RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak rumah tangga masih sering terdengar ungkapan seperti, “Dasar anak nakal!”, “Ayo, jangan malu-malu, kamu tuh pemalu banget sih!”, atau “Kamu tuh bodoh ya, masa gitu aja nggak bisa.”
Kalimat-kalimat seperti ini sering dianggap sepele, bahkan sebagai bentuk kejujuran atau motivasi dari orangtua kepada anak.
Namun di balik itu, tersembunyi dampak psikologis yang dapat membekas panjang dalam diri seorang anak, terutama pada usia 4–10 tahun yang merupakan fase penting pembentukan identitas dan kepercayaan diri.
Ketika Sebuah Kata Menjadi Identitas
Labeling atau pelabelan negatif pada anak adalah bentuk komunikasi yang menilai anak secara menyeluruh hanya berdasarkan satu tindakan atau karakteristik. Seorang anak yang sedang aktif mungkin langsung dicap ‘nakal’, padahal ia hanya belum mampu mengekspresikan rasa ingin tahunya secara terstruktur.
Bahkan, anak yang lambat beradaptasi di tempat baru bisa saja dianggap pemalu atau antisosial, padahal ia hanya butuh waktu untuk merasa aman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan pengasuhan positif menegaskan pentingnya membangun komunikasi suportif yang tidak menyematkan label pada anak.
Label negatif, jika diulang terus-menerus, bisa tertanam menjadi bagian dari identitas diri anak. Hal ini dikenal dalam psikologi sebagai self-fulfilling prophecy—ketika seseorang bertindak sesuai dengan harapan atau label yang diberikan padanya.
Dampak Psikologis: Dari Cemas hingga Merasa Tak Mampu
Dalam kajian yang dirilis oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), disebutkan bahwa anak-anak yang sering mendapat label negatif cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri, gangguan relasi sosial, bahkan kecemasan.
Mereka bisa merasa tidak berdaya, menolak mencoba hal baru karena takut gagal, atau justru membenarkan label buruk itu sebagai bagian dari dirinya.
Data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menunjukkan bahwa tekanan verbal seperti labeling dapat mengganggu perkembangan emosional anak, terutama jika terjadi pada usia emas perkembangan (golden age).
Anak-anak usia 4–10 tahun sedang membentuk konsep diri mereka melalui cermin dari orang-orang terdekat, terutama orangtua. Maka, ketika cermin itu memantulkan gambaran negatif terus-menerus, anak akan belajar bahwa ia tidak cukup baik, tidak layak dicintai, atau tidak mampu berkembang.
Kritik Perilaku, Bukan Kepribadian
Di sinilah pentingnya membangun narasi yang sehat dan positif dalam keseharian. Bukan berarti orangtua tidak boleh menegur atau mengoreksi perilaku anak. Namun yang perlu dibedakan adalah mengkritik tindakan, bukan kepribadian.
Seorang anak boleh ditegur karena melempar barang, tapi hindari menyebutnya ‘anak nakal’. Fokus pada perbuatannya, bukan melekatkan identitas yang merugikan.
Sebagai contoh:
-
Daripada berkata, “Kamu pemalu banget sih, malu-maluin!”, orangtua bisa berkata, “Kakak butuh waktu ya untuk kenalan sama teman baru? Mama ngerti, kita bisa pelan-pelan bareng, ya.”
-
Alih-alih berkata, “Kamu bodoh, masa nggak bisa ngerjain soal ini?”, lebih baik mengatakan, “Soal ini memang sulit, tapi kita coba sama-sama yuk, pelan-pelan juga nggak apa-apa.”
Kalimat-kalimat seperti ini memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan rasa aman dalam prosesnya. Ini adalah bentuk komunikasi yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melindungi kesehatan mental anak.
Bukan Sekadar Positif, Tapi Juga Realistis
Label positif pun perlu digunakan secara bijak. Terlalu sering memuji anak dengan kata ‘pintar’ juga bisa membuat anak terjebak dalam pola pikir tetap (fixed mindset).
Menurut psikolog Carol Dweck, penting untuk memuji usaha dan proses, bukan hanya hasil. Misalnya, “Kamu hebat karena sudah berusaha keras menyelesaikan PR ini,” bukan sekadar, “Kamu anak pintar!”
Dengan memuji proses, anak akan belajar bahwa kegigihan dan kerja keras adalah nilai utama, bukan sekadar kecerdasan bawaan. Ini membentuk pola pikir berkembang (growth mindset) yang lebih sehat dan adaptif.
Orangtua Belajar, Anak Bertumbuh
Membangun hubungan yang sehat antara orangtua dan anak bukan soal menjadi sempurna, melainkan soal kesiapan untuk belajar dan tumbuh bersama.
Menghindari labeling adalah salah satu langkah penting dalam menciptakan ruang pengasuhan yang aman secara emosional. Anak-anak yang dibesarkan tanpa label negatif akan lebih percaya diri, lebih mudah berempati, dan tumbuh menjadi pribadi yang berdaya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari