahan bidang pendidikan terutama ATS harus segara ditangani.
Ketua Inspira Risbo Ima Isnaini Taufiqur Rohmah mengatakan, diksusi terkait ATS sudah sering dilakukan. Namun, tanpa penyelesian. Padahal menjadi program prioritas pemkab nomor pertama, semua anak harus sekolah.
Baca Juga: Disdik Bojonegoro Perkuat Pendampingan ATS Lewat Verval, Sebut Penyebab ATS Cukup Kompleks
Ima menjelaskan ketika menjadi program prioritas harus bisa menangani ATS. Namun instansi terkait seperti disdik, dinsos, dp3akb, bappeda hingga pkbm seperti berjalan sendiri-sendiri. Sehingga kurang singkronisasi.
Menurut Ima penanganan ATS sebenarnya mudah asal dikonsep dari atas hingga bawah. Dalam penanganan hanya butuh program BERES (Bojonegoro Education Rescue System). Menaungi semua instansi terkait.
‘’Program penanganan ATS harus disinkronisasikan menjadi satu. Tepatnya menggunakan BERES,” ungkapnya.
Anggota ICMI Orda Bojonegoro Awaluddin Ridwan mengatakan, pendidikan menjadi dasar solusi permasalahan kemiskinan hingga pernikahan dini. Namun permasalahan utama di bidang pendidikan adalah ATS.
Baca Juga: Disdik Bojonegoro Perkuat Pendampingan ATS Lewat Verval, Sebut Penyebab ATS Cukup Kompleks
‘’Untuk memutus rantai kemiskinan dengan pendidikan dan kesehatan,” jelasnya.
Ridwan menjelaskan, rerata pekerja lulusan SMP tidak memiliki pemikiran bahwa untuk meningkatkan ekonomi dengan pendidikan. Bahkan banyak masyarakat yang memilih tak melanjutkan pendidikan. Baik dari SD ke SMP maupun dari SMP ke SMA.
Menurut Ridwan penanganan ATS harus disesuaikan dengan penyebabnya. Mulai dari ekonomi hingga sosial. Untuk penyebab ekonomi sebenarnya paling mudah ditangani. Namun faktor sosial lebih sulit. (irv/msu)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah