RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Empat desa di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro ditunjuk menjadi sebgaian kecil dari lokasi penyelenggaraan program Mahasiswa
Selain itu, UB juga melakukan kerjasama dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), yang diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Waduk Bandung Bondowoso, Desa Sidobandung pada Kamis malam (24/7).
Rektor UB, Widodo bersama dengan Menteri Desa Yandri Susanto menandatangani kesepakatan tersebut berbarengan dengan acara rembuk warga bersama dengan berbagai kepala desa di kecamatan Balen dan sekitarnya. Momen tersebut juga dimanfaatkan untuk menjenguk mahasiswa UB yang melaksanakan kegiatan MMD tersebut, yang berfungsi setara dengan KKN.
“Terima kasih kepada pemerintah desa dan warga setempat telah menerima anak-anak kami yang sedang menjalankan program MMD. MMD atau KKN merupakan kegiatan esensial untuk mengenalkan mahasiswa kepada masyarakat, dan mendorong mahasiswa untuk belajar kepada masyarakat,” jelas pria yang kampung halamannya tak jauh dari lokasi, yakni di Desa Ngadiluhur.
Program MMD sendiri dilaksanakan pada tahun ini dengan kurang lebih seribu mahasiswa dari 14 fakultas yang tersebar di 76 desa di lima kabupaten, yakni Kabupaten Malang, Bojonegoro, Ngawi, Lumajang dan Banyuwangi. Di Bojonegoro sendiri, MMD dilakukan di Kecamatan Balen di empat desa, yakni Desa Kenep, Desa Pilanggede, Desa Ngadiluhur dan Desa Sidobandung.
“Targetnya, dapat tercipta teknologi tepat guna yang harapannya dapat dimanfaatkan dan memberi semangat kepada penduduk setempat,” papar Widodo.
Perkiraan pria bergelar Profesor tersebut, dari seluruh peserta terdapat 600 mahasiswa yang terlibat dalam program pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan Pemkab Bojonegoro, termasuk Gayatri (Gerakan Ayam Petelur Mandiri).”Yang ikut khusus dari Fakultas Peternakan,” tambahnya.
Di samping itu, Widodo memandang ada potensi pangan ekstra yang dapat digali dari Desa Sidobandung. Menurutnya, peternakan sapi perah di desa tersebut punya potensi mendukung produksi susu di Indonesia.
“Saya kaget, ternyata di Sidobandung ada produksi susu sapi juga. Terlebih menurut Kementerian Pertanian, produksi susu nasional baru mencapai 20 persen dari kebutuhan, yang berarti 80 persen sisanya impor,” jelas Widodo.
Fakta tersebut juga mencerminkan sedikitnya peternak sapi yang berfokus pada susu di Indonesia. “Sehingga merupakan kejutan baik bahwa peternak Sidobandung bisa memproduksi susu, jika dapat diperluas bakal jadi sangat bagus,” jelasnya.
Selain produksi susu sapi di Sidobandung, program MMD UB juga menilik potensi pertanian akuaponik di Desa Kenep. Di luar pertanian, program berfokus pada pengembangan desa wisata di Desa Pilanggede, dan transformasi BUMDes di Desa Ngadiluhur. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana