Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Moms, Jangan Bangga Dulu Kalau Anaknya Penurut, Psikolog Ungkap Fakta Emosional di Baliknya

Hakam Alghivari • Rabu, 2 Juli 2025 | 00:09 WIB

 

Anak terlalu penurut? bisa jai ada sesuatu di baliknya. Ini kata psikologi.
Anak terlalu penurut? bisa jai ada sesuatu di baliknya. Ini kata psikologi.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika seorang anak selalu menurut tanpa banyak bertanya, tak sedikit orangtua merasa bangga. “Anakku nggak pernah melawan,” begitu kira-kira kata sebagian ibu.

Namun, sejumlah penelitian psikologi justru menunjukkan bahwa anak yang terlalu penurut bisa menyimpan tekanan emosi yang tak terlihat.

Anak penurut bukan selalu tanda anak baik, tapi bisa menjadi alarm diam-diam dari luka yang belum diungkap.

Sebuah studi yang dimuat dalam BMC Psychology tahun 2023 mengungkapkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh otoriter atau permisif cenderung mengalami toxic compliance—yakni patuh karena takut, bukan karena mengerti.

Studi BMC Psychology tahun 2023 juga menemukan adanya keterkaitan antara rasa malu yang mendalam (shame) dan kemampuan anak untuk mengungkapkan perasaannya secara jujur. Anak-anak ini tumbuh dengan keinginan kuat untuk menyenangkan orangtua, bahkan jika itu berarti mengorbankan apa yang mereka rasakan.

Fenomena ini diperkuat oleh temuan dari Gottman Institute yang meneliti dampak meta-emotion parenting—yakni bagaimana orangtua merespons emosi anak.

Ketika orangtua hanya memuji anak saat mereka "baik dan tidak rewel", anak belajar bahwa emosi negatif seperti marah, kecewa, atau sedih adalah sesuatu yang salah. Dalam jangka panjang, anak bisa kehilangan kemampuan mengenali dan mengekspresikan perasaannya sendiri.

Dr. Veronika Kralova, psikolog klinis yang terlibat dalam riset BMC Psychology tersebut, menyebut bahwa anak yang “terlalu patuh” cenderung menghindari konflik karena merasa dirinya harus selalu sempurna.

Mereka sulit mengatakan "tidak", bahkan saat merasa tidak nyaman. “Kepatuhan ekstrem bukan bentuk kedewasaan, melainkan hasil dari ketakutan untuk mengecewakan,” ungkapnya.

Dampaknya bisa panjang. Anak-anak ini berisiko mengalami kecemasan sosial, rendah diri, dan kesulitan dalam hubungan sosial ketika dewasa. Mereka sering kali terlalu fokus pada penerimaan orang lain, dan merasa bersalah ketika harus memperjuangkan kebutuhan diri sendiri.

Sayangnya, banyak orangtua yang tanpa sadar memperkuat pola ini. Mereka merasa berhasil ketika anak bisa diam, nurut, dan nggak banyak nanya.

Padahal, yang dibutuhkan anak bukan sekadar batasan, tetapi juga ruang aman untuk merasa dan bersuara. Alih-alih melabeli anak yang menolak sebagai nakal, para ahli menyarankan untuk memvalidasi perasaan mereka, sekaligus mengajarkan cara mengungkapkan dengan cara yang sehat.

Mengasuh anak agar taat memang penting, tetapi jauh lebih penting lagi membesarkan anak yang tahu kapan harus setuju, kapan harus berkata tidak, dan yang berani menyuarakan pikirannya dengan hormat.

Kepatuhan yang dibarengi dengan keberanian mengekspresikan diri adalah ciri anak yang tumbuh sehat, bukan sekadar "baik" di permukaan. (kam)

Editor : Hakam Alghivari
#studi #psikologi #anak #Anak Penurut #orangtua