Menuju HJB 349: Perlunya Membangun Kesadaran Ekologis Generasi Muda

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 07:50 WIB
JADI MOTIVASI: Pramoedya Ananta Toer dan Tirto Adhi Soerjo menjadi bagian dari sejarah literasi di Blora, yang harus menjadi pelecut semangat generasi muda untuk meningkatkan literasi. (IST./RDR.BJN)
JADI MOTIVASI: Pramoedya Ananta Toer dan Tirto Adhi Soerjo menjadi bagian dari sejarah literasi di Blora, yang harus menjadi pelecut semangat generasi muda untuk meningkatkan literasi. (IST./RDR.BJN)

Oleh: Susanto


Kita bor minyak kita olah agar menguap ke udara, kita gali segala makanan dan kemajuan dari usus-usus kerak bumi sambil berdoa minta tambah rezeki Matahari tak pernah tua dan bumi mau ambruk ke mana, pijakan kita adalah kehampaan angkasa, biarkan pohon-pohon kita melayang-layang di udara.

[Sajak Pohon di Udara, karya: Emha Ainun Nadjib]


BEBERAPA Berita Radar Bojonegoro edisi Rabu, 14 Oktober 2026 menarik untuk didiskusikan untuk ditarik solusinya. Menghadirkan tiga persoalan lingkungan yang patut menjadi bahan renungan bersama. Kemarau diprediksi berlangsung hingga November, [hutan di wilayah selatan Bojonegoro gundul], Sebanyak 27.495 warga terdampak kekeringan, dan Kelestarian lingkungan di sekitar Lapangan Sukowati mengalami penurunan. 

Berbagai persoalan tersebut memberikan pesan penting bahwa lingkungan bukan sekadar ruang tempat manusia beraktivitas, melainkan penopang utama keberlangsungan kehidupan. Seiring dengan tema HJB  349 Tahun Ini: “Berdaya Saing dan Bertransformasi Menuju Bojonegoro Adil dan Makmur.” 

Ketika Alam Memberikan Peringatan

Kemarau panjang merupakan fenomena alam yang dapat terjadi secara berkala. Namun, dampaknya akan semakin berat ketika kondisi lingkungan tidak lagi mampu menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan yang kehilangan tutupan vegetasi, berkurangnya kawasan resapan air, serta menurunnya kualitas lingkungan dapat memperbesar risiko kekeringan dan berbagai persoalan ekologis lainnya.

Baca Juga: Opini: Paradoks Kuliah Gratis dan Kualitas Riset

Angka 27.495 warga terdampak kekeringan bukan sekadar statistik. Di balik angka tersebut, terdapat kehidupan masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk minum, memasak, menjaga kesehatan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kekeringan juga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian serta memengaruhi ketahanan ekonomi keluarga.Karena itu, persoalan kekeringan tidak cukup dihadapi hanya dengan mendistribusikan bantuan air bersih. Bantuan darurat memang diperlukan, tetapi upaya jangka panjang harus diarahkan pada pemulihan lingkungan, perlindungan sumber air, dan penguatan kawasan resapan.

 Hutan Gundul, Masa Depan yang Perlu Dijaga

Hutan memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Vegetasi membantu melindungi tanah, memperlambat aliran permukaan, dan mendukung peresapan air ke dalam tanah. Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan lingkungan dalam mengatur tata air juga dapat terganggu.

Kondisi hutan di wilayah selatan Bojonegoro seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi pengelolaan kawasan hutan dan lahan. Penanganannya membutuhkan koordinasi pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan.

Rehabilitasi hutan tidak cukup dilakukan melalui kegiatan penanaman pohon yang bersifat seremonial. Yang lebih penting adalah memastikan pohon yang ditanam dapat tumbuh, dirawat, dan membentuk kembali ekosistem yang berfungsi. Pemilihan jenis tanaman juga perlu disesuaikan dengan kondisi tanah, ketersediaan air, dan karakteristik kawasan. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa hutan bukan semata-mata sumber manfaat ekonomi, melainkan aset ekologis yang menentukan keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Lapangan Sukowati dan Pentingnya Ruang Terbuka Hijau

Menurunnya kelestarian lingkungan di sekitar Lapangan Sukowati juga perlu mendapat perhatian. Ruang terbuka dan kawasan yang memiliki nilai ekologis bukan hanya berfungsi sebagai tempat aktivitas masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap kenyamanan lingkungan dan kualitas kehidupan.

Pembangunan dan pemanfaatan kawasan semestinya berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan. Penataan ruang, pengelolaan sampah, pemeliharaan vegetasi, dan pengendalian dampak aktivitas manusia perlu dilakukan secara konsisten.

Kemajuan daerah tidak seharusnya hanya diukur melalui pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Kualitas udara, ketersediaan air, keberadaan pepohonan, kebersihan lingkungan, serta kemampuan masyarakat menikmati ruang publik yang sehat juga merupakan indikator penting keberhasilan pembangunan.

Pendidikan sebagai Gerakan Perubahan

Sebagai insan Pendidikan , saya memandang bahwa sekolah memiliki tanggung jawab strategis dalam membangun kesadaran ekologis generasi muda. Pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui teori di dalam kelas, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan dan tindakan nyata.

Baca Juga: Opini: Pangan Lokal dan Penyelamatan Lingkungan

Sekolah dapat mengembangkan gerakan hemat air, pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah, perawatan tanaman, penghijauan, serta pembelajaran berbasis proyek tentang persoalan lingkungan di sekitar peserta didik.

Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban dalam pelajaran, melainkan bagian dari karakter, tanggung jawab sosial, dan kepedulian terhadap masa depan.

Namun, gerakan lingkungan tidak boleh berhenti di lingkungan sekolah. Keluarga, masyarakat, pemerintah desa, komunitas, dan dunia usaha perlu membangun budaya yang sama. Kesadaran ekologis harus tumbuh menjadi gerakan bersama, bukan hanya slogan dalam kegiatan seremonial. Sekolah Tempat Menumbuhkan Karakter dan Pendidikan Berdampak serta Memberi Manfaat. Lingkungan keluarga dan Masyarakat selalu memberikan penguatan dalam merawat lingkungan bagi kaum muda.

Dari Kepedulian Menuju Aksi Nyata

Bojonegoro membutuhkan langkah yang terencana dan berkelanjutan dalam menghadapi problematika lingkungan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait perlu memperkuat pemetaan wilayah rawan kekeringan, perlindungan sumber mata air, rehabilitasi kawasan kritis, pengelolaan air hujan, serta pengawasan terhadap perubahan tutupan lahan. Masyarakat pun dapat berkontribusi melalui penghematan air, menjaga kebersihan sungai dan saluran air, merawat pohon, serta tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan.

Kita memang tidak dapat mengendalikan datangnya hujan. Namun, kita dapat memperbaiki cara memperlakukan alam agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan dan disimpan dengan lebih baik. Kita juga tidak dapat memulihkan hutan dalam semalam, tetapi dapat memulainya melalui kebijakan yang konsisten dan tindakan nyata.

Pada akhirnya, tiga persoalan yang mengemuka dalam pemberitaan Radar Bojonegoro tersebut mengingatkan kita bahwa krisis lingkungan bukan hanya urusan pemerintah atau kelompok tertentu. Ini adalah persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian, keberanian melakukan perubahan, dan komitmen jangka panjang.

Bojonegoro yang maju bukan hanya Bojonegoro yang berkembang secara ekonomi, tetapi juga Bojonegoro yang mampu menjaga airnya, merawat hutannya, melestarikan ruang hijaunya, dan mewariskan lingkungan yang sehat kepada generasi berikutnya.Sebab, pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan berisiko meninggalkan beban bagi masa depan. Sebaliknya, pembangunan yang berpihak pada keseimbangan alam akan menjadi investasi berharga bagi kehidupan masyarakat.

Baca Juga: OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

Nah, mari menjadikan persoalan lingkungan hari ini sebagai titik tolak perubahan yang lebih baik. Bukan sekadar prihatin ketika kemarau datang dan banjir Ketika musim penghujan, tetapi bergerak bersama untuk menjaga alam sepanjang waktu. Menjaga lingkungan adalah menjaga kehidupan. Merawat alam adalah merawat masa depan Bojonegoro. Apalagi tahun ini kita pada moment HJB Ke-349. Semoga menjadi daerah yang pembangunannnya berkelanjutan dan bukan hanya jargon politik saat Pilkada. Paling tidak sesuai slogannya bisa berdampak bagi masyarakatnya, Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan.

 

*Kepala SMA Negeri 1 Sumberrejo Bojonegoro

 

 

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
HJB  349 terdampak kekeringan kekeringan hutan