Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Simalakama MBG

Muhammad Suaeb • Minggu, 8 Maret 2026 | 09:00 WIB

Mundzar Fahman (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)
Mundzar Fahman (ISTIMEWA FOR RDR.BJN)

 

Oleh:
Munzdar Fahman
Mantan Wartawan Jawa Pos, Tinggal di Bojonegoro

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengundang kontroversi di masyarakat. Satu sisi, pemerintah membanggakan program itu. Tetapi, sebagian publik mengkritik berbagai sisi negatifnya.

MBG dimulai Januari 2025. Kini, diibaratkan seperti makan buah simalakama. Jika dilanjutkan tanpa perbaikan, sangat mungkin kian banyak yang jadi korban. Begitupun sebaliknya. Jika dihentikan begitu saja, tentu juga banyak pihak yang merasa dirugikan.

Publik tahu, MBG adalah salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Tahun ini (2026) dianggarkan Rp 223,5 Triliun. Triliun lho ya... Bukan miliar. Jumlah siswa yang sudah menikmati MBG hampir 50 juta anak yang tersebar di hampir 300 ribu sekolah di negeri ini.

Sejak program MBG dilaksanakan, hampir tiap hari muncul kritik di media. Terutama, di media sosial (medsos). Kritiknya, banyak siswa keracunan setelah menikmati menu MBG. Sudah puluhan ribu siswa keracunan setelah menikmati MBG. Presiden juga mengakuinya. Tetapi, katanya, persentase korban MBG itu sangat kecil. Hanya, 0,0006 persen. Presiden pun sudah meminta stafnya untuk mengumpulkan video-video tentang siswa korban MBG.

Kritik lainnya, banyak paket MBG yang tidak memenuhi syarat untuk pemenuhan gizi anak. Sering muncul video, beberapa kepala sekolah sampai berani menolak kiriman paket MBG karena dianggapnya sangat tidak layak.  Ada kepala sekolah menilai, harga paketan MBG itu kurang dari Rp 5.000 per paket.

Kritik sejumlah pengamat lebih keras lagi. Menurut mereka, anggaran MBG yang triliunan itu diambilkan dari anggaran pendidikan. Tetapi, ironisnya, justru dipakai menggaji petugas pelayanan MBG, dengan nilai fantastis dibanding dengan gaji guru honorer. Guru yang sudah bekerja bertahun-tahun honornya hanya sekitar Rp 300 ribuan per bulan. Tetapi, petugas SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang baru bekerja beberapa bulan digaji Rp 3 juta per bulan. Bahkan, konon, akan diangkat menjadi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Semacam ASN/PNS.

Sekarang, pertanyaannya, apakah program MBG akan terus dilanjutkan dengan berbagai permasalahannya? Ataukah, dihentikan sementara waktu untuk dilakukan perbaikan seperlunya? Sesuatu yang dilematis.

Menurut saya, jika MBG distop, orang-orang yang selama ini mendapatkan manfaat program MBG, mungkin mereka kecewa. Mereka merasa kehilangan. Misal, belasan ribu relawan MBG, ribuan pemasok bahan baku MBG, dan ribuan pekerja yang menyiapkan paketan MBG setiap hari.

Jika mereka tidak berpikir lebih jauh tentang sisi negatif MBG, mereka akan kecewa jika MBG dihentikan. Termasuk, puluhan juta siswa. Sejak ada MBG, mereka tiap hari mendapatkan paketan secara gratis. Meski, mungkin, paketan itu tidak memuaskan mereka.

Berbeda lagi dengan mereka yang berpikir tentang duit negara. Mereka mungkin lebih suka jika program MBG dihentikan. Alasannya, anggaran MBG sangat besar, bisa mengganggu APBN, sedangkan hasilnya masih patut dipertanyakan. Mereka meragukan bahwa paketan MBG dengan kualitas seperti yang terjadi selama ini bisa meningkatkan gizi siswa.

Menurut saya, jika program MBG dilanjutkan, sedikitnya ada dua hal yang harus diperhatikan secara lebih serius. Pertama, kualitas pengolahan masakan untuk  MBG. Kedua, kualitas isi paketan, misalnya, susu dan buah. Istilahe Wong Jowo: Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Selama ini, hampir tidak ada keluhan soal keterlambatan pengiriman paket MBG kepada sekolah/siswa. Yang ada masalah adalah kualitas pengolahan makanan yang berpotensi menjadi penyebab keracunan bagi sejumlah siswa yang mengkonsumsinya.

Selain itu, yang sering menjadi masalah adalah kualitas isi paketan MBG. Dalam banyak video, beberapa kasus diperlihatkan, isi paketan itu jauh di bawah standar. Sehingga, banyak yang menyimpulkan bahwa paketan MBG pasti tidak mampu meningkatkan pemenuhan gizi siswa. Paketan MBG tidak akan bisa mendongkrak IQ siswa sebagaimana yang diharapkan.  Padahal, sering digembar-gemborkan bahwa tujuan MBG adalah untuk dapat meningkatkan kecerdasan siswa untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Masalah-masalah yang selama ini muncul dalam program MBG, tentu menjadi tantangan bagi Presiden Prabowo Subianto dan jajarannya. Terutama, dalam hal ini, adalah BGN (Badan Gizi Nasional). Mengingat, MBG merupakan program unggulan bagi Prabowo dalam Pilpres 2024, maka hendaknya program ini betul-betul sukses. Jika MBG sukses, tentu akan mendongkrak popularitas Prabowo. Tetapi, jika program MBG tidak mulus dan banyak aib, tentu akan berdampak pada citra pemilik program di kemudian hari.

Apalagi, meski Pilpres 2029 masih tiga tahun lagi. Tetapi, sekarang mulai menghangat. Konon, di Jabar mulai dibuka pendaftaran calon laskar Gibran. Tentu masih teka-teki, jika Prabowo nanti maju lagi dalam Pilpres 2029, apakah masih satu paket lagi dengan Gibran? Ataukah Gibran justru akan maju sebagai penantang Prabowo?

Tentu, masih sulit diprediksi. Jagat politik Indonesia sulit diprediksi. Kata orang, sore kedele, pagi tempe....

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Pengolahan #medsos #Paket MBG #badan gizi nasional #pekerjaan #anak #prabowo subianto #BGN #Makan Bergizi Gratis #SPPG #Siswa #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi #keracunan #media sosial #pppk #Mbg #buah simalakama #program mbg