Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mom, Pahami Fase "Terrible Two" pada Anak: Tantangan dan Cara Efektif Menghadapinya

Hakam Alghivari • Selasa, 13 Mei 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi anak yang melampiaskan rasa frustrasinya dengan menangis
Ilustrasi anak yang melampiaskan rasa frustrasinya dengan menangis

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Mengasuh anak adalah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan dan kebahagiaan. Setiap tahap perkembangan membawa dinamika baru yang harus dihadapi orangtua dengan kesabaran dan cinta. Salah satu fase yang sering kali membuat banyak orangtua merasa kewalahan adalah ketika si kecil memasuki usia dua tahun, masa di mana mereka mulai menunjukkan keinginan untuk lebih mandiri dan menentukan kehendaknya sendiri.

Pada usia ini, perubahan perilaku anak menjadi lebih nyata. Mulai dari keinginan kuat untuk melakukan segala sesuatu sendiri, suasana hati yang cepat berubah, hingga munculnya tantrum yang kadang sulit dikendalikan. Tidak jarang, orangtua bertanya-tanya apakah perubahan perilaku tersebut adalah sesuatu yang normal atau perlu dikhawatirkan.

Dikutip dari HelloSehat.com, istilah terrible two yaitu fase normal dalam perkembangan anak yang ditandai dengan ledakan emosi dan keinginan untuk mandiri. Meski merupakan bagian wajar dari tumbuh kembang, tetap diperlukan strategi yang tepat agar Mom dapat membantu si kecil melewati fase ini dengan lebih tenang dan efektif.

Apa Itu Fase Terrible Two?

Fase terrible two sering kali menjadi momen yang menantang sekaligus membingungkan bagi banyak orangtua. Memahami makna di balik istilah ini adalah langkah awal untuk merespons perilaku anak dengan lebih empatik dan terarah.

Fase terrible two adalah periode perkembangan yang biasanya terjadi pada usia 18 hingga 30 bulan, di mana anak mulai menunjukkan keinginan kuat untuk mandiri. Pada masa ini, anak sudah mampu menyadari keinginannya sendiri, tetapi keterbatasan dalam kemampuan verbal sering membuat mereka frustrasi dan meluapkannya dalam bentuk tantrum.


Meskipun namanya mengacu pada usia dua tahun, perilaku ini bisa muncul sebelum usia dua tahun dan kadang bertahan hingga anak berusia tiga tahun. Seiring perkembangan kemampuan bicara dan emosional, tantrum biasanya mulai berkurang intensitasnya.

Kenapa Fase Terrible Two Terjadi?

Momen-momen sulit selama fase terrible two sebenarnya berakar dari berbagai perubahan besar dalam perkembangan anak. Mengetahui penyebabnya bisa membantu Mom merespons dengan lebih sabar dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan anak.

1. Pertumbuhan Fisik dan Emosional yang Pesat
Pada usia ini, anak-anak mengalami lonjakan dalam kemampuan motorik, bahasa, serta pemahaman terhadap keinginan pribadi. Namun, karena keterbatasan dalam mengekspresikan diri, frustrasi mudah muncul saat mereka merasa tidak dipahami atau keinginannya tidak terpenuhi.

2. Keterbatasan Mengelola Emosi
Kemampuan anak dalam mengatur emosinya masih sangat minim. Mereka belum mengerti konsep kompromi, kesabaran, atau berbagi, sehingga emosi mereka dapat meledak saat keinginan tidak terpenuhi.

3. Keterbatasan Koordinasi Motorik
Upaya anak untuk melakukan aktivitas sendiri, seperti menuang minuman atau memakai pakaian, sering kali tidak berjalan mulus. Ketidakmampuan melakukan hal-hal yang diinginkan ini bisa memicu rasa frustasi dan berujung tantrum.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Terrible Two

Mengenali tanda-tanda bahwa anak Mom sedang melewati fase terrible two sangat penting agar Mom bisa memberikan dukungan yang tepat. Setiap perubahan perilaku memiliki maknanya sendiri dalam proses tumbuh kembang mereka.

1. Tantrum
Tantrum menjadi ekspresi emosional utama di usia ini. Anak bisa menangis, berteriak, melempar barang, menggigit, atau bahkan memukul sebagai bentuk pelampiasan frustrasinya.

2. Penolakan terhadap Bantuan Orangtua
Anak akan berusaha keras untuk melakukan sesuatu sendiri, walaupun mereka belum sepenuhnya mampu. Misalnya, menolak dibantu saat mengenakan baju atau saat makan, meski akhirnya mereka merasa kesulitan.

3. Perubahan Suasana Hati yang Cepat
Dalam sekejap, anak bisa tertawa lalu menangis histeris. Perubahan emosi yang ekstrem ini menggambarkan betapa besar usaha anak dalam menyesuaikan keinginannya dengan keterbatasan yang mereka miliki.

Waspadai Jika Tantrum Tidak Wajar

Walaupun tantrum adalah bagian wajar dari perkembangan, ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai oleh Mom. Dengan mengetahui tanda-tanda ini, Mom bisa segera mencari bantuan profesional bila diperlukan.

Jika tantrum terjadi hampir sepanjang hari atau intensitasnya sangat besar, seperti memukul diri sendiri, orang lain, atau merusak benda, segera konsultasikan ke dokter anak atau psikolog.

Tantrum yang berlangsung lebih dari 25 menit atau frekuensinya mencapai lebih dari 10–20 kali dalam sehari menandakan perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap kondisi perkembangan anak.

Jika anak kesulitan untuk tenang setelah ledakan emosi, meski sudah dibantu oleh orangtua, ini juga menjadi tanda penting bahwa anak mungkin memerlukan dukungan tambahan.

Cara Mengatasi Fase Terrible Two

Menghadapi fase ini memang membutuhkan strategi cerdas, bukan sekadar kesabaran. Menyiapkan pendekatan yang tepat akan membantu anak melewati masa-masa penuh gejolak ini dengan lebih sehat secara emosional.

1. Pastikan Anak Cukup Istirahat
Kelelahan sering menjadi pemicu tantrum. Pastikan anak mendapatkan tidur siang yang cukup agar emosinya lebih stabil dan aktivitas harian berjalan lebih lancar.

2. Patuhi Jadwal Makan yang Teratur
Lapar dapat memperburuk suasana hati anak. Menjaga jadwal makan tetap teratur dan menyediakan camilan sehat saat bepergian sangat membantu menjaga kestabilan emosinya.

3. Antisipasi Pemicu Tantrum
Sebelum memasuki situasi yang berpotensi sulit, seperti pergi ke toko atau tempat ramai, bicarakan aturan sederhana dengan anak dan berikan janji kecil untuk memotivasi perilaku baik.

4. Tetap Tenang dan Konsisten
Ketika tantrum terjadi, tetaplah tenang dan jangan terpancing emosi. Tetap konsisten dengan aturan yang sudah disepakati agar anak belajar tentang batasan secara bertahap.

5. Alihkan Fokus Anak ke Aktivitas Lain
Saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda tantrum, segera arahkan fokus mereka ke hal menarik, seperti memperlihatkan sesuatu yang lucu, mengajak bernyanyi, atau memberikan mainan baru.

6. Konsistensi adalah Kunci
Memberikan apa yang diinginkan anak saat tantrum hanya akan memperkuat perilaku negatif. Tegakkan aturan dengan tenang dan konsisten agar anak belajar tentang batasan dan kontrol diri.

7. Tanamkan Kesabaran dalam Pengasuhan
Ingat, membesarkan anak adalah maraton, bukan sprint. Kesabaran, ketekunan, dan konsistensi Mom akan menjadi fondasi kuat bagi perkembangan emosional anak di masa depan. (nnd/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#Terrible two #Fase #anak #orang tua #pola asuh #parenting