Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Eksistensi Masyarakat Awam di Bojonegoro di Era Digital

Muhammad Suaeb • Minggu, 11 Januari 2026 | 08:30 WIB
BISNIS KULINER: Pebisnis kuliner di Bojonegoro mengoptimalkan promo via digital.
BISNIS KULINER: Pebisnis kuliner di Bojonegoro mengoptimalkan promo via digital.

 

Oleh:
Muhammad Abadi
Penulis menetap di Desa Kauman, Bojonegoro Kota

 

SEBUAH eksistensi atau keberadaan mayoritas di masyarakat awam di Bojonegoro di era digital saat ini tentang adanya kekurangsadaran di dalam masyarakat awam di dalam menjalani hidup dan kehidupan sehari-hari di tengah terpaan badai penjajahan teknologi dari negara-negara maju kapitalistik yang kerap kita amati dan lihat.

Di dalam masyarakat awam di Bojonegoro kita melihat banyak nilai yang sudah tergerus oleh badai era digital yang kerap kita rasakan sehari-hari. Badai era digital yang tidak mengenal kata ampun itu telah banyak menimbulkan ketidaksadaran dari masyarakat awam di Bojonegoro. Sadar atau tidak masyarakat awam di Bojonegoro yang kita lihat sehari-hari di mana banyak dari mereka telah meninggalkan pola hidup bersahaja dan sediakala ketika arus badai era digital telah menjadi makanan setiap hari.

Pola hidup sediakala dan bersahaja itu hampir tidak bisa kita lihat lagi di masyarakat awam di Bojonegoro saat ini. Alih-alih menyalahkan keadaan dan kondisi saat ini bagaimana benteng pertahanan pola pikir masyarakat awam di Bojonegoro sudah tertembus oleh lingkaran global kapitalistik di mana setiap keadaan ekonomi kita mau tidak mau juga telah tergerus oleh ancaman di era digital saat ini.

Sikap dan sifat iri hati dan dengki yang sangat terasa di masyarakat awam di Bojonegoro kerap kali menjadikan budaya kultural individu yang sangat nampak di dalam kenyataan sehari-hari. Kaya dan miskin sudah menjadikan mereka sebagai sikap dan sifat dalam kehidupan di masyarakat awam di Bojonegoro. Inilah yang nyata dan terasa kita lihat hari ini dan akan datang.

Eksistensi masyarakat awam di Bojonegoro merupakan sebuah fenomena baru di mana pola hidup sediakala dan bersahaja merupakan endapan lama dalam pola pikir kita sehari-hari. Hal ini mungkin disebabkan oleh banyak faktor terutama pendidikan dan proses berpikir tentang minimnya budaya baca-tulis yang belum merata di dalam masyarakat awam di Bojonegoro.

Tingkat melek penguasaan bahasa dan budaya instan di masyarakat awam di Bojonegoro merupakan sekian penyebab hal ini. Penjajahan politik dan ekonomi dari teknologi dari negara-negara maju kapitalistik di era digital saat ini merupakan sebab-akibat yang merata di seluruh dunia. Masyarakat awam di Bojonegoro ini juga bisa kita rasakan di seantero daerah lainnya di wilayah NKRI selama ini. Dari pusat hingga daerah masyarakat awam di Indonesia pada umumnya dan di masyarakat awam di Bojonegoro pada khususnya.

Jika kita berkaca di era kepemimpinan Orde Baru yang sudah tidak bisa kita kembalikan lagi di era digital saat ini, maka semua warga NKRI hari ini merupakan korban dari penjajahan di setiap rezim yang berkuasa. Siapapun pemimpinnya maka semua warga NKRI adalah korbannya. Korban dari semua kebijakan dan wewenang negara dan pemerintahan selama lima tahun sekali itu. Pertanyaannya adalah apakah semua ini sudah merupakan sebuah takdir, kehendak dan kuasa-Nya Allah SWT?

Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Jika jawabannya iya maka takdir, kehendak dan kuasa Allah SWT maka waktu yang ada di dunia di muka bumi ini tidak akan pernah berhenti berputar dan tetap berganti hari esok dan seterusnya. Jika jawabannya tidak maka siapakah lagi yang akan kita harapkan dari semua ini selain diri kita sendiri yang memulai sebelum mereka semua orang yang akan merubah kondisi dan keadaan kita saat ini dan akan datang?

Memang semua tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi, apakah kita akan tetap berpangku tangan melihat dan merasakan apa yang sudah dan belum terjadi selama ini? Inilah sebuah karakter atau character building dari masyarakat awam yang ada di Bojonegoro selama ini. Mengapa disebut sebagai masyarakat awam di Bojongoro? Karena minimnya kesadaran diri dari bahasa yang diucapkan oleh mereka semuanya tentang berbagai masalah yang selama ini telah terjadi di depan layar ponsel kita masing-masing.

Sebuah masyarakat awam yang dibawa oleh waktu yang abadi yang terus bergulir tanpa ada rasa yang terucap oleh kata dan tindakan nyata alias nafsi-nafsi atau sangat individualistik itu. Waktu terbuang percuma karena tidak bisa berbuat apa-apa hingga ajal menjemput mereka semuanya tanpa ada rasa bersalah dan berdosa di benak mereka semuanya di masyarakat awam di Bojonegoro.

Maka, mau tidak mau apa yang ada hari ini akan menyebabkan “ada” di masa akan datang. Kita hanya bisa berharap dan berdoa kepada Allah SWT agar semua dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat selama ini diampuni oleh Allah SWT karena semua makhluk-Nya hanya bisa bergantung kepada Allah SWT.

Maka, quo vadis ( mau kemanakah ) masyarakat awam di Bojonegoro? Semoga! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#teknologi #politik #Ekonomi #bojonegoro #pola pikir #masyarakat #awam #era digital #digital