Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Atasi Polarisasi Praktik Ibadah, SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro Sukses Gelar Penguatan Ideologi AIK Berbasis Masalah

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 17 Juni 2026 | 14:13 WIB
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
(ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM  – Sebagai upaya memperkokoh identitas dan menyelaraskan pemahaman keagamaan di lingkungan sekolah, SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro sukses menyelenggarakan program pengabdian masyarakat bertajuk "Penguatan Ideologi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan melalui Kajian Tarjih Berbasis Masalah". Kegiatan pemberdayaan internal ini dilaksanakan secara luring secara berkala setiap satu bulan sekali di lingkungan kampus SD Muhammadiyah 2 di Jalan Untung Suropati 44 Bojonegoro. 

Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan dinamis era digital, di mana arus informasi keagamaan yang mengalir tanpa filter kerap memicu beragam pandangan fikih kontemporer yang membingungkan masyarakat, termasuk para guru. Terlebih, latar belakang sosiologis dan pendidikan yang heterogen di kalangan guru serta pegawai sempat memunculkan variasi atau dualisme dalam praktik ibadah sehari-hari yang belum sepenuhnya selaras dengan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.

Baca Juga: Cabdindik Bojonegoro-Tuban Sukses Gelar GTK Sport Fest 2026: Mempererat Solidaritas dan Kebugaran Pendidik dan Tenaga Kependidikan

Untuk memastikan validitas dan otoritas keilmuan, pihak lembaga menghadirkan langsung Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, Ustadz Lukman Hakim, Lc., M.A., sebagai narasumber utama. 
Berbeda dengan pembinaan konvensional yang cenderung satu arah (lecturing), program ini menerapkan metode Problem-Based Learning (PBL) atau Kajian Tarjih Berbasis Masalah. Alur kajian dirancang interaktif melalui tiga tahapan: penyajian studi kasus riil di sekolah, diskusi kelompok (brainstorming), serta konfirmasi dan penguatan hukum oleh narasumber yang merujuk langsung pada dokumen resmi HPT.

Materi prioritas yang dibedah mencakup fikih ibadah praktis anak-anak, seperti tata cara thaharah (wudhu), sifat shalat Nabi, dilema pelurusan shaf shalat berjamaah bagi anak yang belum baligh, hingga literasi finansial syariah kontemporer seperti pemanfaatan denda keterlambatan pegawai untuk operasional sekolah. 

Baca Juga: KKN TK Unigoro 2026 Respon Kondisi Riil Kawasan Hutan Selatan, Bojonegoro Institute Beberkan Strategi Pemberdayaan Masyarakat

Menariknya, metode berbasis masalah ini memantik dinamika forum yang sangat hidup. Kelompok pendidik (guru) menunjukkan antusiasme tinggi pada aspek teologis, metodologi penentuan hukum (manhaj), dan pendekatan pedagogis untuk menjawab pertanyaan kritis siswa. Sementara itu, kelompok tenaga kependidikan—seperti staf tata usaha, petugas keamanan, dan kebersihan—menjadikan forum ini sebagai ruang aman untuk mengonfrontasi kebiasaan ibadah lama mereka dengan dalil-dalil sahih tanpa merasa dihakimi. 

Rangkaian kajian yang terstruktur ini memberikan dampak nyata yang signifikan. Berdasarkan hasil pre-test, post-test, dan uji kompetensi praktis (amaliah) yang dilakukan, SD Muhammadiyah 2 berhasil membangun keseragaman dan standardisasi tuntunan ibadah yang kokoh. Variasi gerakan shalat maupun bacaan dzikir antar-individu kini telah berhasil disinkronkan sesuai keputusan resmi organisasi. 

Baca Juga: Unugiri Bojonegoro Gelar Master Class Publikasi Scopus Hadirkan Akademisi Malaysia

Keberhasilan ini juga melahirkan efek domino (multiplier effect) bagi ekosistem makro sekolah. Para guru kini jauh lebih percaya diri dalam mengintegrasikan nilai-nilai AIK ke dalam mata pelajaran umum maupun pembiasaan karakter harian siswa. Lingkungan SD Muhammadiyah 2 kini berhasil menjelma sebagai laboratorium hidup (living laboratory), di mana keseragaman amaliah Islami yang berkemajuan dipraktikkan secara konsisten mulai dari kepala sekolah, guru, dan juga pegawai. 

Sebagai rencana tindak lanjut demi menjaga keberlanjutan dampak jangka panjang, manajemen SD Muhammadiyah 2 direkomendasikan untuk melembagakan forum bulanan ini menjadi program kerja kepegawaian berkelanjutan. Selain itu, sekolah berencana menyusun dokumen Panduan Praktis (Buku Saku Fikih Guru) sebagai Standar Operasional Prosedur (SOP) ibadah, serta mengintegrasikan hasil penguatan kapasitas ini secara struktural ke dalam kurikulum dan sistem mentoring keagamaan siswa. (Cebeng Alhudayatul Ustadza)

Editor : Hakam Alghivari
#polarisasi praktik ibadah #penguatan ideologi AIK berbasis masalah #SD Muhammadiyah 2 Bojonegoro