RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hingga pasca pandemi lalu, pemandangan motor dari pabrikan asal Jepang seperti Honda dan Yamaha mendominasi podium teratas ajang MotoGP merupakan hal yang lazim di kejuaraan dunia balap motor tersebut. Kala itu hanya ada dua pabrikan lain yang dapat menantang mereka, yakni Suzuki sebagai pabrikan Jepang, dan Ducati sebagai pabrikan non-Jepang.
Namun kini pemandangan yang terjadi sudah terbalik 180 derajat, dengan Ducati, Aprilia dan KTM menjadi penghuni baris depan MotoGP. Yamaha dan Honda perlahan tenggelam ke baris belakang, bahkan Suzuki sudah cukup lama menutup program MotoGP mereka.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Menurut mantan pembalap era GP500 Luca Cadalora, jawabannya ada pada perbandingan etos kerja dan disiplin para insinyur dan mekanik masing-masing kubu sepanjang era 2010an.
“Saya bekerja dengan banyak pabrikan motor asal Jepang saat mereka msih berjaya, sehingga saat ini cukup mengejutkan melihat mereka makin mundur. Mereka sudah cukup lama dikalahkan Ducati, dan saat ini mereka plus Ducati juga sudah bisa dikalahkan Aprilia,” Cadalora kepada Moto.it dan Autosport Japan pda Kamis (4/6).
Pengamatan pembalap senior yang juga pelatih legenda MotoGP Valentino Rossi tersebut, dominasi yang dinikmati oleh Yamaha dan Honda membuat kedua pabrikan tersebut terlalu bersantai. Cadalora sendiri menjadi tangan kanan Rossi saat keduanya membela Yamaha.
“Saya ingat waktu 2016 lalu, saya bersama Rossi dan kawan-kawan sudah kembali dari sirkuit ke hotel sekitar jam 6 sore, sementara orang-orang mekanik Ducati baru pulang jam 11 malam. Saya waktu itu berpikir, ‘Wah lama-lama kita bisa kalah kalau begini’, dan akhirnya kejadian juga. Saya sendiri kurang yakin para insinyur dan mekanik Honda dan Yamaha juga rela pulang malam seperti saat itu,” jelas pria asal Modena, Italia tersebut.
Cadalora juag berpandangan bahwa para insinyur Jepang saat ini sulit menerima, apalagi beradaptasi dengan perkembangan teknologi saat ini. “Banyak dari mereka bahwa perkembangan motor dapat berhenti suatu saat, sehingga mereka tergolong lambat beradaptasi. Misal pada tren aerodinamika motor, mereka baru paham dua tahun,” tambahnya.
Mantan mekanik dan insinyur era GP500 dan MotoGP, Giulio Bernardelle juga punya pendapat yang serupa dengan Cadalora. Berbeda dengan Cadalora yang bekerja dengan Rossi di akhir karirnya, Bernadelle merupakan salah satu mekanik yang mengantar Rossi menuju tangga MotoGP semasa muda, sebelum dirinya sendiri menjadi direktur teknis berbagai tim satelit Honda.
“Kalau dibandingkan antara waktu saya bekerja bersama Aprilia dengan Honda, saya yakin para pabrikan Jepang dahulu dapat sukses karena peraturan teknis pembuatan kala itu tergolong stabil dan tanpa banyak perubahan dari tahun ke tahun. Selain itu mereka juga punya lebih banyak insinyur untuk mengembangkan motor dibanding dengan berbagai motor saat itu,” jelas Bernadelle.
Namun pengamatan Bernadelle, inovasi yang berkembang di balap motor modern juga menyebabkan perubahan peraturan teknis yang lebih sering. Sehingga seiring waktu, para insinyur pabrikan Jepang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan zaman secara teliti.
“Mereka masih berkualitas tinggi, namun bekerja dengan lebih lambat, sehingga kekurangan waktu untuk memahami perubahan peraturan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu mereka juga telat dalam menerapkan berbagai inovasi, seperti adaptasi aerodinamika dan perubahan ketinggian motor,” ujar pria yang kini menjadi analis teknis tersebut.
Diantara para pengguna motor asal Jepang di MotoGP musim ini, Luca Marini dari Honda HRC Castrol menjadi yang teratas dengan berada di urutan ke-11 klasemen sementara. Sementara penghuni dasar klasemen sementara di luar pembalap pengganti juga merupakan pengguna motor Jepang, yakni Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller dari Prima Pramac Yamaha. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana