5 Motor Bebek yang Sebenarnya Eksperimen Berani Pabrikan

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi ai motor bebek lawas Suzuki Arashi dikendarai di jalan raya. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi ai motor bebek lawas Suzuki Arashi dikendarai di jalan raya. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Motor bebek pernah menjadi penguasa jalanan Indonesia. Namun, di balik model-model yang sukses seperti Honda Supra dan Yamaha Jupiter, pabrikan sebenarnya pernah melakukan berbagai eksperimen.

Ada yang mencoba menggabungkan motor bebek dengan motor sport. Ada yang memindahkan posisi tangki bahan bakar. Bahkan, ada yang nekat menghilangkan perpindahan gigi dan memasang transmisi otomatis.

Baca Juga: 5 Motor Bebek Lawas yang Mesinnya Terkenal Halus Tarikannya Spontan

Tidak semuanya berhasil di pasar. Namun, kelima motor ini menunjukkan bahwa industri sepeda motor Indonesia pernah memiliki masa ketika pabrikan berani keluar dari pakem.

1. Honda CS1

Honda CS1 mungkin menjadi salah satu eksperimen paling berani Honda di segmen bebek.

Diluncurkan pada 2008, CS1 dirancang sebagai perpaduan motor bebek dan sport. Honda bahkan secara terbuka menyebut motor tersebut dibuat untuk menciptakan segmen baru bagi konsumen perkotaan. Mesinnya 125 cc, menggunakan radiator, transmisi lima percepatan, serta rem cakram depan dan belakang.

Desainnya pun benar-benar berbeda. Bagian depan menyerupai motor sport, sedangkan bagian belakang masih mempertahankan karakter bebek.

Saat diuji, detikOto menggambarkan sensasinya seperti mengendarai motor sport dengan kelincahan motor bebek.

Sayangnya, eksperimen tersebut tidak bertahan lama. CS1 akhirnya dihentikan setelah sekitar lima tahun beredar.

Baca Juga: 5 Motor Sport 150 CC yang Dikenal Irit Bahan Bakar, Cocok untuk Aktivitas Harian

2. Kawasaki ZX130

Kawasaki juga pernah bereksperimen lewat ZX130.

Motor yang meluncur sekitar 2005 ini memiliki desain serba runcing dan yang paling mencolok adalah posisi lubang pengisian bahan bakar di bagian depan. Konsep tersebut membuat ruang di bawah jok bisa dimanfaatkan sebagai penyimpanan.

Kapasitas mesinnya sekitar 130 cc. Kawasaki bahkan membuat desainnya agresif sehingga mendapat julukan Baby Ninja.

Namun, konsep tersebut tidak berhasil membuat ZX130 menjadi pemain besar di kelas bebek. Kini populasinya justru tergolong sedikit dan sudah cukup sulit ditemukan di jalan. 

Baca Juga: Motor Listrik Bekas: Jangan Tertipu Odometer, Begini Cara Mengecek Kondisi Baterainya

3. Yamaha Lexam

Kalau ada penghargaan untuk eksperimen paling berani, Lexam layak dipertimbangkan.

Bayangkan sebuah motor bebek dengan roda 17 inci dan bentuk moped, tetapi tidak mempunyai perpindahan gigi manual.

Yamaha memasangkan teknologi YCAT atau Yamaha Compact Automatic Transmission, sebuah CVT yang dirancang khusus agar bisa ditempatkan pada konstruksi motor bebek. Yamaha menyebut Lexam sebagai moped pertama yang menggunakan CVT kompak tersebut. 

Di Indonesia, Lexam mulai dipasarkan pada 2011 sebagai jawaban Yamaha terhadap Honda Revo AT.

Baca Juga: 7 Motor Touring Paling Nyaman untuk Perjalanan Jauh: Bebas Pegal Melibas Ratusan Kilometer!

Teknologinya menarik, tetapi pasar ternyata tidak siap. Yamaha akhirnya menghentikan produksi Lexam karena bebek bertransmisi matik kurang diminati.

4. Honda Revo Techno AT

Honda bahkan mencoba eksperimen serupa lebih dulu.

Revo Techno AT meluncur pada 2010 dengan mesin 110 cc dan teknologi CV-Matic. Secara tampilan tetap merupakan motor bebek, tetapi sistem transmisinya otomatis. Bahkan mesin tersebut sudah menggunakan injeksi PGM-FI serta memiliki sistem pendinginan ganda.

Honda sebenarnya berharap konsep tersebut membuka ceruk baru. Namun, harga menjadi salah satu persoalan. Saat itu Revo AT dibanderol Rp15,8 juta, sehingga konsumen memiliki pilihan untuk membeli skutik yang sudah lebih familiar.

Pada 2012, penjualannya bahkan sempat hanya 36 unit dalam satu bulan dan nol unit pada dua bulan berikutnya. Eksperimen tersebut akhirnya berhenti.

5. Suzuki Arashi 125

Suzuki Arashi 125 menunjukkan keberanian dari sisi desain. Diluncurkan pada 2006, Arashi membawa konsep motor bebek yang cukup berbeda. Lampu utamanya ditempatkan pada bodi bagian depan, bukan pada setang seperti kebanyakan motor bebek ketika itu. Desain tersebut terinspirasi dari motor sport Suzuki GSX-R1000.

Baca Juga: 5 Motor Bebek Lawas yang Mesinnya Terkenal Halus Tarikannya Spontan

Suzuki bahkan membuat dua versi, Arashi 125 dan Arashi 125R, dengan perbedaan pada sistem kopling dan starter.

Masalahnya, desain tersebut dianggap terlalu berbeda oleh sebagian konsumen. Arashi akhirnya hanya dipasarkan sekitar tiga tahun, dari 2006 hingga 2009.

Tidak Semua Eksperimen Berakhir Sukses

Kelima motor tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu langsung diterima pasar.

Baca Juga: 5 Motor Bebek Lawas yang Nasibnya Kalah Populer, Padahal Mesinnya Punya Reputasi Bagus

CS1 mencoba menciptakan persilangan bebek dan sport. ZX130 bermain dengan desain serta tata letak yang tidak biasa. Sementara Lexam dan Revo AT mencoba mengawinkan karakter motor bebek dengan transmisi otomatis.

Arashi bahkan membawa bahasa desain yang saat itu terasa asing.

Sebagian konsep tersebut akhirnya menghilang. Namun, justru karena keberaniannya keluar dari pakem, kelima motor tersebut kini menjadi bagian menarik dari sejarah perkembangan motor bebek di Indonesia. (kam/bgs) 

Editor : Hakam Alghivari
motor bebek eksperimen lawas