LAMONGAN, Radar Bojonegoro — Tumpukan kulit dan ampas lemon yang selama ini hanya menjadi sisa produksi di rumah usaha minuman botanikal milik salah satu anggota Aisyiyah Cabang Turi kini memiliki nilai yang berbeda. Limbah yang sebelumnya hanya dibuang itu bertransformasi menjadi sabun mandi cair, sabun cuci piring, dan pembersih lantai dengan merek ASRI (Aisyiyah Turi).
Perubahan tersebut lahir melalui konsep Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang lolos pendanaan Hibah Riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) dengan judul "Dari Limbah Menjadi Laba: Implementasi Green Accounting Mikro untuk Optimalisasi Keuangan Home Industry Aisyiyah Cabang Turi Lamongan."
Program ini diketuai oleh Tri Winarsih, S.E., M.Ak., dosen Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan (ITBADLA) yang akrab disapa Bu Wiwin. Meskipun saat ini mengampu Program Studi Perpajakan, latar belakang keilmuannya di bidang akuntansi menjadi landasan dalam mengembangkan berbagai kajian, mulai dari green accounting, akuntansi keberlanjutan, ekonomi sirkular, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini turut melibatkan Roudlotul Badi'ah, S.M., M.M. dari ITBADLA, Suryani Yuli Astuti, S.E., M.M. dari UMLA, serta dua mahasiswa ITBADLA, Miftahul Lailatul Mafrukhah dan Nadiya Eka Latifa, yang bersama-sama membentuk Tim Pengabdian Masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, tim bermitra dengan Aisyiyah Cabang Turi yang dipimpin oleh Ibu Isnawati, S.Ag., untuk mendampingi 15 anggotanya mengembangkan usaha berbasis pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat tata kelola dan pencatatan keuangan usaha mikro sehingga mampu mendorong kemandirian ekonomi anggota secara berkelanjutan.
Gagasan program ini berawal dari hasil observasi ketua pengabdian yang menemukan potensi limbah kulit dan ampas lemon yang belum dimanfaatkan secara optimal. Setiap hari, rumah produksi minuman botanikal milik salah satu anggota Aisyiyah menghasilkan sekitar 5–10 kilogram limbah lemon, atau hampir 300 kilogram setiap bulan.
Setelah sari lemon diolah menjadi minuman, sisa kulit dan ampasnya hanya ditumpuk di sekitar lokasi produksi atau dibuang karena dianggap tidak lagi memiliki nilai guna. Padahal, limbah tersebut masih mengandung minyak atsiri alami yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk rumah tangga.
Kondisi inilah yang mendorong tim pengabdian menghadirkan solusi yang tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi perempuan melalui pendekatan green accounting, ekonomi sirkular, dan pemberdayaan masyarakat.
"Kami melihat persoalannya bukan hanya pada limbah yang belum dimanfaatkan, tetapi juga pada bagaimana masyarakat dapat memperoleh nilai tambah dari limbah tersebut. Karena itu, program ini dirancang agar peserta tidak sekadar mampu membuat produk, tetapi juga memahami bagaimana mengelola usaha secara berkelanjutan," ujar Bu Wiwin.
Berangkat dari pemikiran tersebut, tim pengabdian tidak langsung mengajak peserta memproduksi sabun atau produk pembersih. Pendampingan diawali dengan membangun pola pikir bahwa limbah masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola secara tepat dan didukung tata kelola usaha yang baik.
Melalui pelatihan Green Accounting Mikro, peserta diajak memahami pentingnya mencatat biaya produksi, menghitung harga pokok, memisahkan keuangan rumah tangga dengan keuangan usaha, hingga melihat pengelolaan limbah sebagai bagian dari strategi peningkatan nilai usaha.
Pemahaman tersebut kemudian diperkuat melalui pelatihan literasi UMKM, pemasaran digital, dan penguatan peran perempuan dalam ekonomi keluarga. Seluruh materi disampaikan secara partisipatif melalui diskusi, studi kasus, simulasi, dan praktik sederhana yang disesuaikan dengan kondisi usaha para peserta sehingga mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Suasana pelatihan dibuat lebih interaktif melalui berbagai ice breaking edukatif. Pada sesi "Melihat Sampah Menjadi Berkah", peserta diajak mengubah cara pandang terhadap limbah sebagai sumber peluang ekonomi. Melalui simulasi "Dompet Bocor", mereka memahami bahwa usaha tanpa pencatatan keuangan ibarat dompet yang terus mengeluarkan uang tanpa pernah diketahui ke mana arahnya.
Antusiasme peserta semakin terlihat saat mengikuti tantangan menyusun lembar kas sederhana, mempraktikkan pemisahan uang usaha dan uang rumah tangga, serta menyusun narasi promosi melalui kegiatan "Jual dengan Hati" menggunakan media sosial masing-masing.
Pendekatan tersebut membuat suasana belajar berlangsung hangat dan penuh partisipasi. Para peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi aktif berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan usaha.
Bekal pengetahuan inilah yang kemudian menjadi fondasi sebelum mereka memasuki tahap berikutnya, yaitu mengolah limbah lemon menjadi produk yang memiliki nilai jual sekaligus membangun usaha yang dikelola secara lebih profesional.
Proses praktik menjadi momen yang paling dinantikan para peserta. Di ruang produksi sederhana, kulit dan ampas lemon yang telah dipisahkan dari hasil pembuatan minuman botanikal mulai diolah bersama. Bahan yang sebelumnya hanya menumpuk di sudut rumah produksi itu kini berpindah ke meja kecil dan diperlakukan sebagai bahan baku utama yang memiliki nilai ekonomi.
Dengan penuh antusias, para anggota Aisyiyah mengikuti setiap tahapan pengolahan. Mereka membersihkan limbah lemon, mengekstrak sari kulitnya, mencampurkan bahan pendukung berupa Texapon untuk menghilangkan kotoran, Cocamid DEA sebagai pembentuk busa, natrium klorida (NaCl) sebagai pengental, asam sitrat untuk pengaturan pH, serta minyak sereh pada pembersih lantai, hingga proses pengadukan adonan oleh mesin pengaduk. Suasana pelatihan berlangsung hangat. Di sela-sela proses produksi, peserta saling berdiskusi, bertanya, bahkan sesekali tertawa saat melihat hasil produk.
Pendampingan dilakukan secara langsung sehingga setiap peserta memperoleh kesempatan untuk mencoba sendiri menuangkan cairan produk dalam kemasan hasil olahan. Ketua pelaksana menjelaskan setiap tahapan proses produksi serta mempraktikkannya, hal ini dilakukan agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti di teori selama pelatihan.
"Kami ingin ibu-ibu setelah melihat dan memahami fungsi setiap tahapan, harapkan kami bisa menghasilkan produk yang layak digunakan, sehingga rasa percaya diri untuk melanjutkan usaha akan tumbuh dengan sendirinya," ujar Bu Wiwin.
Dari proses tersebut lahirlah tiga produk unggulan dengan merek ASRI (Aisyiyah Turi), yaitu ASRI Sabun Mandi Cair, ASRI Sabun Cuci Piring, dan ASRI Pembersih Lantai. Ketiganya memanfaatkan ekstrak kulit dan ampas lemon sebagai bahan utama sehingga limbah yang sebelumnya tidak bernilai berubah menjadi produk rumah tangga yang memiliki manfaat sekaligus nilai jual.
Keberhasilan menghasilkan produk menjadi awal dari tahapan berikutnya. Tim pengabdian mengajak peserta memikirkan bagaimana produk tersebut dapat berkembang menjadi usaha bersama yang berkelanjutan.
Mulai dari menentukan identitas merek, mendesain label kemasan, memilih ukuran botol, hingga menyusun strategi pemasaran dilakukan secara bersama-sama. Selama proses pendampingan, tim pengabdian dan anggota Aisyiyah Cabang Turi berdiskusi serta saling bertukar gagasan, termasuk dalam menentukan identitas produk.
Dari berbagai usulan yang muncul, akhirnya disepakati nama ASRI, singkatan dari Aisyiyah Turi, yang sekaligus merepresentasikan harapan agar produk yang dihasilkan mampu menghadirkan kesan bersih, sehat, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pendampingan kemudian berlanjut pada penguatan tata kelola usaha melalui implementasi Green Accounting Mikro. Peserta mulai membiasakan diri mencatat biaya pembelian bahan baku, penggunaan bahan pendukung, biaya produksi, serta hasil penjualan dalam buku kas sederhana.
Mereka juga belajar memisahkan keuangan usaha dari kebutuhan rumah tangga agar perkembangan usaha dapat dipantau secara lebih jelas. "Usaha kecil sering kali sulit berkembang bukan karena produknya kurang baik, tetapi karena belum memiliki pencatatan keuangan yang tertib.
Melalui Green Accounting Mikro, kami ingin membangun kebiasaan sederhana yang nantinya akan menjadi fondasi pengelolaan usaha yang sehat," tambah Bu Wiwin.
Perubahan tersebut mulai terlihat menjelang berakhirnya pendampingan. Produk ASRI tidak lagi hanya menjadi hasil praktik pelatihan, tetapi mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui media sosial pribadi peserta, jaringan organisasi Aisyiyah, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Beberapa anggota bahkan mulai menerima pesanan dari lingkungan sekitar dan melihat peluang usaha yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Untuk memastikan semangat tersebut terus berlanjut, tim pengabdian menyerahkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa seperangkat peralatan produksi skala mikro kepada Aisyiyah Cabang Turi.
Bantuan tersebut diterima secara simbolis oleh Ketua Aisyiyah Cabang Turi, Ibu Isnawati, S.Ag., sebagai aset bersama Aisyiyah Cabang Turi yang akan dimanfaatkan dalam kegiatan produksi setelah program pengabdian selesai.
Penyerahan TTG menjadi penanda bahwa pendampingan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Melalui dukungan sarana produksi, tim berharap usaha yang telah dirintis dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi organisasi maupun anggotanya.
Ketua PCA Turi Ibu Isnawati mengaku bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepada Aisyiyah Cabang Turi untuk menjadi mitra dalam program pengabdian tersebut.
“Kami benar-benar merasakan manfaat dari seluruh rangkaian kegiatan ini. Kami tidak hanya belajar mengolah limbah lemon menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memahami bagaimana mengelola usaha, mencatat keuangan, hingga memasarkan produk dengan lebih baik. Kami juga merasa senang dan bersyukur menerima bantuan teknologi tepat guna karena peralatan tersebut dapat langsung dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi. Harapan kami, usaha yang telah dirintis bersama ini dapat terus berkembang, menjadi sarana meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi anggota Aisyiyah Cabang Turi, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar," ungkap Ketua Aisyiyah Cabang Turi, Isnawati, S.Ag”
Melalui pendampingan tersebut, perubahan yang terjadi tidak hanya tampak pada lahirnya tiga produk baru, tetapi juga pada tumbuhnya kepercayaan diri para anggota untuk mengembangkan usaha secara bersama. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini menjadi sumber peluang ekonomi, sementara keterampilan yang diperoleh selama pendampingan menjadi modal bagi Aisyiyah Cabang Turi untuk membangun usaha yang lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan. (*)
Editor : M. Nurkhozim