Oleh : M. Riono *)
Kompetensi yang hendak dituju dan harus dikuasai peserta didik setelah lulus dari satuan Pendidikan, tertuang dalam Permendikdasmen Nomor 10 tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan ini menetapkan delapan dimensi kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang wajib dikuasai peserta didik pada akhir setiap jenjang pendidikan.
Delapan Dimensi Profil Lulusan (DPL) yang dimaksud meliputi, Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan,dan komunikasi
Untuk menguasai kedelapan dimensi profil lulusan tersebut ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup dengan satu langkah pasti. Apa itu ? Meneladani Rasulullah.
Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Dimensi ini adalah fondasi dari segala fondasi. Sepanjang hidup Rasulullah selalu menunjukkan sikap ketundukan, kepasrahan, serta ketakwaan mutlak kepada Allah Swt.
Lulusan yang berkarakter harus menempatkan keimanan sebagai kompas moralnya. Pintar saja tidak cukup, tanpa takwa kepada Allah Swt. “Kepintaran tanpa ketaqwaan hanya akan melahirkan kecurangan”.
Kewargaan
Rasulullah adalah pribadi yang paling empati. Beliau tidak bisa tidur nyenyak jika tahu ada tetangganya yang kelaparan.
Kita harus peka terhadap lingkungan sekitar. Menjadi pemberi solusi bagi masyarakat, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, agar Indonesia semakin kuat dan jaya.
Penalaran kritis
Rasulullah adalah sosok yang sangat bijaksana dan selalu menggunakan akal sehat (dibimbing wahyu). Beliau tidak enggan berdiskusi untuk mencari solusi.
Lulusan yang bernalar kritis, tidak mudah termakan hoaks, mampu menganalisis informasi dengan obyektif, serta terampil dalam mengambil keputusan yang tepat.
Kreativitas
Rasulullah selalu fleksibel melihat peluang. Beliau mengubah dakwah sembunyi menjadi terang-terangan, memanfaatkan tawanan perang untuk mengajar membaca anak-anak.
Kreativitas dan inovasi adalah kunci bagi lulusan agar mampu bertahan dan menciptakan peluang baru di tengah disrupsi teknologi saat ini.
Kolaborasi
Contoh karakter kolaboratif dan gotong royong yang dipraktekkan Rasulullah adalah saat meletakkan hajar aswat setelah kakbah selesai dibangun. Rasulullah dengan bijak membentangkan kain, agar bisa diangkat bersama-sama oleh para ketua suku.
Dunia kerja saat ini tidak butuh manusia egois, melainkan individu yang mampu bekerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan bersama.
Kemandirian
Sejak kecil Rasulullah Saw sudah terbiasa hidup mandiri (Gembala kambing, berdagang).
Karakter mandiri berarti :
Motivasi internal yang kuat
Tidak bergantung kepada orang lain
Mampu meregulasi diri sendiri (dalam belajar maupun bekerja)
Kesehatan
Rasulullah adalah sosok manusia yang kuat dan selalu sehat, beliau tidak pernah sakit.
Peserta didik harus bisa mencontoh beliau. Menjalankan pola hidup sehat, makan bergizi, istirahat cukup, agar selalu sehat jiwa raga, sehingga bisa terus semangat dan giat belajar untuk meraih masa depan yang gemilang.
Komunikasi
Komunikasi, diskusi, alih informasi adalah kebiasaan hidup Rasulullah sehari-hari. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan komunikasi.
Komunikasi Adalah penghubung sesame, pencair suasana, dengan komunikasi semua akan jadi mudah. Pintar literasi, jago numerasi, harus tetap didukung dengan lihai komunikasi.
Lulusan yang unggul bukan sekedar tentang seberapa tinggi nilai yang diraih, atau diterima di sekolah favorit. Lulusan yang sejati adalah mereka yang mampu memadukan kecerdasan duniawi dengan keluhuran budi pekerti. Seperti jargon SMPN 1 Baureno, “Spenstuba… Luhur budi, Unggul prestasi…”.
*)Kepala SMPN 1 Baureno
Editor : Farhan Reza Ardiansyah