Oleh : Nono Warnono *)
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diadakan saban awal tahun ajaran baru dalam rangka memperkenalkan pada siswa agar beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Sebagai sebuah kegiatan strategis, MPLS tak lazim manakala dipandang sebagai kegiatan seremonial, formalitas administratif atau sebatas tradisi tahunan ansich. Namun lebih dari itu MPLS diniscayakan menjadi gerbang mengantarkan murid dalam pembelajaran. untuk bertranspormasi bukan semata masa orientasi.
Tradisi MPLS awalnya diadopsi dari siatem pendidikan warisan Belanda yang disebut sebagai pendewasaan (ontgroening) yang orientasinya identik dengan perpeloncoan yang bertujuan melatih mental dan pendisiplinan fisik yang cenderung kekerasan fisik dan tekanan psikologis. Dalam perkembangannya, adopsi tersebut diselaraskan menjadi Masa Orientasi Sekolah (MOS) yang masih cenderung diwarnai kekerasan fisik dan mental. Secara gradual diadaptasi menjadi kegiatan yang ramah anak dengan terbitnya regulasi Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru.
Dalam perspektif Kemendikdasmen, MPLS diimplementasikan berwawasan edukatif, mengedepankan ramah anak, dalam situasi aman, suasana menggembirakan dan bebas dari kekerasan atau perpeloncoan fisik dan mental. MPLS menjadi momentum membangun kesadaran, sebuah revolusi kultural dalam sistem pendidikan nasional sebagai ikhtiar mereduksi kekerasan atau perundungan (bullying).
Baca Juga: Siswa SMKN Sugihwaras Menjalani MPLS Ramah Dengan Semangat dan Antusias
Kini implementasi MPLS lebih ramah anak, dengan fokus kegiatan membantu siswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan fisik sekolah, memperkenalkan kurikulum belajar di sekolah, memahami hak dan kewajiban, serta menumbuhkembangkan motivasi belajar yang positif dan produktif. MPLS menjadi bukti nyata bahwa mengajar, mendidik dan mendisuplinkan siswa tidak harus dilakukan dengan intimidasi. Sekolah harus menjadi rumah yang aman dan menyenangkan bagi siswa dalam berproses mentransfer pengetahuan (kognitif), menginternalisasi nilai-sikap (afektif) dan gladi ketrampilan (psikomotorik).
GEMAS Mereduksi Fatherless
Fenonena minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak (fatherless) yang direspon pemerintah daerah Bojonegoro melalui ikhtiar Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GEMAS), menarik untuk didiskusikan. Sebagian praktisi pendidikan dan psikologi memberikan perspektif kritis, bahwa kebijakan yang secara khusus mewajibkan kehadiran ayah pada hari pertama masuk sekolah dipandang kurang efektif. Karena kebijakan tersebut belum mempertimbangkan kondisi riil yang dihadapi setiap anak. (Radar Bojonegoro, 13 Juli 2026).
Mayoritas pakar sepakat bahwa peran ayah lebih dari sekadar pencari nafkah. Ayah adalah pilar utama pembentuk fondasi emosional, karakter, dan mental anak. Keterlibatan aktif ayah secara langsung menumbuhkan rasa aman, melatih ketegasan, dan menyeimbangkan pola asuh ibu, yang terbukti mencegah krisis figur ayah (fatherless). Kehadiran sosok ayah dalam pengasuhan memiliki dampak krusial dalam pembentukan karakter. Para psikolog menilai bahwa relasi positif dengan ayah membuat anak lebih mandiri, berani mengambil keputusan, dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi. Dalam ranah kecerdasan emosional, interaksi dan gaya komunikasi ayah yang khas membantu anak mengelola emosi dan membangun kemampuan bersosialisasi yang lebih baik di masyarakat. Dukungan psikologis keterlibatan ayah dalam rutinitas sehari-hari, seperti mengantar sekolah, mendampingi belajar, bermain, atau sekadar hadir di acara sekolah akan memberikan rasa dicintai dan sangat memotivasi anak.
Indonesia masuk peringkat tiga fatherless country di dunia. Psikolog UGM, Diana Setiyawati, menyampaikan bahwa fatherless country bermakna suatu negara dengan masyarakatnya minim peran/keterlibatan sosok ayah dalam kehidupan anak. Ini jadi fenomena yang cukup lazim, karena pengaruh budaya patriarki yang menempatkan perempuan bertanggung jawab urusan domestik dan mengurus anak. Sementara laki-laki bertanggung jawab pada urusan publik. Selain faktor budaya, anak bisa mengalami fatherless karena orang tua yang terlalu sibuk. Karena kesibukan bekerja, menjadikan ayah sulit untuk terlibat dalam pengasuhan.
Baca Juga: Siswa SMKN Sugihwaras Menjalani MPLS Ramah Dengan Semangat dan Antusias
Peran Ayah Dalam Tumbuh Kembang Anak
Keterlibatan ayah dalam aktivitas bersama anak dapat menjadi kegiatan yang menstimulasi perkembangan kognitif yang juga akan mendorong perkembangan fungsi eksekutif lebih optimal dan memepengaruhi perkembangan emosi. Ayah yang memberikan dukungan emosi bisa mengurangi beban yang dimiliki ibu sehingga turut memengaruhi kualitas hubungan antara ibu dan anak.
Dalam perkembangan moral, ayah berperan penting dalam penanaman nilai inidvidu karena sikap lebih tegas dan maskulin daripada ibu. Penelitian menunjukkan hilangnya peran ayah menyebabkan anak tidak memiliki moral yang baik dan terlibat dalam kenakalan remaja. Juga dapat memunculkan hambatan dalam proses perkembangan anak dan menjadi faktor risiko munculnya psikopatologi pada anak. Salah satunya kecanduan zat ataupun aktivitas kesenangan seperti kecanduan gadget, game online, napza, rokok dan perilaku seksual.
Menurut hemat penulis, sekecil apapun manfaatnya, gerakan GEMAS penting diapresiasi. Pertama, merevitalisasi peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu. Tahun ajaran baru menjadi momentum merealisasikan peran esensial tersebut. Kedua, Surat Edaran tersebut menjadi landasan penting bagaimana mencari solusi fatherless. Salah satunya secara simbolis dengan kehadiran ayah di hari pertama masuk sekolah. Ketiga, Surat Edaran kebijakan tersebut menjadikan legalitas penganggaran oleh lembaga sekolah dalam merealisasikannya.
Dus, sekecil apapun ikhtiar pemerintah daerah melalui dinas pendidikan untuk mengkondisikan ayah dalam pengasuhan anak penting diapresiasi. Mendikotomi peran ayah dan ibu dalam pengasuhan anak, akan menjadi kontra produktif.
*) Pegiat pendidikan, sastra dan sosial budaya di Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB).
Editor : Farhan Reza Ardiansyah