Oleh:
A. Mahbub Djunaidi
Kepala Bapperida Blora
FESTIVAL Budaya Kraton Djipang yang dihelat dalam rangka haul Pangeran Aryo Penangsang tidak lepas dari lanskap budaya kawasan yang lebih luas. Aryo Penangsang bukan sekadar milik Blora, melainkan figur sejarah yang pengaruhnya menembus batas administratif masa kini, merajut keterkaitan budaya antara Blora dengan perbatasan dengan Jawa Timur seperti Kabupaten Bojonegoro, Ngawi, dan Tuban.
Dalam konteks inilah, Festival Budaya Kraton Djipang memiliki arti strategis: merawat ingatan sejarah bersama sebagai dasar kebangkitan moral dan budaya bangsa.
Secara historis, pusat kekuasaan Djipang Panolan berada di kawasan perlintasan penting antara budaya pesisir utara Jawa dan pedalaman Mataraman. Blora, Bojonegoro, Ngawi, dan Tuban terhubung oleh jalur sungai, perdagangan, dan mobilitas politik.
Bengawan Solo menjadi nadi peradaban yang memungkinkan pertukaran gagasan, nilai, serta pengaruh kekuasaan. Dalam jejaring itulah Aryo Penangsang tampil sebagai sosok sentral, tidak hanya sebagai pemimpin Djipang, tetapi sebagai figur politik dan budaya yang diperhitungkan di kawasan barat timur Jawa.
Pengaruh Aryo Penangsang dalam pemerintahan dan budaya kawasan tercermin dari kuatnya narasi Djipang di wilayah Bojonegoro dan Ngawi, serta keterhubungan dengan tradisi pesisir Tuban.
Nilai kepemimpinan, keberanian, dan keteguhan prinsip yang melekat pada sosok Aryo Penangsang menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat lintas daerah. Inilah bukti bahwa sejarah tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu dibentuk oleh relasi antardaerah dan antarkomunitas.
Festival Budaya Kraton Djipang dengan tema “Meneladani Kepahlawanan dan Keteguhan Eyang Aryo Penangsang sebagai Inspirasi Kebangkitan Moral dan Budaya Bangsa” menjadi momentum untuk membaca ulang sejarah tersebut secara utuh dan berimbang.
Melalui kirab budaya, pentas seni, doa haul, dan dialog kebudayaan, festival ini menegaskan bahwa Djipang adalah simpul penting peradaban kawasan, bukan pinggiran sejarah.
Bagi masyarakat Bojonegoro dan daerah sekitar, festival ini adalah ajakan untuk melihat kembali akar budaya yang sama. Seni pertunjukan, tradisi lisan, hingga nilai kepemimpinan lokal menunjukkan irisan yang kuat.
Kesadaran akan kesamaan akar budaya inilah yang relevan dihadirkan di tengah tantangan kebangsaan hari ini, ketika kohesi sosial sering diuji oleh sekat-sekat identitas sempit.
Meneladani Aryo Penangsang berarti menumbuhkan keberanian moral dalam kepemimpinan dan kehidupan publik. Keteguhannya pada prinsip memberi pelajaran bahwa kekuasaan harus berpijak pada nilai, bukan semata kepentingan.
Nilai ini penting tidak hanya bagi Blora, tetapi juga bagi Bojonegoro, Ngawi, dan Tuban sebagai wilayah yang tumbuh dengan tradisi kepemimpinan dan budaya yang kuat.
Dari perspektif pembangunan daerah, penguatan jejaring budaya lintas kabupaten membuka peluang kolaborasi. Festival budaya bukan hanya agenda lokal, melainkan simpul kerja sama antardaerah dalam pariwisata sejarah, ekonomi kreatif, hingga pendidikan budaya. Sejarah bersama dapat menjadi modal sosial untuk membangun masa depan bersama.
Sebagai Kepala Bapperida Blora, saya meyakini bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus berpijak pada kekuatan budaya dan sejarah kawasan. Festival Budaya Kraton Djipang adalah ikhtiar merawat memori kolektif lintas wilayah, sekaligus menanamkan nilai kepahlawanan dan keteguhan moral bagi generasi kini dan mendatang.
Dari Djipang, kita belajar bahwa kebangkitan moral dan budaya bangsa berawal dari kesadaran akan sejarah yang menghubungkan kita, bukan yang memisahkan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana