Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Pesan untuk Pengemban Masa Depan

Muhammad Suaeb • Minggu, 5 Oktober 2025 | 16:00 WIB
Peranan Pancasila di Era Globalisasi
Peranan Pancasila di Era Globalisasi

 

Oleh:
Hilal Nur Fuadi
Kepala SMA Negeri 1 Kerek, Tuban

 

MENGAWALI Oktober ini, bangsa Indonesia memeringati beberapa peringatan hari besar nasional, di antaranya hari kesaktian Pancasila yang diperingati tanggal 1 Oktober dan hari batik nasional yang diperingati pada tanggal 2 Oktober 2025.

Dari peringatan dan perayaan hari besar nasional tersebut sejatinya tidak hanya sebatas seremonial untuk mengingat dan mengenang hal-hal penting bagi kehidupan bangsa, namun lebih dari pada itu terdapat pesan-pesan moral yang ditujukan untuk para generasi penerus bangsa yang kadang kurang disadari oleh generasi muda.

Pertama; peringatan hari kesaktian Pancasila. Jika menengok kembali perjalanan historis bangsa ini bahwa beberapa tahun silam pernah muncul ancaman terhadap Pancasila yang sudah ditetapkan menjadi dasar dan ideologi bangsa oleh para pendiri republik ini. Berkembangnya ideologi komunis di Indonesia sempat mengganggu dan mengancam keberadaan Pancasila sebagai pemersatu bangsa dan bahkan pada bulan September tahun 1965 pernah terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal dengan G30S PKI.

Akan tetapi berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan kesetiaan bangsa ini memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila, maka upaya untuk mengganti dan menggeser Pancasila sebagai ideologi bangsa dapat digagalkan dan semenjak itu pula, ideologi komunis dilarang keras dan diharamkan untik hidup dan berkembang di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Akan tetapi terdapat sebuah adagium yang menyatakan bahwa “ideology is never die”. Bahwa jiwa, semangat, dan ideologi itu tidak dapat dibunuh dan tidak akan pernah mati. Ungkapan tersebut sekaligus mengingatkan bangsa Indonesia agar senantiasa waspada terhadap bahaya laten komunis yang sewaktu-waktu dapat muncul dan berkembang serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Jika kita melihat fakta mengenai keunikan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, maka tercatat bahwa negara ini dengan jumlah pulau tidak kurang dari 17.380 pulau besar dan kecil, 1.300 suku bangsa, serta sekitar 718 bahasa daerah yang tumbuh dan berkembang di negara ini, dengan keragaman dan keunikan tersebut maka sejatinya bangsa ini memiliki potensi timbulnya konflik dan ancaman perpecahan yang begitu besar, namun faktanya hingga saat ini semua keragaman dan perbedaan yang ada tersebut justru semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua tidak lepas dari peran Pancasila yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara serta ideologi pemersatu bangsa.

Namun jika kita  kaitkan dengan perkembangan saat ini, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat maka sesungguhnya ancaman terhadap Pancasila terlihat semakin nyata. Bahkan ancaman tersebut bukan hanya datang dari luar, akan tetapi juga bisa berasal dari dalam negeri. Maraknya persebaran berita bohong atau hoaks yang berusaha memecah belah persatuan bangsa, ujaran kebencian, upaya untuk mengadu domba antar sesama elemen bangsa sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Belum lagi ancaman dan rongrongan yang berasal dari luar seperti ideologi transnasional (ekstremisme agama, komunisme, dan liberalisme-kapitalisme yang berlawanan dengan nilai Pancasila); dominasi budaya asing yang dapat menggerus nilai-nilai luhur bangsa; pengaruh propaganda dan spionase dari negara lain untuk melemahkan persatuan; serta ancaman militer seperti agresi yang mengancam kedaulatan negara juga menjadi hal yang harus senantiasa diwaspadai agar persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana yang dicita-citakan bersama dapat terwujud.

Kedua; peringatan hari batik nasional. Sehari setelah peringatan hari kesaktian Pancasila, bangsa Indonesia kembali memperingati salah satu hari besar nasional yaitu hari batik nasional. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa batik merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Bahkan pada sidang di Abu Dhabi pada tanggal 2 Oktober 2009 batik ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Oleh sebab itu, peringatan hari batik nasional bertujuan untuk mengingatkan kita semua terutama generasi muda untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan budaya bangsa. Selain itu, dalam peringatan hari batik nasional juga mengandung pesan untuk menjaga dan menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri setiap warga negara.

Berkaca dari pengalaman sejarah, di negara India pernah muncul ajaran atau seruan yang disebut dengan gerakan swadesi, yang mana ajaran ini menyerukan kepada seluruh masyarakat India agar membeli dan menggunakan produk dalam negerinya sendiri. Upaya ini dilakukan agar tercipta kemandirian secara ekonomi sekaligus melemahkan perekonomian Inggris saat itu sehingga dapat mempermudah serta mendukung upaya India untuk merdeka dari penjajahan Inggris saat itu. Selain itu penggunaan produk dalam negeri juga merupakan simbol kebanggaan terhadap negaranya dan ini jika terus dipupuk, maka akan berujung pada meningkatnya rasa nasionalisme. Senada dengan hal tersebut, peringatan hari batik nasional ini juga diharapkan menjadi momen bagi kita semua utamanya para generasi muda untuk bangga membeli dan menggunakan produk dalam negeri. Karena selain dapat meningkatkan perekonomian dalam negeri, menggunakan pakaian batik juga menjadi bukti bahwa kita bangga terhadap negara dan budaya kita sendiri.

Dari dua momen yang berurutan tersebut, seluruh bangsa Indonesia (khususnya para generasi muda) seharusnya dapat menangkap pesan bahwa seluruh bangsa Indonesia harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berdasarkan Pancasila. Selain itu para generasi muda juga harus senantiasa menjaga rasa nasionalisme dengan cara mencintai, menjaga, dan melestarikan warisan budaya nenek moyang sekaligus bangga terhadap budaya sendiri. Makna dan amanah yang terselip dalam momen peringatan hari kesaktian Pancasila dan hari batik nasional tersebut hendakya mampu membuka wawasan dan kesadaran para generasi muda akan pesan dan nilai-nilai penting yang terkandung didalamnya, sehingga upaya untuk memperingati momen tersebut bukan hanya sekedar seremonial belaka. Karena mau tidak mau, generasi muda saat ini adalah tumpuan utama dan pengemban amanah masa depan bangsa. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#propaganda #indonesia #Budaya #pancasila #ideologi #warisan budaya #pemuda #bangsa #Generasi Muda #Ekonomi #hari kesaktian pancasila #nilai pancasila #hari batik nasional #unesco