Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Menakar Program Pembelajaran Digital

Muhammad Suaeb • Minggu, 30 November 2025 - 15:10 WIB

MAKSIMALKAN KBM: Siswa SRMA 18 Blora bakal mendapatkan unit laptop untuk mendukung pembelajaran.
MAKSIMALKAN KBM: Siswa SRMA 18 Blora bakal mendapatkan unit laptop untuk mendukung pembelajaran.

Oleh: Nono Warnono*

TINDAK lanjut janji Presiden RI pada Hari Guru Nasional 2024 dan Implementasi Inpres No.7/2025 serta Perpres No.79/2025 meniscayakan adanya digitalisasi pembelajaran. Sebagai ikhtiar transpormasi komprehensip pemerintah dalam menancapkan revolusi pendidikan.

Program digitalisasi pemelajaran telah ditandai dengan pembagian interactive flat panel (IFP) kurang lebih 172 ribu unit panel interaktif di berbagai lembaga sekolah di seluruh Indonesia.

Asa dari program ini adalah peningkatan mutu pendidikan. Dengan perangkat canggih semacam smartboard, pembelajaran lebih gembira, lebih semangat, tidak membosankan, dan peserta didik akan lebih aktif. (Jawa Pos, 18 Nopember 2025)

Dengan penguasaan tehnologi canggih, diharapkan dapat menjadi lompatan besar dan akselerasi bidang pendidikan sehingga menghasilkan tenaga ahli nasional. Upaya strategis tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menumbuhkembangkan pendidikan menuju era baru.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah dibalik euforia tersebut, apa yang ingin kita hadirkan di balik layar digital.

Apakah digitalisasi dimaksud hendak membangun pendidikan yang berakar pada budaya nasional dan kearifan lokal (lckal genius). Apa hanya sebatas piranti kerasnya, bukan substansi yang ingin mewujudkan sumber daya manusia (human resources) yang berkarakter.

Karena dalam beberapa perspektif pembelajaran, kecanggihan piranti teknologi dalam digitaliasai tak sepenuhnya dapat mewakili signifikansi peran pendidik (guru).

Digitalisasi memang sebuah keniscayaan, karena akan sangat bermanfaat dalam dinamika kehidupan yang begitu cepat. Namun sejumlah studi internasional mengingatkan, bahwa tehnologi sering kehilangan makna ketika tidak berpijak pada budaya lokal.

Mengutip apa yang disebut oleh Gay dan Banks (2021), bahwa pembelajaran digital hanya berhasil manakala mengintegrasikan identitas lokal semacam nilai, bahasa, dan tradisi ke dalam materi pembelajaran.

Pembelajaran digital yang mengintegrasikan dengan budaya lokal dapat meningkatkan rasa memiliki dan motivasi siswa secara signifikan.

Urgen bagi kita memaknai digitalisasi pendidikan secara mendalam. Betapa digitalisasi bukan sekedar mengganti kapur dengan stylus, atau mengganti papan tulis dengan layar sentuh.

Digitalisasi lebih kepada bagaimana menghadirkan jiwa (budaya lokal) pendidikan dalam wujud kekinian dalam membangun karakter peserta didik.

Dalam konteks demikian, peran guru tidak hanya pengguna tehnologi, melainkan kurator konten. Merujuk meta-analisis Hennesy (2024), bahwa smartboard akan membawa manfaat maksimal manakala guru mampu mengintegrasikan konteks lokal dalam sebuah pembelajaran.

Digitalisasi yang dicanangkan pada 17 Nopember 2025 adalah momentum titik penting dalam sejarah pendidikan Indonesia. Namun sejarah tidak ditentukan oleh kecanggihan piranti teknologi an sich, namun lebih kepada bagaimana internalisasi nilai ke dalam piranti tersebut.

Kembali kepada tujuan besar penerapan program digitalisasi pembelajaran di sekolah, tidak sebatas penyediaan perangkat keras. Melainkan manuver strategis dalam merevolusi proses pembelajaran, memupuk kemampuan berfikir kritis dan kreatif, pun membekali peserta didik dengan skill yang relevan dengan era digital.

Untuk merealisasikannya dibutuhkan ikhtiar pengembangan konten nan relevan, upgrade melalui pelatihan bagi guru, dan penyiapan infrastruktur yang memadai.

Program ambisius tersebut sebagai lompatan bagus namun harus mempertimbangkan beberapa kendala utama, yakni kesenjangan digital.

Perangkat internet yang handal adalah keniscayaan. Tanpa koneksi memadai, piranti dengan kecanggihan teknologi digital hanya akan menjadi pajangan semata.

Kendala lain yang tidak kalah penting adalah keberadaan sumber daya manusia. Ketersediaan perangkat digital bisa efektif manakala didukung kompetensi pendidik. Skema pelatihan guru penting mengadopsi pedagogi digital melalui pendampingan profedional. Bukan pelatihan terfragmentasi yang tak optimal dalam mengintegrasikan teknologi dalam pemikiran kritis.

Digitalisasi pembelajaran harus dibarengi dengan pembangunan piranti-piranti lain, semisal substansi konten pembelajaran, SDM guru, pembangunan infrastruktur dan sebagainya. Digitalisasi pembelajaran sejatinya adalah tanggungjawab kolektif orang tua, guru, dan satuan pendidikan.

Dus, hanya dengan mengatasi kendala SDM dan infrastruktur secara simultan, digitalisasi pendidikan dapat menjadi katalisator transformasi pendidikan seperti yang dicita-citakan.

Akhirul kalam, jangan sampai program digitalisasi yang ambisius menjadikan isu pemerataan pendidikan terlupakan. Masih banyaknya persoalan kualitas bangunan sekolah, layanan sanitasi, kualitas profesionalisme guru yang masih banyak ketimpangan, harus tetap menjadi  perhatian serius pemerintah.

*Pegiat pendidikan, bahasa sastra, dan sosial budaya di Sanggar Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB).

 

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Guru #Pendidikan #belajar #mengajar #Siswa #pembelajaran #digital