Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Memburu Emas

M. Nurkhozim • Minggu, 1 Februari 2026 - 15:46 WIB
Ilustrasi emas batangan.
Ilustrasi emas batangan.

Emas tengah menjadi primadona. Harganya terus melambung. Terakhir, harga emas sempat mencapai Rp3,1 juta per gram, lalu kembali turun ke kisaran Rp2,8 juta per gram.

Bagi orang kaya, emas merupakan pelindung kekayaan. Mereka yang memiliki uang puluhan hingga ratusan miliar rupiah tentu khawatir jika menyimpannya hanya dalam bentuk uang kertas rupiah.

Kelompok kaya tersebut menyimpan kekayaannya dalam berbagai instrumen, seperti dolar Amerika Serikat, saham perusahaan, surat berharga negara, deposito, bitcoin, dan emas.

Setiap instrumen penyimpanan kekayaan memiliki risiko masing-masing. Emas, meskipun berisiko mengalami penurunan harga, relatif tidak ekstrem. Bahkan, dalam kondisi dunia yang kacau, emas justru tetap berjaya dan harganya bisa semakin tinggi.

Perang merupakan salah satu kondisi yang membuat situasi dunia semakin tidak stabil. Mata uang, termasuk dolar Amerika Serikat, dapat tertekan akibat perang. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi emas.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika emas semakin diburu di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu, termasuk di ambang konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Kali ini, pemburu emas bukan hanya individu, tetapi juga bank sentral di sejumlah negara. Bank Sentral Tiongkok, misalnya, cukup aktif membeli emas dalam beberapa tahun terakhir. Hal serupa juga dilakukan oleh The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat. Cadangan emas batangan di kedua negara tersebut mencapai ribuan ton.

Sebelum diberlakukannya sistem uang fiat pada 1971, dolar Amerika Serikat didukung oleh emas. Setiap dolar yang dicetak memiliki jaminan emas dengan nilai tertentu. Artinya, dolar dapat ditukarkan dengan emas di bank sentral.

Sistem tersebut dikenal sebagai gold standard. Namun, Amerika Serikat menghentikan penerapan gold standard pada 1971. Sejak saat itu, dolar dicetak tanpa dukungan emas.

Mengapa Amerika Serikat menghentikan gold standard?

Pemerintah Amerika Serikat khawatir banyak pihak akan menukarkan dolar mereka dengan emas. Pasalnya, jumlah dolar yang beredar saat itu telah jauh melebihi cadangan emas yang dimiliki negara tersebut.

Kepercayaan terhadap dolar Amerika Serikat pun perlahan mulai melemah. Sejumlah negara mulai mengurangi penggunaan dolar karena dinilai tidak berbeda dengan mata uang negara lain.

Namun, Amerika Serikat tidak kehilangan akal. Setelah tidak lagi menggunakan gold standard, mereka menemukan ide baru yang sangat strategis. Amerika Serikat menjalin perjanjian dengan Arab Saudi yang dikenal sebagai petrodolar. Perjanjian ini mengatur bahwa pembelian minyak Arab Saudi harus dilakukan menggunakan dolar Amerika Serikat.

Pada masa itu, Arab Saudi merupakan produsen minyak bumi terbesar di dunia. Banyak negara bergantung pada pasokan minyak dari Saudi. Pemerintah Saudi tidak melayani pembelian minyak jika tidak menggunakan dolar Amerika Serikat, bahkan tidak menerima pembayaran dengan mata uang riyal.

Sejak saat itu, negara-negara pengimpor minyak bumi ramai-ramai memburu dolar. Amerika Serikat pun kembali berjaya. Uang kertas yang mereka cetak menjadi sangat diminati.

Saat ini, dolar Amerika Serikat masih menjadi cadangan devisa utama di banyak negara, sementara emas menempati posisi kedua.

Tinggal menunggu waktu. Ketika dolar Amerika Serikat mulai ditinggalkan, cadangan devisa negara-negara di dunia akan beralih ke emas. Pada saat itulah harga emas akan melonjak sangat tinggi. Kita kini telah memasuki era tersebut. (NURKOZIM)

 

Editor : M. Nurkhozim
#emas 1 kilogram #bank sentral amerika serikat #dolar as