RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Siapa sangka, benda sederhana seperti kipas angin bisa menjadi sumber inspirasi besar bagi seorang anak?
Itulah yang dialami oleh Arrasya Wardhana Bachtiar, putra semata wayang dari pasangan selebriti Tasya Kamila dan Randi Bachtiar.
Di usianya yang masih sekitar lima tahun, Arrasya tidak hanya dikenal karena kecerdasannya, tetapi juga karena hobinya yang unik: mengoleksi kipas angin.
Lebih dari sekadar hobi, kegemaran Arrasya ini bahkan berkembang menjadi sebuah cita-cita. Tasya menceritakan bagaimana anaknya sangat menyukai kipas angin sebagai mainan favorit, hingga akhirnya mereka menyadari ada potensi besar dalam ketertarikan itu.
“Yah, anak aku koleksi kipas angin, mainan favoritnya kipas angin. Dia walaupun kita selalu, ‘Oh, berarti kamu cita-citanya mau jadi engineer ya?’ Iya, dia pengen jadi engineer. Jadi dari sekarang udah kita plotkan dia mau jadi engineer, gitu kayak Papahnya,” ujar Tasya Kamila seperti dikutip dari kanal YouTube Raditya Dika.
Dari Takut Jadi Tertarik
Yang menarik, ketertarikan Arrasya pada kipas angin tidak muncul sejak awal. Justru, awalnya ia merasa takut saat melihat benda tersebut. Namun respons positif dari orangtua menjadi kunci perubahan.
“Awalnya dia tuh takut sama kipas. Jadi setiap ada kipas, dari umur sebelum satu tahun lah, dia takut. Tapi kita selalu bilang, 'nggak apa-apa, nggak apa-apa',” kenang Tasya.
Pergeseran terjadi ketika suatu hari mereka sedang menonton YouTube bersama. Arrasya melihat kipas kecil di salah satu tayangan dan tertarik. Dari situ, Tasya mulai mencari konten-konten seputar kipas angin yang ramah untuk anak-anak.
“Ternyata banyak konten kreator kipas angin untuk anak-anak, dan dia masuk ke komunitas tersebut,” ujar Tasya.
Berkreasi dengan Imajinasi: Dari Koleksi hingga Bengkel Mini
Minat Arrasya tidak berhenti pada menonton atau mengoleksi. Seiring bertambah usia, cara ia bermain kipas pun ikut berkembang. “Dulu pas umur 1 tahun, dia cuma suka jajar-jajarin koleksinya. Dari situ dia belajar warna, lalu mulai berimajinasi,” kata Tasya.
Kini, Arrasya mulai membongkar dan merakit sendiri kipas mainannya, bahkan menciptakan versi kipasnya sendiri dari kardus atau botol bekas. Rumah pun kadang terasa seperti bengkel kecil yang hidup sejak pagi.
“Pagi-pagi tuh kayak ‘tak tak tak tak’, itu suara kipas lagi diapain,” cerita Tasya sambil tertawa.
Orangtua Perlu Peka terhadap Minat Anak Sejak Dini
Melihat perkembangan tersebut, Tasya dan suaminya merasa perlu memberikan dukungan serius. Apalagi sang ayah, Randi Bachtiar, memang memiliki latar belakang sebagai engineer. Maka tak heran jika cita-cita anaknya mengarah ke sana.
Pendekatan ini dikenal sebagai interest-based learning, yaitu metode pendidikan yang menyesuaikan dengan minat alami anak. Banyak pakar parenting menyebut bahwa mendampingi anak sesuai minatnya bukan hanya meningkatkan kepercayaan diri, tapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keuletan sejak dini.
Cita-Cita Bisa Tumbuh dari Hal Sederhana
Kisah Arrasya membuktikan bahwa minat anak—sekecil atau sesederhana apapun—bisa menjadi benih besar jika disirami dengan dukungan dan ruang eksplorasi. Dari kipas angin yang semula menakutkan, Arrasya menjadikannya dunia bermain, belajar, dan bercita-cita.
Orangtua bisa belajar untuk lebih terbuka, peka, dan suportif terhadap hobi kecil anak. Karena siapa tahu, dari sekadar mainan, lahir masa depan yang besar. (kam)
Editor : Hakam Alghivari