Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Resolusi Digital Santri

Muhammad Suaeb • Minggu, 26 Oktober 2025 | 16:00 WIB
PONDOK PESANTREN: Seorang santri mengenakan setelan baju koko merah, sarung merah, dan peci hitam sedang berjalan keluar dari Pondok Pesantran Al Muhammad turut Kecamatan cepu.
PONDOK PESANTREN: Seorang santri mengenakan setelan baju koko merah, sarung merah, dan peci hitam sedang berjalan keluar dari Pondok Pesantran Al Muhammad turut Kecamatan cepu.

 

Oleh:
Choirul Anam
Ketua PAC GP Ansor Balen

 

PAGI di pesantren selalu dimulai dengan suara yang khas: lantunan ayat suci Alquran, disusul denting sendok di dapur, dan obrolan kecil di serambi. Tapi siapa sangka, di sela-sela kesederhanaan itu, kini ada santri yang sedang ngoding, ngulik kecerdasan buatan, atau mendesain aplikasi berbasis syariah. Dunia pesantren yang dulu identik dengan kitab kuning dan sorogan, kini bersentuhan dengan dunia digital dan algoritma.

Refleksi Hari Santri 2025 ini menarik jika kita bicara tentang “santri dalam algoritma digital”. Bukan hanya karena zaman menuntut adaptasi, tapi karena santri, dengan modal nalar keagamaannya, punya potensi besar untuk memberi arah etis dan moral pada dunia digital yang kian kompleks. Jika dulu resolusi jihad 1945 menjadi fondasi Indonesia merdeka, maka kini santri punya “resolusi digital” untuk mengawal Indonesia menuju peradaban dunia.

Santri dan Tradisi Berpikir Kritis

Sering kali orang memandang santri sebagai sosok yang hanya menghafal teks, padahal tradisi pesantren justru melatih nalar kritis. Dalam kitab Adab al-Bahts wa al-Munadzarah, misalnya, para santri diajari cara berdialog secara ilmiah dan menghormati pendapat berbeda. Tradisi bahtsul masail yang hidup di pesantren adalah bukti bahwa berpikir sistematis dan argumentatif bukan barang baru bagi santri.

Nah, jika algoritma adalah serangkaian logika yang diatur untuk menyelesaikan masalah, maka santri sebenarnya sudah akrab dengan “algoritma berpikir” jauh sebelum era digital. Mereka terbiasa mengurai masalah hukum Islam dari berbagai perspektif mazhab, menelusuri sebab-akibat, dan menyusun argumen secara terstruktur. Hanya saja, dulu medianya kertas dan kitab, kini berpindah ke layar laptop.

Dari Kitab Kuning ke Kode Digital

Bayangkan, seorang santri yang terbiasa membaca Fathul Mu’in kini membaca Python Documentation. Prinsipnya sama: memahami struktur, logika, dan konteks. Dunia digital tidak jauh dari disiplin berpikir yang selama ini tumbuh di pesantren.

Beberapa pesantren bahkan sudah melangkah jauh. Pondok Modern Darussalam Gontor, misalnya, sudah lama memperkenalkan literasi teknologi dalam kurikulumnya. Pondok Pesantren Sidogiri mengembangkan aplikasi keuangan syariah berbasis pesantren. Bahkan Nahdlatul Ulama melalui Lembaga Ta’lif wan Nasyr meluncurkan platform digital untuk kitab klasik. Ini menunjukkan bahwa santri tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tapi juga pencipta, pengembang, dan penjaga nilai di dalamnya.

Etika di Tengah Algoritma

Dunia digital sering disebut “dunia tanpa wajah”: Anonim, cepat, dan kadang tanpa tanggung jawab moral. Di sinilah peran santri menjadi relevan. Mereka membawa nilai akhlaq al-karimah ke ruang digital yang kering dari nurani. Ketika algoritma media sosial memicu polarisasi, hoaks, dan ujaran kebencian, santri bisa menjadi penjaga keseimbangan etika.

Dalam konteks ini, santri bukan sekadar “melek digital”, tapi “beradab digital”. Mereka bisa mempraktikkan fastabiqul khairat (berlomba dalam kebaikan) di media sosial, menciptakan konten yang mencerahkan, atau mengembangkan platform dakwah yang menyejukkan. Sebab dalam Islam, teknologi hanyalah alat; nilai moral manusialah yang menentukan ke arah mana ia digunakan.

Indonesia Merdeka, Dunia Beradab

Tema “mengawal Indonesia merdeka menuju peradaban dunia” bukan slogan kosong. Ia menegaskan peran santri dalam konteks global: bagaimana menjadi warga digital yang tidak hanya konsumtif, tapi kontributif. Gus Dur pernah berkata, “Santri itu universal.” Maksudnya, santri punya bekal nilai-nilai kemanusiaan yang bisa diterapkan di mana pun.

Maka, di era AI dan big data ini, santri bisa tampil sebagai etikus digital, teknokrat yang bermoral, dan inovator yang berakar pada nilai-nilai lokal. Mereka bisa menulis algoritma yang berpihak pada kemanusiaan, bukan hanya efisiensi. Mereka bisa memprogram aplikasi zakat dan sedekah digital yang adil dan transparan, atau menciptakan model AI yang meniru etika sosial Islam, bukan sekadar meniru perilaku manusia tanpa nilai.

Literasi Digital ala Santri

Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tapi memahami maknanya. Dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim, Imam Al-Zarnuji menekankan pentingnya niat, disiplin, dan adab dalam menuntut ilmu. Prinsip itu tetap relevan di era digital. Belajar coding tanpa adab sama saja seperti punya pisau tajam tanpa tahu cara menyimpannya.

Pesantren modern kini mulai mengembangkan laboratorium digital, pelatihan media kreatif, hingga santripreneur digital. Mereka menggabungkan semangat ikhlas lillah dengan inovasi. Dengan begitu, dakwah dan ekonomi umat bisa bergerak seiring: dari klik menjadi berkah.

Refleksi Hari Santri 2025

Hari Santri bukan hanya tentang pakaian sarung dan peci, melainkan tentang semangat membangun peradaban. Santri abad ke-21 harus mampu menguasai dua dunia: dunia teks dan dunia data. Mereka tidak boleh gagap terhadap teknologi, tetapi juga tidak boleh larut dalam arus digital tanpa kendali moral.

Ketika dunia sedang sibuk membicarakan kecerdasan buatan (AI), santri justru bisa menunjukkan kecerdasan hati. Di tengah dunia yang semakin otomatis, kehadiran santri menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati bukan hanya soal algoritma yang canggih, tapi juga tentang manusia yang beradab.

Dalam perjalanannya, santri selalu berada di titik keseimbangan antara langit dan bumi, antara teks suci dan realitas duniawi. Kini, mereka berdiri di antara kitab kuning dan kode biner. Dan mungkin, itulah simbol masa depan peradaban Indonesia: spiritualitas yang berpadu dengan digitalitas.

Hari Santri 2025 adalah momentum untuk menegaskan bahwa “santri dan algoritma” bukan dua kutub yang berseberangan, tapi dua energi yang saling menguatkan. Sebab di tangan santri yang berilmu dan beradab, teknologi tidak akan kehilangan arah. Indonesia pun siap melangkah menuju peradaban dunia—dengan nalar santri yang membumi dan cahaya digital yang menerangi. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pondok pesantren #ngoding #kecerdasan buatan #indonesia #teknologi #Hari Santri 2025 #alquran #Algoritma #Pesantren #peradaban dunia #Santri #hukum islam #pengembang #hari santri #ai #digital