RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjaga kesehatan gigi anak merupakan bagian penting dari perawatan tubuh sejak dini. Sayangnya, banyak orang tua kurang memahami kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan sikat gigi pada anak. Mereka seringkali menganggap remeh perawatan gigi susu karena merasa nantinya akan digantikan oleh gigi permanen. Padahal, kesehatan gigi susu sangat menentukan kondisi rongga mulut anak di masa depan.
Selain soal waktu, cara memperkenalkan kebiasaan menyikat gigi pun perlu diperhatikan. Orang tua tidak bisa hanya menyerahkan sikat dan pasta gigi pada anak tanpa bimbingan. Anak perlu diajarkan teknik menyikat yang benar agar tidak melukai gusi dan supaya kebersihan gigi benar-benar terjaga. Selain itu, penggunaan pasta gigi pun perlu disesuaikan dengan usia agar aman dan efektif.
Dikutip dari halodoc.com, perkembangan gigi bayi sudah dimulai sejak di dalam kandungan, namun baru muncul sekitar usia 6–10 bulan, dimulai dari gigi bawah. Umumnya, seluruh gigi susu akan tumbuh lengkap pada usia sekitar 3 tahun. Lantas, kapan anak bisa mulai belajar menyikat gigi sendiri? Tidak ada usia baku, tapi umumnya disarankan mulai usia 2–3 tahun, dengan bimbingan orang tua.
Cara Memperkenalkan dan Mengajarkan Anak Menyikat Gigi
Panduan berikut ini masuk dalam kategori cara dan tips praktis untuk orang tua dalam memperkenalkan serta mengajarkan kebiasaan menyikat gigi kepada anak. Ada beberapa tahapan yang perlu dipahami, mulai dari kapan waktu yang tepat memperkenalkan sikat gigi, bagaimana memilih alat yang sesuai, hingga bagaimana membangun kebiasaan yang menyenangkan untuk anak. Tujuan utamanya adalah agar anak merasa nyaman dan terbiasa menjaga kesehatan gigi sejak dini.
1. Waktu yang Tepat Memperkenalkan Sikat Gigi
Tahap pertama dalam memperkenalkan sikat gigi dimulai sejak gigi pertama anak muncul, biasanya pada usia 6–10 bulan. Pada tahap ini, orang tua belum perlu menggunakan pasta gigi, cukup sikat lembut khusus bayi atau kain lembap untuk membersihkan gusi dan gigi yang mulai tumbuh. Kebiasaan ini akan membantu anak terbiasa dengan sensasi membersihkan mulut.
Memasuki usia 2 tahun, anak sudah bisa mulai belajar menyikat giginya sendiri dengan pasta gigi berfluoride seukuran biji beras. Namun, tetap penting untuk mendampingi mereka agar tidak menelan pasta gigi. Pada usia 3 tahun, takaran pasta bisa ditingkatkan menjadi seukuran kacang polong. Meski begitu, anak tetap belum sepenuhnya mampu membersihkan gigi sendiri, sehingga bimbingan dan pengawasan orang tua tetap diperlukan.
2. Memilih Sikat Gigi dan Pasta Gigi yang Aman untuk Anak
Pemilihan sikat gigi yang tepat sangat penting. Pilihlah sikat yang didesain khusus untuk anak, dengan kepala kecil dan bulu sikat yang sangat lembut agar tidak melukai gusi. Sebelum digunakan, bisa direndam sebentar di air hangat untuk membuat bulu sikat lebih lentur. Untuk pasta gigi, gunakan yang mengandung fluoride untuk melindungi gigi dari karies, tetapi jangan gunakan terlalu banyak agar anak tidak menelannya.
Selain itu, jangan lupa mengganti sikat gigi anak setiap 3–4 bulan atau segera setelah anak sembuh dari sakit. Bulu sikat yang sudah rusak tidak hanya kurang efektif membersihkan, tetapi juga bisa melukai gusi. Ajarkan anak untuk tidak meminjamkan sikat giginya kepada orang lain karena bisa menjadi media penularan penyakit. Sikat gigi juga harus disimpan di tempat yang kering dan terbuka agar tetap higienis.
3. Kapan Anak Bisa Menyikat Gigi Sendiri Secara Mandiri?
Walaupun anak mulai belajar menyikat gigi sendiri pada usia 2–3 tahun, kemampuan motorik halus mereka belum cukup baik untuk membersihkan semua permukaan gigi. Anak usia 5 tahun hanya mampu membersihkan sekitar 25 persen permukaan giginya, sedangkan pada usia 11 tahun kemampuannya meningkat menjadi sekitar 50 persen. Baru di usia remaja, sekitar 18–22 tahun, mereka bisa membersihkan sekitar 67 persen permukaan gigi secara efektif.
Karena itu, peran orang tua tidak boleh berhenti hanya karena anak sudah memegang sikat gigi sendiri. Tetaplah bantu mereka menyikat gigi secara menyeluruh, terutama di bagian yang sulit dijangkau. Selain itu, ajak anak ke dokter gigi setidaknya setiap enam bulan sekali untuk pemeriksaan rutin agar kondisi gigi dan mulutnya selalu terpantau.
4. Tips Praktis Agar Anak Mau Menyikat Gigi
Mengajarkan anak menyikat gigi bukan perkara mudah. Anak sering kali enggan atau hanya mau menyikat gigi sebentar saja. Salah satu cara efektif adalah menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas yang menyenangkan. Misalnya, menyikat gigi sambil menyanyikan lagu, menggunakan timer berbentuk lucu, atau memakai sikat gigi bergambar karakter favorit mereka.
Selain itu, batasi konsumsi makanan manis dan lengket agar tidak memperparah risiko gigi berlubang, terutama jika anak sulit diajak menyikat gigi. Jelaskan secara sederhana mengapa menyikat gigi itu penting, supaya anak merasa termotivasi. Orang tua juga harus memberi contoh dengan menjaga kebersihan mulut mereka sendiri, karena anak biasanya meniru perilaku orang tua.
5. Tantangan Umum dan Cara Mengatasinya
Beberapa tantangan umum yang sering dihadapi orang tua adalah anak menangis saat disikatkan giginya, menolak menyikat gigi sendiri, atau menelan pasta gigi. Jangan langsung marah atau memaksa anak karena ini hanya akan membuat mereka semakin trauma. Cobalah pendekatan kreatif, seperti membacakan cerita tentang gigi, memperlihatkan video edukasi, atau bermain peran bersama boneka.
Penting untuk selalu bersabar dan konsisten. Anak membutuhkan waktu untuk membangun kebiasaan baru. Jika memang terasa sulit, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gigi anak. Dokter bisa memberikan saran dan pendekatan yang sesuai untuk membantu orang tua mengajarkan anak menyikat gigi dengan baik. (nnd/mgg)
Editor : Hakam Alghivari