Oleh Aula Kenzie Prasetya
DESA Klino adalah salah satu desa pegunungan yang letaknya berada pada paling ujung selatan Kabupaten Bojonegoro, desa ini kerap kali dijuluki sebagai “Lantai Dua Bojonegoro” karena letak geografisnya lebih tinggi daripada Kabupaten atau kota pusat Bojonegoro. Secara geografis desa terebut terletak pada kaki Gunung Pandan di ketinggian ±900 Mdpl, meskipun ketinggian Gunung Pandan relatif pendek bahkan lebih layak disebut sebagai bukit, namun Gunung Pandan memiliki bukti bahwa ia sebagai Gunung dikarenakan terdapat berbagai penemuan semburan lumpur maupun belerang dari sekitar kaki Gunung Pandan yang hal tersebut merupakan ciri-ciri Gunung Berapi meskipun Gunung Pandan sendiri sudah tidak terdaftar sebagai Gunung Berapi.
Desa Klino memiliki sejarah yang sangat Panjang dan runtut hingga zaman Kolonial Belanda, salah satu buktinya ialah sebuah bangunan tua yang terletak di pusat Desa Klino yaitu Pesanggrahan Klino yang jika dilihat dari sejarahnya bangunan tersebut sudah ada sejak sebelum Pembangunan Waduk Pacal di Bojonegoro dan pembangunan jalan penghubung antara Kabupaten Bojonegoro dengan Kabupaten Nganjuk.
Pelbagai informasi sejarah yang dimiliki Desa Klino sebenarnya apabila dirangkum atau dibukukan akan dapat menarik perhatian arkeolog, pasalnya sejarah atau masa lalu Desa Klino sendiri memiliki banyak kejadian menarik apabila diteliti dan di-observasi lebih lanjut dapat menjadi sebuah desa sejarah yang menyimpan banyak fakta maupun kisah menarik, dan jika dibungkus dengan nilai-nilai edukasi sekaligus dipadukan dengan norma dan kebiasaan masyarakat akan menjadi kearifan lokal tersendiri yang menyimpan keunikannya.
Warga atau penduduk Desa Klino sendiri sebenarnya menyimpan banyak sekali rahasia atau sejarah menarik (Hidden Gem) Desa Klino yang sampai sekarang belum ada atau masih sedikit yang tertulis umumnya masih berdasarkan informasi turun temurun atau mulut ke mulut dan beberapa bukti foto atau dokumen Kolonial zaman dahulu terkait Desa Klino. Kepala Desa Klino saat ini yaitu ibu Dwi Nurjayanti sedang berfokus mengembangkan potensi wisata Desa Klino lewat pelbagai pembangunannya atau program yang dijalankannya yaitu seperti renovasi ikon utama Desa Klino yaitu Tugu Pancasila Klino menjadi sebuah taman yang dihiasi dengan pelbagai komoditas utama Desa Klino saat ini yaitu Buah Durian, pertanian Bawang dan tanaman Porang yang bernilai jual sangat tinggi di pasaran.
Pada beberapa tempat di Desa Klino pernah didapati penemuan yang dianggap sebagai reruntuhan candi kuno, dengan ciri khasnya tumpukan batu bata besar yang tersusun rapi di tengah hutan dengan kondisi tertimbun tanah, sebagian bata-nya terlihat di permukaan tanah, pernah seorang warga sekitar menemukannya lalu melapor kepada pihak yang berwenang namun nihil tanggapan yang diberikan olehnya yang pada akhirnya tetap dibiarkan demikian karena tidak ada yang membiayai untuk observasi lebih lanjut. Begitulah hambatan Desa Klino dalam meraih cita-cita sebagai Desa Wisata yang sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar namun terhambat oleh para konglomerat yang tidak mau bekerja sama dengan rakyatnya sendiri.
Baca Juga: Opini: Mencintai Indonesia di Tengah Budaya Sinisme Digital
Ibu Dwi Nurjayanti memiliki visi yang sangat bagus apabila kinerjanya dikerahkan seluruhnya untuk keperluan Desa, beberapa pembangunan yang dilakukan ibu Dwi Nurjayanti terbukti meningkatkan potensi Desa Wisata yang sangat bermanfaat untuk warga ataupun masyarakat sekitar, beberapa pembangunanya ialah Buditanam bunga Krisan yang menjadi ikon utama, Buditanam buah Durian, Manggis, Jeruk, dan pembangunan Gazebo atau pondok kecil untuk dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat istirahat atau melepas penat di sekitar kebun bunga dan kebun buah desa,
Potensi yang seharusnya dimaksinalkan oleh Kepala Desa ternyata hanya pembangunan diawal yang pada ujungnya hanya “Sekadar” pembangunan semata tidak daa perkembangan, setelah itu hanya Dibangun namun tiada perenovasian atau perawatan rutin yang seharusnaya dilakukan oleh pihak Desa beserta pihak berwenang lainnya. Sekarang banyak dari pembangunan yang dilakukan oleh Kepala Desa berujung pembangunan yang pada sifatnya hanya sebagai pembuktian bahwa Kepala Desa sudah bekerja atau terbukti telah menunjukkan kinerjanya namun hanya diawal.
Saat ini belum ada perkembangan lebih lanjut terkait pembangunaan yang dilakukan oleh Kepala Desa, dan kemarin sempat viral sebuah kasus dimana ada sebuah pembangunan jalan di Dusun Tengaring terkait pembangunan jalan cor, dengan dibiayai bernilai fantastis hingga dua Miliar Rupiah namun dengan hasil yang seadanya, beberapa warga mengeluh Ketika pembangunan jalan dilakukan ditemukan besi-besi pondasi terlihat tidak berkualitas dan ketika baru selesai pembangunan ditemukan di beberapa titik jalan yaitu keretakan atau kerusakan, pada akhir kasus tersebut dilaporkan oleh warga setempat kepada penegak hukum yang kelanjutannya masih belum jelas atau bahkan terbengkalai.
Beberapa warga juga pernah menemukan reruntuhan candi seperti yang saya katakana diatas, disayangkan hal tersebut tidak dimanfaatkan pemerintah untuk meningkatkan atau menumbuhkan potensi wisata yang jauh lebih besar dan apabila benar-benar teralisasikan dan terjalankan akan berdampak luas pada pertumbuhan ekomoi Desa Klino maupun Kabupaten Bojonegoro. Semoga kelanjutannya dapat benar-benar dijalankan dan digarap oleh aparat desa maupun kabupaten agar dapat memenuhi dan menigkatkan apayang dibutuhkan atau perekonomian masayarakat Bojonegoro. (*)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah