Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan

M. Nurcholis • Jumat, 19 Juni 2026 | 14:09 WIB
DIAN MARTHA YUANA, S.IP.
DIAN MARTHA YUANA, S.IP.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Malam kemarin (16/6/2026), di sebuah kedai kopi di Kawasan jalan Pattimura, tergeletak sebuah koran local “RADAR BOJONEGORO” tertanggal hari  ini terserak di pojok meja paling depan yang terlihat jelas sudah lecek karena berulang kali dibaca pengunjung kedai.

SambIl menunggu kopi pahit dingin, ada artikel menarik yang membuat mata yang semula ngantuk menjadi melek Kembali. Judulnya  DROPPING AIR DIANGGARKAN 529 JUTA oleh PEMKAB BOJONEGORO.

Saya baca sampe 2 X. mencoba untuk mengingat ngingat acara Dropping Air Tahun Lalu di beberapa kecamatan yang di inisiasi oleh Mas Rondi, Sekertaris MPKSDI Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bojonegoro. 

Apa Kabar Kondisi Alam Bojonegoro Selatan..? Apakah baik baik saja..? tentunya yang sering melakukan perjalanan ke arah madiun, nganjuk, Jombang, ngawi dan sekitarnya (via Kecamatan Temayang, Sekar, Sugihwaras, ngambon, ngasem, ngraho, hingga margomulyo) akan menjumpai daerah hutan sepanjang jalan telah berubah fungsi total.

Dari semula tanaman industry (jati, mahoni, akasia dll) sekarang berubah menjadi ladang jagung. Entah berapa ribu hektar pastinya, namun sejauh mata memandang hamparan tanaman jagung dari ujung timur (kedungadem) hingga barat (margomulyo) membentang luas sejauh mata memandang.

Topografi Hutan Bojonegoro bukan seperti hutan seperti daerah daerah lain di dataran rendah. Di beberapa daerah kecamatan, letak geografis hutan bagian selatan bojonegoro berada pada tingkat kemiringan tertentu, wilayah kec sekar misalnya, berada pada ketinggian 600 – 800 dpl dengan sebaran desa di sekitar Kawasan hutan.

Kecamatan Margomulyo dan Sebagian Kecamatan Ngasem dan Ngambon memiliki topografi yang sama, dimana sebaran desa di tiap kecamatan berada pada ketinggian tertentu.

Alih Fungsi hutan menjadi tanaman pangan (baca: tanaman Jagung) menjadi semakin tidak terkendali, Ketika Pemerintah mengenalkan Konsep Perhutanan Sosial.

Payung Hukum PP no 23 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kehutanan dan PERMEN LHK No 09 tentang Pengelolaan Perhutanan Sosial menjadi pemantik yang luar biasa terhadap alih fungsi lahan.

Inti dari kedua peraturan tersebut adalah memberikan akses, hak kelola, dan manfaat hutan kepada masyarakat, agar hutan terjaga kelestariannya sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga dengan menjaga keseimbangan lingkungan, berkeadilan, berkelanjutan dan partisipatif.

Sepemahaman penulis, masyarakat berhak mengelola hutan, dengan menanami lahan hutan tersebut dengan tanaman pangan dan tanaman berkayu untuk mempercepat kesejahteraan, karena hutan adalah milik rakyat, seyogyanya juga menjadi hajat hidup rakyat sebagai pemiliknya. 

Lantas, tanaman apa yang boleh ditanam..? Tanaman pangan dengan masa panen rendah (jagung: 3 bulan panen) menjadi tanaman favorit warga untuk ditanam.

Jagung ini menjadi kunci kesejahteraan bagi masyarakat sekitar hutan, sedangkan tanaman kayu untuk melindungi hutan tersebut. Keduanya, harus ditanam bebarengan dengan seimbang, guna tercipta percepatan kesejahteraan dan konservasi hutan

Namun, konsep yang begitu mulia berbeda dengan kondisi di lapangan. Hampir tidak ada (baca: tidak menjumpai) tanaman kayu di antara lahan jagung. 

Percepatan ekonomi masyarakat pinggiran hutan dengan memanfaatkan lahan hutan akan/telah menjadi bencana ekologis, dengan skala tiap tahun semakin berdampak meluas kearah bojonegoro bagian utara. Dimulai dari masyarakat/desa di pinggiran hutan merambat dengan cepat ke arah utara secara perlahan.

Dampak nyata pada hari hari ini adalah suhu yang panas pada siang hari dan suhu dingin pada malam hari. Lahan gundul setelah panen jagung mengakibatkan tidak ada lagi tajuk pohon yang berfungsi menghalangi dan menyerap sinar matahari.

Sinar matahari jatuh langsung ke permukaan tanah, sehingga tanah menyerap panas dalam jumlah besar dan memancarkannya kembali ke udara.

Selain itu, berkurangnya pepohonan menurunkan proses penguapan air dan pelepasan uap air yang berfungsi mendinginkan udara. Akibatnya, suhu udara menjadi jauh lebih tinggi, terasa lebih panas, dan perbedaan suhu antara siang dan malam pun menjadi lebih ekstrem dibandingkan kawasan hutan yang masih utuh. 

Dampak selajutnya adalah bencana ekologis hilangnya cadangan air bawah permukaan tanah. Penulis yakin, hilangnya pepohonan diatas mengakibatkan debit air tanah perlahan mengering.

Kantong Kantong air dalam tanah dan sungai bawah tanah semakin berkurang debit airnya. Kantong air merupakan ruang ruang kosong diantara butiran tanah, batuan atau celah batuan yang terisi air hujan.

Air ini tersimpan secara alami dan menjadi cadangan air bersih dan stabil, tidak mudah menguap karena terlindungi pepohonan diatasnya.

Sungai bawah tanah, sama halnya dengan sungai permukaan merupakan aliran air yang mensuplai air ke mata air, sungai, danau bawah permukaan dan sumur sumur warga dengan rangkaian aliran yang sangat rumit, sehingga mampu dimanfaatkan oleh manusia dan alam itu sendiri

Kedua unsur tersebut, bergantung pada keberadaan hutan. Akar pohon menjadi media utama dalam penyerapan. Akar pohon membantu air hujan meresap dan daun daun diatasnya menjadi penahan alami sebelum air hutan tersebut menuju ke dalam tanah.

Jika hutan gundul maka air akan sulit meresap sehingga cadangan kantong air dan sungai bawah tanah akan berkurang  debitnya, sehingga musim kemarau terasa kekurangan air dan bila musim hujan terjadi banjir.

Balik lagi ke judul koran RADAR BOJONEGORO tentang ANGGARAN DROPPING AIR di TAHUN 2026 oleh PEMKAB BOJONEGORO sebagai dana taktis yang dikelola langsung oleh BPPD BOJONEGORO.

Segera saya telp Mas Rondi untuk menanyakan detail mekanisme pengiriman air bersih ke warga tahun lalu. Beliau bercerita bahwa 1 x pengiriman truck tanki mampu memuat volume sebanyak 5000 liter dengan ongkos kendaraan Rp. 550.000,- per rit sekali kirim.

Pada tahun lalu, melalui lembaganya dengan bekerja sama dengan donator telah berhasil  menyalurkan sekitar 102 rit truk air bersih ke pelosok desa yang membutuhkan.

Langsung saya klik calculator di HP. Jika PEMKAB BOJONEGORO menganggarkan dana Rp. 529.000.000 pada tahun ini untuk penanganan bencana kekeringan, maka bila di konversi dengan supply Truck air bersih, PEMKAB BOJONEGORO setidaknya akan menyalurkan 962 rit truck air bersih ke berbagai desa pelosok di bojonegoro dengan alokasi dana tersebut. 

Bro dan sist.. dan semua yang membaca opini ini. Ancaman kekeringan di bojonegoro selatan adalah nyata. Akan bergerak perlahan ke utara. Ancaman ini massif dan terstruktur semakin jelas polanya. Tahun demi tahun akan lebih berat.

Lima tahun dari sekarang, mungkin bojonegoro sudah darurat kekeringan. Tanah Longsor akan terjadi di Selatan, Banjir Bandang menggulung daerah dibawahnya. Akan ada ribuan orang yang menderita di tahun tahun mendatang 

Kopi hampir dingin, saya seruput dan sesap sesekali. Tiba tiba notifikasi di akun youtube saya menyala. Entah kebetulan atau bagaimana saya kurang tahu.

Saya klik dan lihat, ternyata cuplikan PIDATO PERDANA PRESIDEN PRABOWO usai dilantik tanggal 20 OKTOBER 2024 di SIDANG PARIPURNA MPR. Tegas menyatakan bahwa swasembada pangan dan energi sebagai syarat mutlak kedaulatan bangsa. Setuju sih.. saya yess.. saya yess.. 

Namun di balik itu, sayup sayup berita ketidakberpihakan Pemerintah mulai terdengrar. Dari Tanah Papua, Kalimantan dan Sumatera, tentang ambisi pemerintahan presiden Prabowo untuk kemandirian dan berdaulat secara pangan dan energi harus dibayar mahal.

Harus mengorbankan hutan. Dialih fungsikan menjadi tanaman sawit dan tebu atas nama kedaulatan energi. Membuka dua ratus ribu hektar untuk cetak sawah baru di papua dan Sumatra denganatas nama kedaulatan pangan. Dua juta hektar tanah papua dialihfungiskan. Ijin tambang di permudah..

Saya rasa pemerintah hari ini semakin ke sini, kok semakin ke sono..

Ahh sudahlah, semoga saya salah… 

Oleh: DIAN MARTHA YUANA, S.IP

Penulis tinggal di Ngumpakdalem Dander

Aktif di ICMI ORDA BOJONEGORO

Aktif di Majelis Lingkungan Hidup PD Muhammadiyah Bojonegoro dan

Mahasiswa Pasca Sarjana yang berusaha untuk segera lulus

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Bencana #kekeringan #hutan #bojonegoro #Air