Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

7 Cara Mendidik Anak agar Punya Empati Sejak Dini, Berdasarkan Studi dan Pendekatan Ilmiah

Hakam Alghivari • Jumat, 1 Agustus 2025 | 13:22 WIB
Ilustrasi anak pertama laki-laki yang berusaha menjalankan perannya sebagai seorang kakak dengan baik
Ilustrasi anak pertama laki-laki yang berusaha menjalankan perannya sebagai seorang kakak dengan baik

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Empati bukan sekadar kemampuan merasa kasihan pada orang lain. Lebih dari itu, empati melibatkan kemampuan untuk mengenali emosi, memahami perspektif orang lain, dan menanggapi dengan penuh kasih.

Dalam dunia yang semakin individualistik, membesarkan anak dengan empati menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak bagi para orangtua.

Studi dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa empati memiliki dasar biologis, namun perkembangannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama pola asuh orangtua.

Menurut Harvard University’s Center on the Developing Child, masa kanak-kanak adalah fase penting bagi perkembangan sosial-emosional anak, termasuk empati. Oleh karena itu, usia dini 4 hingga 10 tahun menjadi periode krusial untuk menanamkan nilai empati secara aktif.

1. Tunjukkan Empati Lewat Perilaku Sehari-hari

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Saat orangtua menunjukkan empati—misalnya dengan mendengarkan pasangan tanpa menyela, menolong tetangga yang sedang kesulitan, atau menunjukkan kepedulian terhadap hewan—anak akan merekam perilaku itu sebagai hal yang layak ditiru.

Menurut Dr. Michele Borba, penulis buku UnSelfie: Why Empathetic Kids Succeed in Our All-About-Me World, empati tidak bisa tumbuh dalam ruang hampa. Anak perlu melihat empati secara nyata agar mereka bisa menirunya.

Menjadi panutan dalam menanggapi emosi orang lain dengan hangat dan penuh perhatian adalah langkah awal yang paling efektif dalam menumbuhkan empati anak.

2. Bantu Anak Mengenali dan Menamai Emosi

Sebelum bisa memahami perasaan orang lain, anak perlu mengenal dan memahami emosinya sendiri terlebih dahulu. Ini disebut sebagai kesadaran emosional (emotional awareness), fondasi penting dalam membangun empati.

Orangtua bisa membantu anak dengan menamai emosi dalam kehidupan sehari-hari, seperti "Kamu kelihatan kecewa karena mainannya rusak, ya?" atau "Kakak marah karena adik mengambil pensilnya, begitu?"

Metode ini dikenal sebagai emotion coaching, yang dipopulerkan oleh Dr. John Gottman. Dalam praktiknya, orangtua bertindak sebagai pelatih emosi yang tidak hanya mengakui perasaan anak, tetapi juga membimbing mereka mengenal cara mengekspresikan dan mengelola emosi dengan sehat.

Semakin baik anak mengenali emosinya, semakin mudah ia memahami perasaan orang lain dalam situasi sosial.

Baca Juga: 3 Kepribadian Anak yang Terbentuk Akibat Salah Pola Asuh Orang Tua

3. Gunakan Cerita dan Buku untuk Mengembangkan Perspektif

Membacakan buku cerita kepada anak bukan hanya kegiatan menyenangkan, tetapi juga sarana untuk melatih empati. Cerita fiksi memperkenalkan anak pada berbagai karakter, latar, dan konflik emosional.

Ketika anak diajak memahami perasaan tokoh-tokoh dalam cerita, mereka sedang melatih kemampuan perspective-taking atau memahami sudut pandang orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science oleh Kidd dan Castano (2013) menemukan bahwa membaca fiksi sastra dapat meningkatkan theory of mind, yakni kemampuan mengenali dan memahami pikiran serta perasaan orang lain.

Meskipun efek ini bersifat sementara dan tidak selalu muncul pada setiap anak, pembiasaan membaca sejak dini tetap memberi dampak positif terhadap kemampuan sosial anak, terutama jika diiringi dengan diskusi dan pertanyaan terbuka seputar cerita.

4. Ajak Anak Terlibat dalam Kegiatan Sosial atau Amal

Pengalaman langsung adalah guru terbaik. Mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti membagikan makanan kepada yang membutuhkan, menyumbang mainan bekas, atau menjenguk teman yang sedang sakit, bisa menjadi cara konkret untuk menumbuhkan empati. Namun yang terpenting, orangtua perlu menjelaskan alasan di balik tindakan itu agar anak memahami konteksnya.

Misalnya, daripada hanya berkata “Yuk kita sedekah,” akan lebih baik jika dijelaskan, “Anak-anak di panti asuhan belum tentu punya baju hangat seperti kamu, jadi kita bisa berbagi supaya mereka juga merasa nyaman.”

Pendekatan tersebut membantu anak menghubungkan perasaan dengan tindakan nyata, membentuk apa yang disebut compassionate empathy, yaitu empati yang mendorong aksi peduli terhadap orang lain.

5. Latih Anak Menyelesaikan Konflik dengan Pendekatan Empatik

Konflik antar anak, seperti berebut mainan atau berselisih pendapat dengan teman, sebenarnya adalah peluang emas untuk melatih empati. Alih-alih langsung menjadi hakim dan memberi hukuman, orangtua bisa membimbing anak mengenali emosi masing-masing pihak dan mencari solusi yang adil bersama-sama.

Metode ini disebut empathic problem-solving. Menurut Dr. Laura Markham, pendiri Aha! Parenting, anak-anak yang dilatih menyelesaikan konflik dengan memahami perasaan orang lain cenderung tumbuh menjadi individu yang sabar, komunikatif, dan solutif. Pendekatan ini juga memperkuat keterampilan sosial yang akan sangat berguna saat anak masuk usia sekolah.

6. Apresiasi Perilaku Empati Anak Secara Spesifik

Pujian yang tepat bisa memperkuat perilaku positif, termasuk sikap empati. Namun, pujian yang terlalu umum seperti “Anak baik!” tidak seefektif pujian spesifik yang menyoroti tindakan dan dampaknya.

Misalnya, “Mama bangga kamu memeluk temanmu yang sedih tadi. Itu sangat membantu dia merasa lebih baik.”

Menurut studi dari Child Mind Institute, pujian yang konkret membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan hasilnya. Dengan begitu, mereka terdorong mengulangi perilaku positif tersebut secara sadar, bukan karena ingin mendapat hadiah, tapi karena tahu itu adalah hal yang baik dilakukan.

7. Batasi Paparan Media yang Mengandung Kekerasan atau Sikap Tak Peduli

Apa yang anak lihat akan memengaruhi bagaimana ia memandang dunia. Paparan berlebihan terhadap media yang penuh kekerasan, ejekan, atau ketidakpedulian bisa menumpulkan sensitivitas emosional anak.

American Psychological Association (APA) menegaskan bahwa anak yang terlalu sering melihat kekerasan di media cenderung menjadi kurang peka terhadap penderitaan orang lain.

Sebaliknya, orangtua dapat memilihkan tontonan atau konten yang mengandung pesan moral, kerja sama, dan nilai sosial.

Menonton film bersama lalu berdiskusi tentang perasaan karakter, tindakan benar-salah, dan pilihan yang diambil, adalah cara sederhana tapi efektif menumbuhkan empati sekaligus mempererat hubungan emosional antara orangtua dan anak.

Menumbuhkan empati pada anak adalah proses yang panjang dan membutuhkan konsistensi. Namun hasilnya sepadan: anak yang berempati cenderung lebih bahagia, sukses secara sosial, dan memiliki hubungan yang lebih sehat di masa depan. Orangtua bukan hanya penonton dalam proses ini, tapi aktor utama yang menentukan arah tumbuh kembang emosional anak.

Empati adalah jembatan antarhati. Dan membangun jembatan itu dimulai dari rumah—dari cara kita berbicara, bersikap, dan mencintai mereka setiap hari. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#usia dini #empati #anak #orang tua #pola asuh