Oleh:
Muhammad Abadi
Freelancer perantau dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur
Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa kabupaten Bojonegoro adalah salah satu kabupaten penghasil migas terbesar di Indonesia. Namun, demikian eksplorasi migas sebagai kekayaan alam itu tidak serta merta memberikan dampak signifikan dalam sosial dan ekonomi semua penduduknya. Artinya, simbol Bojonegoro sebagai kota migas ternyata masih saja jauh panggang dari api. Adalah masalah kemiskinan di Bojonegoro yang masih sangat tinggi dirasakan oleh hampir semua masyarakatnya. Memang, kemiskinan bukan saja masalah bagi Bojonegoro saja, melainkan sudah menjadi masalah nasional di Indonesia, bahkan di seluruh penjuru dunia di era digital hari ini dan akan datang.
Pro dan kontra antara si kaya dan si miskin sudah banyak mewarnai di jagat maya media sosial sehari-hari yang selalu tetap kita baca dan lihat di layar ponsel kita masing-masing. Perut yang lapar dan tenggorokan yang haus setiap hari merupakan sebuah kebutuhan semua umat manusia di dunia di muka bumi ini. Maka, banyak orang yang berlomba-lomba memperkaya diri sendiri dengan berusaha sekuat tenaga setiap hari, bahkan mereka sudah tidak bisa menahan diri dari rezeki yang halal dan haram sekalipun. Yang dilihat mereka semuanya adalah penampilan dan penampilan dari segi luarnya saja, bukan dilihat dari isi otak pikiran dan hatinya. Pokoknya penampilan!
Kaya dan miskin sudah tidak bisa dibedakan lagi hari ini dan akan datang. Memang, hari ini dan akan datang orang kaya dan miskin adalah sangat relatif. Maka, jika kita mengetahui bahwa Yang Maha Kaya hanyalah Allah SWT, bukanlah manusia. Orang kaya bisa saja jatuh miskin dan orang yang terlihat miskin ternyata adalah orang kaya. Memang, Islam tidak melarang orang menjadi kaya, namun yang dilarang dalam Islam adalah orang yang rakus, tamak dan serakah dan sangat pelit, kikir dan medit. Inilah sebuah fenomena yang ada di masyarakat Indonesia pada umumnya dan di masyarakat Bojonegoro pada khususnya. Bagaimana kaya dan miskin sama saja. Tidak ada kepedulian terhadap orang kaya dan miskin.
Berbagi kepada sesama sangatlah diajarkan dalam Islam dan tidak harus menunggu menjadi orang kaya karena berbagi yang paling utama kata Rasulullah Nabi Muhammad SAW adalah ketika kita sangat sedikit memiliki sesuatu atau ketika kita merasa mengalami kesulitan dalam ekonomi. Itulah yang paling afdhol dalam Islam. Ketika kita kaya memiliki harta melimpah dan kita berbagi kepada sesama maka hal itu adalah sangat wajar sekali atau sudah tidak istimewa lagi. Namun, ketika kita miskin dan berbagi kepada sesama maka hal itu sangatlah istimewa di hadapan Allah SWT. Maka, marilah kita berlomba lomba mencari rezeki yang halal toyiban dan marilah kita berlomba lomba berbagi kepada sesama.
Pemerataan ekonomi hari ini sangatlah timpang tindih. Yang kaya semakin banyak dan yang miskin pun bertambah banyak. Tidak adanya pemerataan ekonomi dari pusat hingga daerah merupakan tanggung jawab semua elemen anak bangsa. Rasa berbagi seharusnya merupakan panggilan jiwa kita bersama. Sebuah panggilan jiwa yang murni, ikhlas dan tulus hanya berharap balasan pahala dari Allah SWT. Maka, selamatkan kemiskinan di Indonesia pada umumnya dan selamatkan kemiskinan di Bojonegoro pada khususnya. Kita berdoa kepada Allah SWT agar semua warga NKRI di manapun berada, diberikan kecukupan harta dan diberikan cahaya berbagi kepada sesama. Amien ya rabbal alamien.
Dan, semoga Allah SWT mencatat semua amal perbuatan kebaikan itu di sisi-Nya sehingga menjadikan timbangannya berat daripada perbuatan dosa keburukan dan kemunkaran kita dalam menggapai syafaat dari Rasulullah Nabi Muhammad SAW di alam ;padang mahsyar kelak di akhirat. Semoga! Salam Selamatkan Kemiskinan! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana