Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Bukan Sekadar Pintar, Ini 7 Kebiasaan Sehari-hari Anak yang Menunjukkan Kecerdasan Emosional Tinggi

Hakam Alghivari • Rabu, 18 Juni 2025 | 19:32 WIB
Ilustrasi foto kebiasaan anak.
Ilustrasi foto kebiasaan anak.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Banyak orang tua berfokus pada nilai akademik anak, kemampuan berhitung cepat, atau seberapa luas kosakatanya.

Tapi ada satu bentuk kecerdasan yang justru lebih menentukan keberhasilan anak di masa depan, yaitu kecerdasan emosional (emotional intelligence atau EQ).

Daniel Goleman, psikolog ternama dan penulis buku Emotional Intelligence, menegaskan bahwa EQ berperan besar dalam kesuksesan personal dan sosial seseorang.

Anak-anak dengan EQ tinggi bukan hanya pandai mengelola emosi sendiri, tetapi juga memiliki empati, mampu membangun hubungan yang sehat, dan tangguh dalam menghadapi tekanan.

Baca Juga: 7 Aktivitas Seru yang Bisa Mom Lakukan untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Anak Sejak Dini

Menariknya, kecerdasan emosional tidak hanya muncul dalam kondisi ekstrem, tapi tersirat dari kebiasaan sederhana sehari-hari yang kerap luput dari perhatian. Berikut adalah 7 tanda atau kebiasaan anak yang menunjukkan EQ tinggi menurut kajian psikologi perkembangan.

1. Anak Mampu Menamai dan Mengungkapkan Emosinya

Anak-anak yang cerdas secara emosional tidak sekadar menangis atau marah saat kecewa. Mereka mampu menyebutkan perasaannya dengan jelas, seperti mengatakan, “Aku sedih karena temanku tidak mau bermain denganku,” atau “Aku marah karena kamu tidak menepati janji.”

Studi Yale Center for Emotional Intelligence menyebut kemampuan emotion labeling adalah fondasi regulasi emosi dan prediktor hubungan sosial yang baik di masa depan.

Anak yang terbiasa dilatih mengidentifikasi emosi sejak dini akan lebih mudah memahami diri sendiri dan orang lain, sehingga lebih sehat secara mental dan lebih tangguh secara sosial.

Baca Juga: Mom, Jangan Panik! Begini Cara Cerdas Menangani Mood Swing si Kecil

2. Anak Suka Mendengarkan dan Tidak Memotong Pembicaraan

Salah satu indikator empati adalah kemampuan mendengarkan secara aktif. Anak dengan EQ tinggi tidak terburu-buru menyela, bahkan menunjukkan ketertarikan lewat ekspresi wajah dan gestur tubuh.

Dalam Harvard Study of Adult Development, kualitas hubungan interpersonal, termasuk kemampuan mendengarkan dan hadir secara penuh, menjadi salah satu faktor utama kebahagiaan jangka panjang.

Kebiasaan ini biasanya terbentuk dari lingkungan rumah yang membiasakan anak didengar dan tidak diremehkan saat bicara.

Baca Juga: Lima Cara Jitu Menangkal Anak Kecanduan Konten Pornografi dan Konten Negatif dari Handphone

3. Anak Peka terhadap Perasaan Orang Lain

Jika anak Anda mudah merasa kasihan pada teman yang dijauhi, menolong hewan yang terluka, atau langsung merasa tidak enak saat melihat orang tua lelah, itu tanda kuat adanya empati—bagian inti dari EQ.

Penelitian oleh Decety & Cowell (2014) menyatakan bahwa empati muncul alami pada anak sejak usia dini, dan dapat diperkuat melalui interaksi yang penuh kasih sayang.

Anak yang terbiasa diajak berdiskusi tentang perasaan, konflik sosial, atau cerita dengan nilai kemanusiaan, akan lebih mudah mengembangkan kepekaan sosial ini.

4. Anak Bisa Tenangkan Diri Saat Kesal

Salah satu ciri penting EQ tinggi adalah self-regulation. Anak yang bisa menarik napas, menjauh dari sumber konflik, atau memilih diam saat kesal, menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mengatur impulsnya.

Dalam model Self-Regulation Framework oleh McClelland et al. (2007), anak-anak dengan kemampuan ini cenderung lebih sukses secara akademik dan sosial karena mampu berpikir jernih dalam situasi penuh tekanan.

Biasanya, anak yang memiliki rutinitas harian yang stabil, tidur cukup, dan dibiasakan menenangkan diri sejak kecil akan lebih mudah membentuk regulasi diri yang baik.

5. Anak Minta Maaf dan Bisa Mengakui Kesalahan

Tak semua anak berani mengakui kesalahan. Jika anak Anda terbiasa berkata, “Maaf, aku tidak sengaja mendorong,” itu pertanda dia belajar tanggung jawab emosional—bagian dari kesadaran diri dan empati sosial.

Daniel Goleman menyebut kemampuan mengakui kesalahan sebagai bagian dari social skill yang penting untuk membangun kepercayaan.

Anak seperti ini juga biasanya lebih terbuka terhadap umpan balik dan bersedia memperbaiki diri tanpa perlu dipaksa.

6. Anak Tidak Malu Bertanya Jika Bingung atau Takut

Kebanyakan anak yang memiliki EQ tinggi tidak menyembunyikan ketakutannya. Mereka merasa aman untuk berkata, “Aku takut gelap,” atau “Aku belum paham pelajarannya.”

Ini menandakan adanya rasa aman (secure attachment) dan kepercayaan diri dalam mengungkapkan emosi rentan.

Baca Juga: Mom, Ini Rahasia Mendidik Anak Pertama agar Jadi Kakak Panutan yang Disayang Adik

Menurut teori Attachment oleh John Bowlby, anak yang merasa aman secara emosional lebih berani mengekspresikan perasaannya dan berkembang lebih sehat secara sosial.

Anak seperti ini terbentuk dari relasi yang hangat, terbuka, dan tidak menghakimi dalam keluarga.

7. Anak Mau Berbagi Tanpa Dipaksa

Entah itu berbagi mainan, makanan, atau perhatian, anak dengan EQ tinggi memahami nilai berbagi sebagai bentuk kasih sayang, bukan sekadar perintah.

Mereka tidak merasa kehilangan saat memberi, karena mereka belajar bahwa memberi menciptakan koneksi yang bermakna.

Studi dari University of Chicago (2010) menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa berbagi sejak dini cenderung memiliki empati tinggi dan relasi sosial yang kuat di masa depan.

Kebiasaan ini bukan dibentuk dari paksaan, melainkan dari pengalaman melihat dan merasakan makna berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

Latih EQ Anak dari Hal Sederhana

Kecerdasan emosional bukan bawaan lahir semata. Ia tumbuh dan berkembang lewat kebiasaan kecil yang diasah terus-menerus dalam lingkungan yang hangat, suportif, dan komunikatif.

Jika anak Anda menunjukkan beberapa tanda di atas, itu berarti Anda telah berada di jalur yang tepat dalam mendidiknya.

EQ yang baik akan menjadi fondasi penting untuk kesuksesan di sekolah, dunia kerja, hingga kehidupan spiritual dan sosial. (kam)

 

Editor : Hakam Alghivari
#EQ tinggi #Emotional Intelligence #anak #kebiasaan anak #parenting