Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Waspadai Tanda Ini, Mom! Begini Cara Mengenali Anak yang Diam-Diam Jadi Korban Bullying

Hakam Alghivari • Senin, 26 Mei 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi seorang anak yang mengalami perundungan di sekolahnya
Ilustrasi seorang anak yang mengalami perundungan di sekolahnya

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam kehidupan sosial anak-anak, interaksi dengan teman sebaya memainkan peranan penting dalam proses tumbuh kembangnya. Sayangnya, tidak semua interaksi berlangsung secara positif. Terkadang, ada perilaku menyimpang dari anak lain yang menjurus pada tindakan kekerasan secara verbal, fisik, hingga psikologis. Fenomena ini dikenal sebagai bullying atau perundungan. Meskipun tampak seperti persoalan biasa, dampaknya bisa sangat serius bagi perkembangan mental anak.

Bullying dapat membuat anak kehilangan rasa percaya diri, merasa terisolasi, bahkan mengalami trauma jangka panjang. Celakanya, banyak anak memilih untuk menyimpan cerita menyakitkan ini seorang diri. Mereka enggan berbagi karena merasa takut, malu, atau mendapat tekanan dari pelaku. Karena itu, penting bagi orang tua maupun guru untuk lebih jeli dalam mengenali tanda-tanda awal yang muncul pada anak korban perundungan, agar dapat memberikan pertolongan secepat mungkin.

Dikutip dari Halodoc.com, bullying bisa memicu beragam gejala yang mencakup perubahan emosional, fisik, dan kebiasaan sehari-hari. Beberapa ciri bahkan muncul secara halus, dan hanya bisa dikenali melalui perubahan sikap atau ekspresi anak dalam kehidupan sehari-hari. Memahami tanda-tanda tersebut adalah langkah penting dalam mencegah kerusakan lebih jauh terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup anak.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Bullying yang Perlu Dikenali

1. Suasana Hati yang Tidak Stabil atau Berubah Drastis

Salah satu indikator utama bahwa seorang anak mengalami tekanan emosional akibat bullying adalah perubahan suasana hati yang mendadak. Anak yang biasanya ceria bisa tiba-tiba menjadi pendiam, sering murung, atau lebih mudah marah. Dalam banyak kasus, anak juga menunjukkan tanda-tanda kecemasan berlebihan tanpa alasan yang jelas.

Tak jarang, anak akan lebih sering menyendiri, enggan bersosialisasi, bahkan menghindari aktivitas yang biasanya disukai. Perubahan ini bukan hanya berdampak pada kehidupan sosial anak, tetapi juga dapat mengganggu performa akademik. Jika orang tua menyadari adanya perubahan drastis ini, penting untuk segera mencari tahu penyebabnya secara hati-hati tanpa menghakimi.

2. Luka Fisik yang Tak Jelas Asalnya

Tanda fisik sering kali menjadi indikator yang paling mudah dikenali, meskipun tidak selalu diungkapkan oleh anak. Memar, luka gores, atau bahkan baju yang rusak tanpa penjelasan yang logis bisa menjadi sinyal kuat bahwa anak sedang mengalami kekerasan fisik dari teman sebayanya.

Sayangnya, banyak anak yang cenderung menutupi luka ini dengan alasan tidak jelas. Ketakutan terhadap pelaku atau perasaan malu membuat mereka lebih memilih untuk diam. Selain itu, korban bullying cenderung ingin segera meninggalkan tempat terjadinya perundungan, misalnya buru-buru pulang sekolah atau menghindari lingkungan tertentu secara terus-menerus.

3. Gangguan Tidur yang Terus Berulang

Tidur merupakan waktu penting bagi tumbuh kembang anak. Namun, anak yang mengalami perundungan sering kali mengalami gangguan tidur seperti mimpi buruk, insomnia, atau sering terbangun di malam hari. Hal ini terjadi akibat tekanan emosional yang belum terselesaikan.

Kurangnya tidur berkualitas dapat memperburuk kondisi psikis anak. Mereka akan merasa lelah, tidak fokus, dan rentan mengalami stres berlebihan. Gangguan ini juga bisa memicu masalah kesehatan fisik dalam jangka panjang jika tidak segera ditangani.

4. Perubahan Perilaku Secara Mendadak

Ketika seorang anak mulai kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas yang sebelumnya disenangi, ini bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang salah. Perubahan perilaku yang tiba-tiba, seperti enggan bermain, tidak mau berangkat sekolah, atau enggan berinteraksi dengan orang tertentu, bisa merupakan reaksi dari trauma akibat bullying.

Kadang-kadang, anak juga menghindari lokasi tertentu, seperti kantin sekolah yang mungkin menjadi tempat terjadinya bullying. Mereka bisa tampak lebih waspada atau ketakutan ketika melewati area tertentu. Ini adalah tanda-tanda penting yang tidak boleh diabaikan.

Penelitian UNICEF menunjukkan bahwa anak korban bullying cenderung mengalami perubahan kepribadian yang drastis dalam kurun waktu kurang dari satu bulan sejak peristiwa perundungan pertama terjadi.

5. Pola Makan yang Berubah Signifikan

Anak-anak korban bullying sering kali menunjukkan perubahan dalam kebiasaan makan mereka. Ada yang tiba-tiba kehilangan nafsu makan, sementara yang lain justru makan secara berlebihan sebagai pelampiasan stres. Perubahan ini bisa tampak sederhana, tetapi merupakan respons psikologis terhadap tekanan mental.

Beberapa anak bahkan melewatkan jam makan di sekolah karena tidak ingin berinteraksi dengan teman yang menjadi pelaku perundungan. Hal ini juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan penurunan berat badan yang tidak normal, serta kekurangan nutrisi jika berlangsung dalam jangka panjang.

Mengidentifikasi tanda-tanda bullying sejak dini sangat penting agar intervensi bisa segera dilakukan. Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar anak perlu bersinergi untuk menciptakan ruang aman dan terbuka bagi anak agar merasa nyaman bercerita. Pendekatan yang lembut dan penuh empati akan sangat membantu anak untuk membuka diri dan menerima bantuan.

Jika Anda melihat perubahan perilaku pada anak, jangan menunda untuk bertanya dan mendengarkan. Konsultasi dengan psikolog anak juga bisa menjadi langkah tepat dalam mengatasi dampak bullying sebelum menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#bullying #anak #orang tua #korban bullying #parenting #bullying anak