Ingin Anak Tangguh dan Percaya Diri? Yuk Kenalan dengan Konsep Lazy Parenting

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Rabu, 28 Mei 2025 | 13:55 WIB
Ilustrasi orang tua yang menerapkan lazy parenting
Ilustrasi orang tua yang menerapkan lazy parenting

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pola asuh anak terus berkembang mengikuti zaman. Seiring bertambahnya literatur dan teori-teori baru dalam dunia parenting, orang tua kini dihadapkan pada banyak pilihan dalam menerapkan gaya pengasuhan. Ada yang memilih pola asuh otoriter, permisif, hingga authoritative. Namun, belakangan ini muncul gaya pengasuhan yang cukup menarik perhatian, yakni lazy parenting atau pola asuh santai.

Sekilas, istilah lazy parenting mungkin terdengar negatif karena mengandung kata “lazy” yang berarti malas. Namun sesungguhnya, konsep ini bukan berarti orang tua bermalas-malasan dan membiarkan anak tanpa pengawasan. Sebaliknya, lazy parenting justru bertujuan untuk mendorong kemandirian dan tanggung jawab anak sejak dini. Gaya parenting ini memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh dengan kemampuan mereka sendiri.

Dilansir dari HaiBunda, lazy parenting adalah pola asuh yang memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan kemampuan secara mandiri. Artinya, orang tua tidak langsung turun tangan setiap kali anak mengalami kesulitan, melainkan membiarkan mereka belajar dari pengalaman dan konsekuensi. Dengan begitu, anak dapat memahami batas kemampuannya dan terlatih untuk mengatasinya.

Namun, tentu tidak semudah membiarkan anak begitu saja. Ada beberapa prinsip dan tips yang bisa diterapkan agar lazy parenting berjalan efektif dan tetap aman untuk anak. Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Kenalkan Anak dengan Konsekuensi

Ajarkan anak sejak dini bahwa setiap keputusan dan tindakan memiliki konsekuensinya. Jika anak lupa mengerjakan tugas, biarkan ia menerima akibatnya. Hal ini akan melatih mereka untuk berpikir sebelum bertindak dan belajar bertanggung jawab atas pilihan mereka. Orang tua perlu memberi kepercayaan pada anak, termasuk saat mereka melakukan kesalahan. Dari situ, anak akan belajar dari pengalaman secara langsung.

2. Beri Pengingat Secukupnya

Meskipun lazy parenting mendorong kemandirian, bukan berarti anak dibiarkan sepenuhnya. Orang tua tetap dapat memberi pengingat kecil ketika anak lupa menjalankan tanggung jawabnya. Seiring waktu, rutinitas tersebut akan menjadi kebiasaan, dan anak akan menjalankannya tanpa perlu diingatkan terus-menerus.

3. Sediakan Ruang untuk Bereksplorasi

Sediakan area di rumah yang aman dan nyaman bagi anak untuk bermain serta bereksplorasi secara mandiri. Ruangan ini bisa berisi mainan atau benda edukatif yang sesuai dengan usia anak. Biarkan mereka bermain sendiri, memecahkan masalah kecil, dan mengelola emosi tanpa intervensi langsung dari orang tua. Proses ini penting untuk membentuk kepercayaan diri dan kemampuan problem solving anak.

4. Jadi Contoh yang Baik

Anak adalah peniru ulung. Apa yang mereka lihat dari orang tuanya akan menjadi cerminan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan contoh yang baik. Jika ingin anak mandiri, tunjukkan bagaimana cara menyelesaikan tugas sendiri, disiplin waktu, dan menghadapi tantangan dengan tenang.

5. Biarkan Anak Melakukan Segalanya Secara Perlahan

Sering kali orang tua merasa terburu-buru karena rutinitas yang padat. Tanpa sadar, mereka mengambil alih tugas anak agar lebih cepat selesai. Namun dalam lazy parenting, penting untuk memberi anak waktu menyelesaikan sesuatu dengan kecepatannya sendiri. Meski awalnya lambat, anak akan belajar dan menjadi lebih terampil seiring bertambahnya pengalaman.

Dengan menerapkan lazy parenting, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, serta memiliki kemampuan berpikir kritis. Mereka juga akan lebih percaya diri dan kreatif karena terbiasa mengambil keputusan sendiri dan belajar dari kesalahan.

Namun, penting untuk diingat bahwa setiap pola asuh memiliki tantangan. Lazy parenting bisa berdampak negatif jika diterapkan secara berlebihan atau tanpa bimbingan yang jelas. Anak mungkin merasa bingung, tidak aman, atau bahkan terabaikan jika orang tua terlalu lepas tangan. Oleh karena itu, meskipun memberi ruang untuk mandiri, orang tua tetap harus hadir secara emosional dan memberikan batasan yang sehat.

Lazy parenting bukan berarti membiarkan anak tumbuh tanpa arah, tetapi memberikan mereka kesempatan untuk mengenali potensi diri. Keseimbangan antara kebebasan dan pengawasan tetap diperlukan. Dengan penerapan yang bijak, lazy parenting dapat menjadi cara yang efektif untuk menumbuhkan anak yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan hidup. (oss/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
Prinsip tantangan anak lazy parenting konsekuensi pola asuh parenting