RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Motor bebek era 2000-an seperti Honda Supra, Yamaha Vega, Suzuki Shogun hingga Honda Karisma masih mudah ditemukan meski usianya kini sudah lebih dari 15 tahun.
Sebagian bahkan masih digunakan sebagai kendaraan harian dengan mesin yang tetap bekerja normal.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa motor bebek zaman dulu lebih bandel dibanding motor masa kini. Namun, kesan tersebut tidak sepenuhnya berarti mesin lama memang lebih awet.
Baca Juga: Honda Karisma 125, Motor Bebek Lawas yang Mulai Dilupakan tetapi Punya Kelebihan Ini
Ada sejumlah alasan teknis dan kebiasaan pemilik yang membuat motor era 2000-an terlihat mampu bertahan lebih lama.
Konstruksi Motor Bebek Dulu Relatif Sederhana
Salah satu perbedaan paling mudah dilihat adalah sistem bahan bakar. Banyak motor bebek era 2000-an masih menggunakan karburator.
Sistem ini bekerja secara mekanis untuk mencampur udara dan bahan bakar. Komponennya relatif sederhana sehingga gangguan pada sistem bahan bakar biasanya dapat ditangani dengan pembersihan, penyetelan atau penggantian komponen mekanis.
Sebaliknya, motor modern semakin banyak menggunakan injeksi elektronik. Sistem tersebut membutuhkan injektor, pompa bahan bakar bertekanan, sensor dan ECU untuk mengatur suplai bahan bakar.
Bukan berarti injeksi lebih mudah rusak. Justru teknologi tersebut memberikan keuntungan dalam efisiensi dan pengendalian pembakaran. Penelitian SAE terhadap motor 125 cc menemukan sistem injeksi elektronik memberikan keuntungan konsumsi bahan bakar sekitar 7 hingga 18 persen dalam kondisi berkendara nyata dibanding karburator.
Namun, ketika terjadi gangguan, sistem yang lebih kompleks juga membutuhkan proses diagnosis yang berbeda.
Motor Zaman Sekarang Memang Lebih Kompleks
Motor modern dirancang dengan tuntutan yang berbeda. Selain performa, produsen harus memenuhi kebutuhan efisiensi bahan bakar, emisi dan berbagai fitur keselamatan maupun kenyamanan.
ECU, misalnya, kini menjadi bagian penting pada motor injeksi. Yamaha menjelaskan ECU berfungsi mengatur pengapian, injeksi bahan bakar dan emisi. Gangguan pada komponen tersebut dapat membuat motor sulit dinyalakan hingga mengalami penurunan performa.
Artinya, semakin banyak fungsi elektronik yang terlibat, semakin banyak pula komponen yang harus bekerja bersama agar kendaraan tetap berfungsi optimal.
Hal ini bukan kelemahan teknologi modern. Sistem tersebut justru memungkinkan mesin bekerja lebih presisi dan memenuhi tuntutan yang tidak dimiliki motor bebek generasi lama.
Motor Lama yang Masih Hidup Bisa Menipu Persepsi
Ada faktor lain yang sering terlupakan, yakni survivorship bias atau bias dari kendaraan yang berhasil bertahan.
Motor bebek 2000-an yang masih terlihat di jalan tentu merupakan unit yang berhasil melewati perjalanan panjang. Sementara motor yang sudah rusak berat, dibongkar, dijual sebagai rongsokan atau tidak lagi digunakan tidak terlihat.
Baca Juga: Bikin Kangen, 7 Motor Bebek Paling Ikonik Sepanjang Masa, Nomor 2 Bikin Generasi 2000-an Flashback
Akibatnya, orang lebih sering bertemu dengan contoh motor lama yang masih sehat.
Kondisi unit juga sangat bergantung pada pemilik. Perawatan rutin, penggunaan oli yang sesuai, cara berkendara dan kondisi lingkungan ikut menentukan umur komponen mesin. Kebiasaan berkendara serta perawatan memang dapat memengaruhi keausan mesin dalam jangka panjang.
Motor Bebek Dulu Juga Lebih Mudah Dirawat di Bengkel Umum
Kesederhanaan konstruksi membuat banyak motor bebek lawas relatif mudah dipahami mekanik.
Ketika muncul masalah pada karburator, pengapian atau komponen mekanis, pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan metode yang relatif sederhana. Pengetahuan mengenai motor-motor tersebut juga sudah tersebar luas karena jumlah unitnya pernah sangat banyak.
Inilah yang ikut membentuk persepsi "motor bandel". Bukan hanya mesinnya yang mampu bertahan, tetapi ketika mengalami masalah, motor masih relatif mudah dikembalikan ke kondisi berjalan.
Jadi, Apakah Motor 2000-an Memang Lebih Awet?
Belum tentu.
Motor modern tidak otomatis memiliki umur mesin lebih pendek. Teknologi injeksi bahkan menawarkan pembakaran yang lebih presisi dan efisiensi lebih baik. Yang berbeda adalah tingkat kompleksitas dan cara perawatannya.
Motor bebek era 2000-an terasa lebih awet karena konstruksinya sederhana, banyak komponennya mudah ditangani, populasi unitnya besar dan sebagian pemilik masih merawatnya dengan baik.
Pada akhirnya, umur sebuah motor lebih banyak ditentukan oleh kualitas desain, penggunaan dan perawatan daripada sekadar tahun pembuatannya.
Jadi, ketika sebuah Honda Supra, Yamaha Vega atau Suzuki Shogun masih melaju di jalan setelah belasan hingga dua puluh tahun, hal itu memang menarik. Tetapi yang bertahan bukan hanya mesinnya.
Riwayat perawatan, kesederhanaan mekanis dan kondisi unit ikut menjadi alasan mengapa motor-motor tersebut masih bisa menemani pemiliknya hingga sekarang. (k/bgs)
Editor : Hakam Alghivari