Oleh:
Susanto
Kepala SMAN 1 Sumberrejo Bojonegoro
“Hai orang-orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.
(Surat Al-Baqarah 183)
Tak terasa Ramadan telah berjalan beberapa hari. Semua umat muslim berkewajiban menjalankan perintah Allah SWT. Berbagai amalan dilaksanakan mulai sholat tarawih, tadarus, dan kegiatan ibadah lainnya. Tentunya semua itu bertujuan meningkatkan rasa keimanan kepada Allah SWT.
Permasalahan dan sekaligus pertanyaannya apakah dengan puasa Ramadan dapat menjadikan moralitas kita lebih baik? Benarkah puasa dapat mencegah perbuatan tercela dan tersesat? Harus bagaimana umat Islam dalam bersikap dengan datangnya bulan suci ini? Dan berdampak pada karakter generasi milenilal?
Langkah konkrit terkait Ramadan Pendidikan Berdampak (RPB)
Langkah Konkret Pasca-Ramadan (Integrasi Karakter) untuk memastikan nilai Ramadan tidak menguap, sekolah dan siswa perlu mengambil langkah-langkah strategis berikut: pertama, Transformasi "Zakat" Menjadi "Filantropi Sosial Berkelanjutan" Di sekolah, biasanya ada pengumpulan zakat fitrah. Langkah Konkret: Sekolah (OSIS/Rohis) membentuk komunitas "Jumat Berkah" permanen. Siswa SMA/SMK diajak menyisihkan uang saku setiap minggu untuk membantu biaya sekolah rekan sejawat yang kurang mampu atau dialokasikan untuk alat praktik SMK bagi siswa yatim.Dampak Karakter: Menumbuhkan empati sosial yang tidak musiman.
Kedua, Digital Detox & Literasi Produktif, Selama Ramadan, banyak siswa yang beralih ke konten religi atau mengurangi gaming. Langkah Konkret: Guru di Jatim bisa mengintegrasikan tugas berbasis digital yang positif. Misalnya, pembuatan konten kreatif di TikTok/Instagram yang berisi "Weekly Reflection" tentang nilai kejujuran atau tanggung jawab di sekolah. Dampak Karakter: Mengubah perilaku konsumtif media sosial menjadi produktif dan edukatif.
Ketiga, Implementasi "Adab Sebelum Ilmu" dalam KBM. Hal ini agar di Jawa Timur memiliki tradisi pesantren yang kuat yang sangat menghargai guru. Langkah Konkret: Budaya salaman (bersalaman) dan tutur kata ngoko alus/kromo (bagi yang bisa) ditingkatkan kembali sebagai bentuk penghormatan. Di SMK, ini bisa diwujudkan dalam bentuk kepatuhan penuh terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) di bengkel/lab sebagai bentuk "kejujuran profesional". Dampak Karakter: Membangun etika kerja (work ethic) yang sangat dibutuhkan di dunia kerja pasca-lulus.
Pesan moral bagi Generasi Milenial
Datangnya puasa Ramadan 1447 H ada beberapa hal yang patut direnungkan khususnya bagi generasi milenial khususnya pelajar SMA/SMK. Pertama, menjauhkan diri dari perbuatan yang mengarah pada maksiat atau zina sekalipun. Maksudnya umat Islam agar senantiasa memerangi perilaku dan sikap yang membuat masyarakat untuk selalu ke jalan Allah bukan perilaku yang merugikan masyarakat semisal judi, korupsi atau perbuatan zina. Logika bahasanya agar umat muslim bisa tenang dalam beribadah. Dan yang terpenting juga agar kita senantiasa membentengi keluarga kita dari perbuatan maksiat dan juga yang merugikan diri sendiri dan juga masyarakat.
Kedua, puasa harus bisa diterjemahkan dalam perilaku yang santun, beradab, jujur, amanah dan tidak merugikan orang banyak. Jujur saja kalau saya cermati kondisi sekarang ini di media cetak maupun elektronik budaya tidak jujur semacam korupsi kian nyaris sempurna. Sebagai gambaran mulai menyalakan sampai akan mematikan TV berita masalah ketidakjujuran masih sangat dominan. Saling ejek dan perang urat syaraf para politisi semakin menambah lengkapnya kecarutmarutan bangsa. Dalam konteks ini generadi muda atau pelajar untuk tetap komitmen melaksanakan 7KAIH baik dirumah maupun sekolah.
Ketiga, sangatlah relevan sekali bila puasa Ramadan kali ini sebagai media mawas diri untuk menatap hari esok yang lebih baik dan bermartabat. Dengan cara tetap menjaga hati dan kerukunan umat. Sebab bagaimanapun juga esensi puasa itu sendiri adalah untuk menjaga hati, perasaan, ucapan, dan juga perilaku kita agar selalu pada spirit taqwa kepada Allah SWT.
Nah, tentunya puasa 1447 H ini dapat dijadikan tolak ukur dan parameter untuk selalu mengevaluasi perilaku-perilaku yang tidak bermanfaat pada hari-hari yang telah kita lalui dan juga menata kembali komitmen diri sendiri dan juga kepada orang lain, masyarakat, bangsa dan negara. Keberhasilan pendidikan Ramadan di SMA/SMK Jawa Timur tidak diukur dari seberapa khusyuk siswa saat salat Tarawih di sekolah, melainkan dari seberapa jujur mereka saat ujian dan seberapa gigih mereka saat praktik di bengkel setelah bulan suci berakhir. Karakter adalah otot; ia harus terus dilatih agar tidak menyusut. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana