Kenali Konsep Gentle Parenting, Pola Asuh Positif yang Mengedepankan Empati dan Kolaborasi
Hakam Alghivari• Jumat, 16 Mei 2025 | 13:50 WIB
Ilustrasi orang tua yang menggunakan gentle parenting dalam pengasuhannya
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menjadi orang tua adalah peran yang kompleks dan menantang. Tak hanya soal memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga memahami kebutuhan emosional dan psikologisnya. Di tengah padatnya tuntutan hidup dan ekspektasi sosial, sering kali orang tua lupa bahwa anak juga manusia yang tumbuh dan belajar, dengan perasaan dan pemikiran yang valid sesuai usianya. Pola asuh yang mengabaikan aspek ini bisa menimbulkan luka emosional jangka panjang pada anak.
Dalam beberapa tahun terakhir, munculnya konsep gentle parenting atau pola asuh lembut menjadi angin segar bagi para orang tua yang ingin membangun hubungan yang lebih sehat dengan anak. Konsep ini menitikberatkan pada kedekatan emosional, rasa saling menghargai, serta kerja sama antara orang tua dan anak. Gentle parenting hadir sebagai perbaikan dari pola asuh demokratis yang selama ini dianggap ideal namun belum sepenuhnya aplikatif di banyak keluarga.
Mengutip kanal YouTube Womantalk dalam podcast bersama Samantha Elsener, seorang psikolog anak dan keluarga, gentle parenting bukan sekadar tren baru dalam dunia parenting. Ini adalah pendekatan pengasuhan yang menyeimbangkan antara kasih sayang dan ketegasan, dengan cara yang lebih manusiawi. Ketika anak berbuat salah, orang tua tidak serta merta memberikan hukuman, melainkan menjelaskan konsekuensi dari perbuatannya. Hal ini membantu anak belajar bertanggung jawab, bukan sekadar takut pada hukuman.
Pola asuh ini berada di tengah-tengah antara dua pola asuh ekstrim yaitu pola asuh permisif yang terlalu longgar dan pola asuh otoriter yang kaku dan menekan. Dalam gentle parenting, anak tidak dipaksa tunduk, melainkan diajak bekerja sama. Maka tak heran jika pendekatan ini juga sering disebut sebagai collaborative parenting.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang salah kaprah memahami konsep ini. Banyak yang mengira gentle parenting berarti tidak boleh memarahi anak sama sekali, atau terlalu memanjakan anak. Padahal, gentle parenting justru mengajarkan orang tua untuk menyampaikan kemarahan dengan cara yang sehat dan konstruktif. Ini bukan tentang menghindari konflik, tetapi tentang bagaimana menghadapi konflik dengan bijak.
Pada dasarnya, gentle parenting berfokus pada pengendalian diri orang tua. Bagaimana orang tua mengatur emosinya, mengenali pemicunya, dan memilih respon yang tepat saat berhadapan dengan perilaku anak. Orang tua adalah contoh pertama dan utama dalam hidup anak. Maka, regulasi emosi yang baik dari orang tua akan menjadi pembelajaran berharga bagi anak.
Terdapat empat prinsip utama dalam gentle parenting:
1. Empati Memahami apa yang dirasakan anak. Cobalah melihat situasi dari sudut pandangnya. Meskipun kita tidak setuju dengan tindakannya, perasaan anak tetap valid dan layak diterima.
2. Rasa Hormat Anak adalah individu yang unik, bukan miniatur orang dewasa. Hargai pendapat mereka, dengarkan dengan sungguh-sungguh, dan hindari mempermalukan mereka, baik di depan umum maupun secara pribadi.
3. Pengertian Di balik setiap perilaku anak, selalu ada alasan. Tugas orang tua adalah menggali dan memahami apa yang memicunya, lalu membantu anak menemukan solusi yang positif.
4. Batasan Batasan tetap penting, namun harus disampaikan dengan kasih sayang dan pengertian. Libatkan anak dalam proses membuat aturan agar mereka merasa dihargai dan bertanggung jawab.
Untuk menerapkan gentle parenting dalam kehidupan sehari-hari, berikut beberapa tips yang bisa dicoba:
Dengarkan anak dengan sepenuh hati tanpa menyela.
Validasi perasaan anak, meski kamu tidak setuju dengan tindakannya.
Berikan pilihan agar anak merasa dihargai dan mampu membuat keputusan.
Tetapkan aturan yang jelas dan konsisten, serta beri penjelasan logis di baliknya.
Hindari hukuman fisik atau verbal. Gunakan konsekuensi logis atau teknik time-out.
Jaga keseimbangan emosional diri sendiri. Orang tua yang tenang lebih mudah menerapkan pola asuh yang positif.
Gentle parenting bukan pola asuh yang instan. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan refleksi diri yang terus-menerus dari orang tua. Namun hasil jangka panjangnya sangat berharga: anak yang tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan kemampuan sosial yang baik. Dengan pola asuh ini, kita tidak hanya membesarkan anak yang patuh, tetapi juga anak yang bahagia, berempati, dan siap menjadi pribadi dewasa yang sehat secara emosional. Karena sejatinya, mendidik anak dimulai dari mendidik diri sendiri sebagai orang tua. (oss/mgg)