Terlalu Memanjakan Anak Bisa Picu Tantrum Manipulatif? Ini Kata Riset Psikologi

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Kamis, 7 Agustus 2025 | 03:14 WIB

 

Ilustrasi foto anak.
Ilustrasi foto anak.

RADARBOJONEGORGO.JAWAPOS.COM - Ketika seorang anak berguling di lantai supermarket sambil menangis keras hanya karena tidak dibelikan mainan, banyak orang tua mungkin menganggapnya sebagai bagian normal dari fase tumbuh kembang.

Namun, dalam perspektif psikologi perkembangan, perilaku seperti ini bisa jadi lebih kompleks dari sekadar “drama anak-anak.”

Sebuah studi yang dilakukan oleh Diah Puspitasari dari Universitas Negeri Semarang dan diterbitkan dalam Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies mengidentifikasi bahwa perilaku tantrum yang muncul secara berulang dan disertai dengan intensitas emosional tinggi sering kali merupakan bentuk manipulasi.

Fenomena ini disebut sebagai tantrum manipulatif, dan menurut hasil riset, hal ini berakar kuat pada pola asuh yang tidak tepat.

Tantrum Bukan Sekadar Luapan Emosi

Dalam istilah psikologi, tantrum didefinisikan sebagai ledakan emosional yang muncul akibat ketidakmampuan anak mengungkapkan keinginan atau menoleransi frustrasi. Namun, studi Puspitasari (2012) menunjukkan bahwa tidak semua tantrum bersifat spontan atau natural. Dalam banyak kasus, anak justru menggunakan tantrum sebagai alat kontrol untuk memanipulasi lingkungan dan orang tua.

“Tantrum manipulatif biasanya muncul ketika anak belajar bahwa dengan menangis keras atau mengamuk, ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya,” tulis Puspitasari dalam laporannya.

Tantrum jenis ini biasanya berkembang akibat pola asuh permisif (terlalu memanjakan) atau otoriter (terlalu menekan), di mana kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi dengan baik. Anak yang sering dibiarkan menangis hingga dituruti, atau sebaliknya, anak yang ditekan tanpa diberi ruang ekspresi, berisiko tinggi mengalami disfungsi dalam regulasi emosi.

Pola Asuh sebagai Akar Masalah

Dalam konteks pengasuhan anak usia dini, pola asuh menjadi kunci utama dalam membentuk perilaku sosial dan emosional anak. Studi ini menguatkan temuan sebelumnya dari Elan dan Handayani (2023) yang menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan neglectful (cuek) dapat menghambat pembentukan karakter anak secara sehat.

Anak dari orang tua otoriter cenderung merasa takut untuk mengekspresikan diri, sementara anak dari orang tua cuek sering merasa terabaikan secara emosional.

Di sisi lain, anak yang dibesarkan dalam pola asuh permisif—di mana hampir semua keinginan dituruti dan sedikit disiplin diberikan—berpotensi mengembangkan strategi manipulatif untuk memenuhi keinginannya, termasuk melalui tantrum.

Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Asma Fadhilah dkk. (2021) yang menunjukkan bahwa minimnya struktur dan batasan dalam pola asuh dapat menyebabkan anak kesulitan mengelola emosi dan bertindak impulsif.

Dalam jangka panjang, anak dengan latar belakang pola asuh permisif cenderung memiliki motivasi akademik rendah dan kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

Efek Jangka Panjang: Dari Emosi Tak Stabil hingga Perilaku Menyimpang

Penting untuk dipahami bahwa perilaku manipulatif yang tidak ditangani sejak dini bisa berkembang menjadi pola komunikasi yang buruk di masa remaja hingga dewasa. Anak yang terbiasa mendapatkan keinginannya melalui tantrum, misalnya, bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap penolakan, rentan stres, bahkan agresif saat tidak mendapat apa yang diharapkan.

“Perilaku manipulatif ini tidak hanya menciptakan masalah bagi lingkungan sosial anak, tetapi juga menghambat perkembangan empati, kemampuan negosiasi, dan kontrol diri,” terang Puspitasari.

Dalam kasus ekstrem, individu dengan latar belakang pengasuhan permisif atau otoriter dan riwayat tantrum manipulatif masa kecil bisa menunjukkan gejala gangguan emosional seperti kecemasan kronis, depresi, hingga kecenderungan perilaku menyimpang di lingkungan sekolah maupun sosial.

Mengapa Pola Asuh Otoritatif Lebih Disarankan?

Sebagian besar literatur psikologi anak menekankan pentingnya pola asuh otoritatif—yakni pola asuh yang menyeimbangkan antara kedisiplinan dan kasih sayang. Pendekatan ini memungkinkan anak merasa aman secara emosional, namun tetap belajar tentang batasan, tanggung jawab, dan cara menyampaikan keinginan secara sehat.

Dalam praktiknya, pola asuh otoritatif mendorong komunikasi dua arah, di mana anak diberi ruang untuk mengungkapkan emosi namun juga dikenalkan pada aturan yang konsisten. Pola ini dinilai paling efektif dalam membentuk anak yang mandiri, percaya diri, dan tangguh secara emosional.

Tantrum manipulatif bukanlah fenomena sepele. Ia bisa menjadi sinyal adanya disfungsi pengasuhan yang berdampak panjang pada perkembangan emosional anak.

Pola asuh yang tidak tepat, baik yang terlalu keras maupun terlalu lunak, sama-sama berisiko menimbulkan dampak negatif yang kompleks, mulai dari kesulitan mengelola emosi hingga terbentuknya pola perilaku menyimpang di masa depan.

Berdasarkan temuan berbagai riset, termasuk studi oleh Puspitasari (2012), pilihan terbaik bagi orang tua adalah memperkuat pendekatan otoritatif dalam pengasuhan. Dengan memberi batasan yang sehat dan cinta yang konsisten, orang tua tidak hanya menghindari tantrum manipulatif, tetapi juga turut membentuk karakter anak yang stabil secara emosional dan siap menghadapi tantangan kehidupan. (kam)

 

 

Editor : Hakam Alghivari
psikologi memanjakan anak tantrum riset manipulatif