Daerah Ekonomi Esai Gemas Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Mbakyu Nasional Opini Pembaca Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Weekend Yuk

Opini: Ketika Takjil Menjadi Konten

Muhammad Suaeb • 2026-03-15 09:30:00

RAMAI: Ragam menu masakan tersaji di pedagang takjil dekat Masjid Darussalam dan barat alun-alun, kemarin (23/3). (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RDR.BJN)
RAMAI: Ragam menu masakan tersaji di pedagang takjil dekat Masjid Darussalam dan barat alun-alun, kemarin (23/3). (DHANI WAHYU ALFIANSYAH/RDR.BJN)

 

Oleh:
Munawar
Pengurus Remas Masjid Agung Darussalam Bojonegoro

 

SETIAP menjelang maghrib, jalanan mendadak padat. Bukan karena jam pulang kantor semata, tetapi karena deretan tenda warna-warni yang bermunculan di pinggir jalan. Asap gorengan mengepul, plastik minuman berembun, dan suara pedagang bersahutan menawarkan kolak, es buah, hingga jajanan kekinian yang diberi label “viral”. Di antara pembeli, tak sedikit yang datang bukan hanya dengan dompet, tetapi juga dengan kamera ponsel yang siap merekam. Mereka tidak sekadar membeli untuk berbuka, melainkan juga untuk mengabadikan dan membagikan.

Fenomena berburu takjil kini terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar rutinitas menjelang adzan maghrib, melainkan peristiwa sosial yang dinanti. Ada sensasi, ada euforia, bahkan ada kebanggaan tersendiri ketika berhasil mendapatkan menu yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Pertanyaannya, apakah takjil masih berada dalam ruang spiritualnya, atau telah bergeser menjadi bagian dari gaya hidup musiman?

Secara makna, takjil berasal dari kata Arab ta’jil, yang berarti menyegerakan. Ia merujuk pada anjuran untuk segera membatalkan puasa ketika waktunya tiba. Dalam praktik yang paling sederhana, takjil identik dengan kurma dan air putih, cukup untuk mengembalikan tenaga sebelum melanjutkan ibadah. Esensinya bukan pada kemewahan hidangan, melainkan pada kesederhanaan dan rasa syukur.

Di titik ini, takjil sebenarnya adalah simbol pengendalian diri. Puasa melatih manusia menahan lapar, dahaga, dan keinginan. Ketika adzan berkumandang, yang dibutuhkan hanyalah secukupnya. Ada nilai keseimbangan di sana, menahan sepanjang hari, lalu berbuka tanpa berlebihan.

Namun lanskap sosial hari ini menghadirkan suasana yang berbeda. Media sosial memainkan peran penting dalam mengubah atmosfer Ramadhan. Setiap sore, linimasa dipenuhi rekomendasi “takjil terenak tahun ini”, “menu unik wajib coba”, atau “pasar takjil paling ramai dan murah”. Kamera ponsel merekam proses membeli, mencicipi, hingga memberi ulasan spontan. Takjil menjadi konten, dan konten menjadi identitas.

Ramadhan, yang semestinya menjadi ruang perenungan personal, perlahan juga menjadi ruang eksistensi digital. Mengunggah foto minuman estetik atau jajanan warna-warni seolah menjadi bagian dari pengalaman berpuasa itu sendiri. Dalam logika media sosial, pengalaman yang tidak dibagikan terasa kurang lengkap. Di sinilah berburu takjil melampaui fungsi dasarnya sebagai makanan pembuka, dan memasuki wilayah gaya hidup.

Perubahan ini tentu tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Tradisi selalu beradaptasi dengan zaman. Generasi muda menemukan caranya sendiri untuk merayakan Ramadhan, termasuk melalui ruang publik seperti pasar takjil. Di tengah mahalnya tempat hiburan dan terbatasnya ruang interaksi, deretan lapak di pinggir jalan justru menjadi ruang demokratis. Siapa pun bisa datang, bercengkerama, dan merasakan suasana kebersamaan tanpa biaya besar.

Dari sisi ekonomi, geliat ini juga membawa berkah. Banyak pedagang musiman menggantungkan harapan pada bulan Ramadhan. Perputaran uang meningkat, peluang usaha terbuka, dan kreativitas kuliner tumbuh pesat. Dalam konteks ini, berburu takjil bukan sekadar konsumsi, melainkan denyut ekonomi rakyat kecil yang berusaha memanfaatkan momentum.

Meski demikian, ada ironi yang patut direnungkan. Puasa mengajarkan pengendalian diri, tetapi pasar takjil kerap memamerkan ledakan konsumsi. Lapar seharian sering kali berujung pada “lapar mata” saat melihat aneka pilihan makanan dan minuman yang dijajakan. Kantong plastik terisi penuh, meja makan sesak oleh hidangan, dan tak jarang sebagian makanan berakhir tak tersentuh. Kita menahan diri hampir empat belas jam, tetapi kehilangan kendali dalam hitungan menit.

Di sinilah pergeseran makna terasa nyata. Takjil yang dulu cukup dengan yang sederhana, kini sering kali menjadi ajang pembuktian selera dan daya beli. Menu yang semakin unik dan mahal justru dianggap lebih menarik. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa mencicipi sesuatu yang langka atau sedang tren. Konsumsi bukan lagi sekadar kebutuhan biologis, melainkan simbol sosial.

Namun apakah ini berarti kita sepenuhnya menjauh dari esensi Ramadhan? Tidak selalu. Perubahan budaya tidak serta-merta menghapus nilai dasar. Banyak orang tetap menjaga niatnya, tetap berbuka dengan doa yang khusyuk, meski membeli lebih dari satu jenis makanan. Masalahnya mungkin bukan pada keberagaman takjil, melainkan pada kesadaran di baliknya.

Pertanyaannya bukan apakah berburu takjil itu salah, melainkan apakah kita masih memahami maknanya. Apakah kita membeli karena kebutuhan, atau karena dorongan untuk terlihat? Apakah kita menikmati kebersamaan, atau sekadar mengikuti arus tren? Refleksi semacam ini penting agar Ramadhan tidak sepenuhnya terseret menjadi festival konsumsi tahunan.

Pada akhirnya, takjil hanyalah medium. Ia bisa menjadi jalan untuk bersyukur, berbagi, dan menggerakkan ekonomi kecil. Tetapi ia juga bisa berubah menjadi panggung pamer dan euforia sesaat. Ramadhan selalu datang membawa pesan yang sama, menahan diri, membersihkan hati, dan menyederhanakan hidup. Dunia di sekitar kita mungkin terus mendorong untuk membeli lebih banyak, merekam lebih sering, dan membagikan lebih luas.

Di antara dua arus itu, pilihan tetap ada pada kita. Apakah berbuka untuk cukup, atau berbuka untuk terlihat? Mungkin di sanalah makna takjil hari ini sedang diuji, bukan pada rasa manisnya, melainkan pada kesadaran kita saat menikmatinya. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ramadan #konten #pasar takjil #berburu takjil #puasa #takjil #ramadhan #media sosial