RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebagian orang tua merasa cemas atau kewalahan saat anak mereka tidak bisa duduk tenang, selalu ingin bergerak, memanjat, atau berlari ke sana kemari. Tidak jarang, anak seperti ini dilabeli “tidak bisa diam,” “bandel,” atau bahkan “hiperaktif.” Namun, sebelum terburu-buru memberi label, penting untuk memahami bahwa aktivitas tinggi pada anak bisa menjadi bagian alami dari tahap tumbuh kembang dan tanda kecerdasan tertentu.
Setiap anak memiliki cara unik dalam mengekspresikan rasa ingin tahunya terhadap dunia. Beberapa anak lebih senang duduk membaca buku, sementara yang lain merasa belajar paling efektif saat bergerak aktif. Anak yang banyak bergerak belum tentu sulit diatur, melainkan sedang menunjukkan gaya belajar yang khas, yang sering kali terabaikan dalam pola pengasuhan atau sistem pendidikan yang seragam.
Dalam banyak kasus, anak yang aktif justru memiliki potensi luar biasa jika diarahkan dengan pendekatan yang tepat. Alih-alih berusaha “menenangkan” mereka, orang tua dapat menggali lebih dalam apa makna dari gerakan tersebut dan bagaimana menggunakannya sebagai pintu masuk untuk mendukung proses belajar dan pertumbuhan mental anak.
Baca Juga: Moms, Anak Sering Main Sampai Lupa Waktu? Bisa Jadi Itu Tanda Kemandirian, Bukan Nakal
Aktivitas Fisik: Ciri Anak Sehat dan Ingin Belajar
Dalam dunia psikologi perkembangan, gerak adalah bagian penting dari eksplorasi. Anak-anak usia 5–10 tahun berada dalam fase di mana tubuh mereka berkembang cepat, dan otak mereka menyerap informasi terutama melalui pengalaman langsung.
Menurut studi dari Harvard University’s Center on the Developing Child, sistem motorik anak-anak yang aktif merangsang pertumbuhan koneksi antarsel saraf di otak, yang berkaitan dengan kemampuan belajar, regulasi emosi, dan pemecahan masalah.
Kondisi ini sejalan dengan penjelasan dari Dr. John Ratey, profesor psikiatri dari Harvard Medical School, yang menyebut bahwa gerakan fisik membantu memperkuat fungsi kognitif. Dalam bukunya Spark: The Revolutionary New Science of Exercise and the Brain, ia menekankan bahwa gerak bukan hanya pelampiasan energi, tetapi bahan bakar bagi otak anak.
Kecerdasan Kinestetik: Belajar Lewat Tubuh
Dilansir dari teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Howard Gardner (Harvard University), ada jenis kecerdasan yang disebut bodily-kinesthetic intelligence. Anak dengan kecerdasan ini belajar lebih baik lewat aktivitas fisik: menyentuh, memindahkan, meniru gerakan, atau melakukan sesuatu secara langsung.
Mereka tidak bisa hanya mendengarkan atau duduk diam; mereka perlu menggerakkan tubuh untuk memahami konsep. Sayangnya, di banyak sistem pendidikan atau lingkungan rumah, gaya belajar ini sering disalahpahami sebagai ketidakmampuan untuk fokus.
Sebuah studi dalam Educational Psychology Review (2017) menunjukkan bahwa ketika anak-anak aktif diberi ruang untuk bergerak dalam proses belajar (misalnya lewat permainan motorik atau kegiatan langsung), mereka justru menunjukkan konsentrasi dan retensi materi yang lebih tinggi dibanding anak yang hanya duduk pasif.
Beda Anak Aktif dan Hiperaktif
Meski sering tertukar, anak aktif bukan berarti mengalami gangguan hiperaktivitas (ADHD). Perbedaannya terletak pada konteks dan kemampuan regulasi diri.
Menurut American Psychiatric Association (DSM-5), diagnosis ADHD hanya dapat ditegakkan bila gejala hiperaktivitas:
- Bertahan setidaknya 6 bulan
- Muncul di berbagai lingkungan (sekolah, rumah, tempat umum)
- Mengganggu fungsi sosial atau akademik
- Disertai dengan kesulitan fokus dan impulsivitas ekstrem
Dengan kata lain, anak aktif belum tentu bermasalah. Mereka hanya membutuhkan pendekatan pengasuhan yang sesuai dengan kebutuhan sensorik dan cara belajar mereka.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Anak yang banyak bergerak bukan masalah yang harus “diredam,” melainkan energi yang perlu diarahkan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Fasilitasi ruang gerak: Sediakan waktu bermain aktif, ajak ke taman, ikutkan kelas olahraga, atau libatkan dalam aktivitas rumah tangga ringan.
- Gunakan metode belajar aktif: Seperti belajar sambil bermain, eksperimen langsung, atau metode kinestetik.
- Latih kesadaran tubuh: Teknik seperti yoga anak, latihan pernapasan, atau permainan tenang juga penting untuk menyeimbangkan energi.
- Bangun rutinitas: Jadwal yang konsisten membantu anak belajar kapan waktunya bergerak dan kapan waktunya tenang.
- Dikutip dari Child: Care, Health and Development Journal (2020), anak-anak yang dibesarkan dalam pola pengasuhan yang responsif terhadap gaya aktivitas mereka menunjukkan tingkat stres lebih rendah dan perkembangan emosi yang lebih stabil.
Anak yang tak bisa diam bukanlah masalah, melainkan individu yang sedang berkembang aktif. Dengan memahami kecenderungan fisik dan gaya belajarnya, orang tua bisa memberikan dukungan yang tepat—bukan tuntutan untuk “tenang,” tapi ruang untuk berkembang sesuai kodratnya.
Karena bisa jadi, anak yang hari ini sibuk memanjat pohon atau lompat dari sofa, adalah pembelajar kinestetik yang suatu saat menjadi atlet, penari, teknisi, atau ahli bedah hebat di masa depan. (kam)
Editor : Hakam Alghivari