Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mom, Ajarkan Ini pada Anak Saat Mereka Melihat Teman Dibully di Sekolah

Hakam Alghivari • Selasa, 27 Mei 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi seorang anak yang mendukung temannya yang menjadi korban bullying
Ilustrasi seorang anak yang mendukung temannya yang menjadi korban bullying

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Perundungan atau bullying adalah sebuah masalah yang masih marak terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah. Anak-anak yang sedang tumbuh dan belajar bersosialisasi kerap kali tidak menyadari bahwa sikap mereka terhadap teman sebaya bisa berdampak besar. Tak hanya pelaku dan korban yang terkena imbas, tetapi juga mereka yang menjadi saksi dari kejadian bullying.

Sebagai orang tua, memberikan pendidikan moral dan sosial kepada anak bukan hanya soal menyuruh mereka bersikap baik, tetapi juga tentang bagaimana mereka harus bersikap ketika melihat orang lain diperlakukan tidak adil. Reaksi anak terhadap tindakan bullying bisa sangat bervariasi—mulai dari ikut tertawa, merasa tidak nyaman namun diam saja, hingga bingung harus berbuat apa. Itulah mengapa penting bagi orang tua untuk memberikan arahan yang jelas agar anak tahu bagaimana menyikapi situasi ini dengan tepat.

Dikutip dari alodokter.com, bullying bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, termasuk di sekolah tempat anak-anak menghabiskan banyak waktu mereka. Tidak hanya penting untuk mengajari anak agar tidak menjadi pelaku bullying, tetapi juga penting untuk memberi tahu mereka apa yang sebaiknya dilakukan saat melihat teman atau orang lain menjadi korban perundungan.

Sikap yang Perlu Ditanamkan pada Anak Ketika Menyaksikan Tindakan Bullying

1. Jangan Menjadi Bagian dari Bullying

Anak-anak kerap kali tidak memahami bahwa menertawakan atau mengejek teman termasuk dalam kategori bullying. Mereka mungkin menganggap hal itu sebagai candaan atau bagian dari pergaulan. Namun, yang mereka anggap lucu bisa menjadi luka bagi orang lain.

Orang tua perlu menjelaskan secara rinci kepada anak tentang bentuk-bentuk bullying, baik secara verbal maupun fisik. Tanamkan pemahaman bahwa ikut menertawakan atau menyebarkan cerita tentang korban sama saja dengan mendukung tindakan tidak baik tersebut. Ajak anak untuk tidak merespons aksi bullying dengan tertawa atau diam saja.

Dorong anak agar berani berkata tidak dan menjauhi perilaku tersebut, serta mengajak teman lainnya untuk melakukan hal yang sama. Menjadi penonton yang tidak bereaksi atau bahkan ikut menyetujui tindakan bullying hanya akan memperkuat pelaku dalam melakukan aksinya.

2. Sampaikan kepada Orang Dewasa yang Dipercaya

Mengajari anak untuk mencari bantuan dari orang dewasa adalah langkah krusial. Ketika menyaksikan bullying, anak harus tahu bahwa memberitahu guru, wali kelas, atau orang tua adalah cara yang aman untuk membantu korban.

Tindakan bullying tidak hanya terbatas pada dunia nyata, namun juga sering terjadi di ranah digital atau media sosial. Oleh karena itu, beritahu anak untuk melaporkan jika mereka melihat konten yang bersifat melecehkan atau menghina, seperti komentar jahat, video mempermalukan teman, atau gambar-gambar yang bersifat menyudutkan seseorang.

Ajarkan anak bahwa melaporkan bukan berarti mengadu, tetapi menunjukkan keberanian dan empati kepada sesama.

Baca Juga: Anak Gampang Marah? Kenali 3 Tipe Temperamen Anak dan Cara Bijak Menghadapinya

3. Bila Aman, Tegur Pelaku dengan Cara yang Sopan

Tidak semua anak memiliki keberanian untuk langsung menegur pelaku bullying. Namun, bila situasi memungkinkan dan tidak membahayakan dirinya, ajarkan anak untuk menegur secara sopan dan tegas.

Beritahu anak bahwa pelaku bullying sering kali menghentikan aksinya saat menyadari tindakannya tidak didukung oleh orang di sekitarnya. Suara kecil dari seorang teman bisa membuat perbedaan besar.

Namun, tanamkan juga kepada anak bahwa keselamatannya adalah prioritas. Jika situasi tampak membahayakan, maka yang terbaik adalah segera mencari pertolongan dari orang dewasa dan tidak menghadapi pelaku secara langsung.

4. Temani dan Dukung Korban Bullying

Menjadi teman bagi korban bullying adalah salah satu tindakan yang sangat membantu dan bermakna. Anak bisa menunjukkan empatinya dengan duduk bersama korban, mengajaknya bermain, atau sekadar mendengarkan cerita dan perasaannya.

Dukungan sederhana ini dapat mengurangi rasa kesepian korban dan membuatnya merasa lebih kuat serta diterima. Anak yang merasa tidak sendirian cenderung lebih kuat secara emosional dan tidak mudah patah semangat.

Selain itu, dengan menunjukkan sikap peduli, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh kasih dan empati, serta membangun lingkungan sosial yang lebih sehat di sekolah.

5. Tidak Membalas atau Memusuhi Pelaku Bullying

Meskipun tindakan pelaku bullying menyakitkan dan tidak bisa dibenarkan, penting untuk mengajarkan anak agar tidak menyimpan dendam atau membalas dengan sikap yang sama. Anak-anak harus belajar bahwa melawan keburukan dengan keburukan bukanlah solusi.

Beri pengertian bahwa pelaku bullying mungkin bertindak demikian karena masalah pribadi atau kurangnya bimbingan. Alih-alih membenci, anak bisa memilih untuk menjaga jarak secara sehat dan tidak terlibat dalam pergaulannya, tanpa perlu menyebarkan kebencian.

Sikap bijaksana ini membantu anak belajar tentang pengendalian diri dan bagaimana menyikapi konflik dengan cara yang positif dan berkelas.

Bullying adalah masalah serius yang tidak boleh dianggap remeh. Sebagai orang tua, peran kita bukan hanya mengawasi, tetapi juga membimbing anak untuk memahami mana yang benar dan salah dalam bersikap sosial. Dengan membekali mereka dengan cara-cara yang tepat dalam merespons bullying, kita membantu menciptakan generasi yang lebih empatik, berani, dan bertanggung jawab.

Baca Juga: 7 Hal Kecil yang Diam-Diam Ditiru Anak dari Orang Tuanya

Dampingi anak dalam setiap proses belajarnya, baik dalam kehidupan nyata maupun di dunia maya. Jika anak menunjukkan tanda-tanda tekanan akibat menyaksikan atau mengalami bullying, jangan ragu untuk mengonsultasikannya dengan psikolog anak agar tidak berdampak pada kesehatan mental dan tumbuh kembangnya. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#bullying #anak #orang tua #perundungan #parenting #bullying anak