Pasar Tradisional di Tengah Badai Ekonomi Digital

M. Nurkhozim • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 10:52 WIB
BERMAIN HP: Pedagang pakaian di Pasar Kota Bojonegoro santai bermain HP saat menjaga dagangannya, semakin hari makin sepi pembeli. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)
BERMAIN HP: Pedagang pakaian di Pasar Kota Bojonegoro santai bermain HP saat menjaga dagangannya, semakin hari makin sepi pembeli. (YANA DWI KURNIYA WATI/RADAR BOJONEGORO)

 

Pasar tradisional masih menjadi tulang punggung perekonomian rakyat daerah. Pasar menjadi lokasi berputarnya roda ekonomi.

Di tengah gempuran ekonomi digital yang kian masif, pasar tradisional masih menjadi pilihan masyarakat untuk berbelanja kebutuhan. Kunjungan ke pasar tradisional masih ramai dan banyak dikunjungi pembeli. Anda bisa melihatnya di pasar tradisional di sekitar Anda.

Di Bojonegoro, tahun ini ada proyek strategis untuk pasar tradisional, khususnya Pasar Kota Bojonegoro. Alokasi anggaran yang disiapkan mencapai Rp80 miliar. Ini menjadi salah satu dari delapan proyek strategis daerah (PSD) yang dicanangkan Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah.

Rencananya, Pasar Kota Bojonegoro akan dibangun tiga lantai dengan konsep yang lebih tertata dan representatif. Hingga kini, pemerintah kabupaten masih belum merilis desain bangunannya.

Pasar Kota Bojonegoro memang sudah saatnya dibangun ulang. Bangunannya sudah mulai lapuk sehingga kurang sedap dipandang.

Berdasarkan informasi yang beredar, pasar itu terakhir dibangun pada 1990-an dan hingga kini belum ada pembangunan baru. Beberapa bupati yang pernah menjabat hanya melakukan rehabilitasi kecil-kecilan.

Dengan dibangunnya pasar itu, pemerintah berharap ekonomi masyarakat dapat semakin bergeliat dan minat berbelanja di pasar semakin meningkat.

Pasar tradisional memang masih memiliki daya tarik tersendiri. Barang lebih segar, harga lebih murah, dan bisa ditawar. Oleh karena itu, sebanyak apa pun pasar modern yang berdiri, pasar tradisional tetap tidak akan tergantikan.

Namun, perlu dicatat, hal itu hanya berlaku untuk bahan makanan seperti daging, sayur, beras, dan aneka bumbu dapur. Masyarakat lebih banyak berbelanja ke pasar tradisional daripada ke supermarket.

Kondisi ini berbeda dengan komoditas pakaian. Di pasar tradisional, pakaian mengalami nasib yang cukup memprihatinkan. Para pedagang pakaian di pasar tradisional mengalami penurunan omzet yang sangat tajam dari tahun ke tahun.

Para pedagang pakaian di pasar tradisional saat ini hanya mampu bertahan. Mereka sulit berkembang karena pesaing mereka sangat banyak, tidak hanya dari sekitar, tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri.

Beberapa tahun lalu, pesaing mereka adalah supermarket dan toko pakaian, dan persaingan itu belum begitu terasa. Sebab, hanya kalangan tertentu yang membeli pakaian di supermarket dan toko pakaian. Lagi pula, pakaian yang dijual biasanya bermerek ternama, sementara di pasar tradisional dijual produk lokal yang kerap tanpa merek dagang dengan harga yang cukup terjangkau jika pandai menawar.

Namun, generasi milenial dan Generasi Z mulai enggan membeli pakaian di pasar tradisional. Mereka malas tawar-menawar dan lebih suka memilih model pakaian tanpa harus repot menawar harga. Semua itu tersedia di supermarket: tanpa tawar-menawar, lokasi nyaman, meski harga lebih mahal. Bagi milenial dan Gen Z, hal itu bukan masalah, asalkan modis.

Kini, pesaing pedagang pasar bertambah lagi dengan kehadiran marketplace. Barang dagangan berseliweran di berbagai aplikasi ponsel dengan harga murah dan pilihan yang sangat beragam. Konsumen tentu lebih diuntungkan karena layanan ini buka 24 jam.

Pedagang pakaian di pelosok Banten pun bisa dengan mudah berjualan kepada warga Bojonegoro. Tinggal klik, bayar, dan pesanan diantar. Harganya lebih murah dan tidak merepotkan.

Para pedagang grosir pakaian di Jakarta—yang biasanya menjadi tempat pedagang pakaian berkulakan—kini pun membuka toko daring. Bayangkan, pedagang grosir langsung berjualan kepada konsumen akhir dengan harga yang jauh lebih murah.

Dulu, berdagang cukup dengan menyewa kios di pasar, mengisi dengan dagangan, lalu menunggu pembeli datang. Kini, cara itu tidak lagi memadai. Pedagang pakaian di pasar tradisional mau tidak mau harus mengikuti arus perubahan dan melakukan inovasi. Tentu saja, pemerintah harus turut membantu mereka. (zim)

 

Editor : M. Nurkhozim
Setyo Wahono dan Nurul Azizah pemkab bojonegoro Pasar Kota Bojonegoro